Gunung Parang Via Ferrata – Istirahat Rame-rame

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #jawabarat #westjava #bunsya #adrenalin #ngebolang #adventure #hiking #climbing #tracking #istirahat #ramerame #gaadalogarame #sohib #teman #friendzone #travel #jalan2 #indonesianature #alamindonesia

Saatnya istirahat dulu genks setelah pendakian 100 meter pertama. Mayan pegel paha buat orang yang ga pernah olah raga. Makanya, kalau doyan kegiatan-kegiatan outdoor gini kudu dirutinin olahraganya ya genks, biar pulang-pulang ga kayak nenek-nenek, jalannya tertatih-tatih.

Sebenernya kita bisa istirahat kapan aja selama kompak karena kan kalau 1 ngerem, yang bawah ikutan ga bergerak. Padahal kita ga tau, kalau masih ada yang on untuk lanjut. Atau kalau ga, kita menyamping sedikit, kasih jalan bagi yang masih mau lanjut. Bisalah menyamping dikit, biar orang lain lewat.

Istirahat itu saatnya kita atur nafas, minum, makan dan narsis-narsisan. Bungkus makanan yang udah dimakan masukin lagi ya genks ke tas/ ransel, jangan dibuang begitu aja. Sayangi alam kita dengan menjaga kebersihannya. Selebihnya foto-foto lah or ambil video. Pemandangannya ciamik bet dah pokoknya. Rugi kalau udah sampe atas, kita ga simpen kenangan di digital. Kenangan di otak sih udah pasti ya… apalagi kenangan mantan, uhuk…

Gunung Parang Via Ferrata – Penanjakan 100 Meter Pertama

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #bunsya #sunblock #hiking #climbing #tracking #refreshing #rappeling #adventure #ngetrip #ngebolang #indonesia

Tiba waktunya penanjakan. Rasanya kek kek gimana gitu… Biasa aja sih. Kek naik tangga aja, cuma tangganya kurus-kurus. Yang bikin ribet naik tangga di sini kita harus sangkut lepas sangkut lepas carabiner kanan kiri. Kanan ke sling, kiri ke ferrata. Kalo ga mau ribet harus sakti mandraguna. Jadi kalau jatuh ga nyangkutin karabiner ke sling atau ferrata, bisa langsung lompat mendarat mulus dengan kuda-kuda mantab di bumi.

Contohnya yang sakti, ya itu, si TL nya, Tour Leader, yang cowo. Dari atas ke bawah dan sebaliknya, udah ga nyangkutin karabiner, pake sprint lagi ckckckckckck… Udah ilmu tingkat tinggi ituh.

100 meter pertama, sensasinya biasa aja karena masih normal. Nah begitu nerusin setengah ke atas, mulai ada tantangan. Yang ukuran ferratanya ada yang imut-imut lah, yang jalurnya miring lah, jadi badan kita kudu rada menyamping dan tangan juga agak ga normal pergerakannya. Tapi, still ok lah, walau ngeri-ngeri sedap.

Karena habis hujan, ferrata cukup licin, jadi kudu hati-hati. Tapi, lama-lama kering karena kena AC, angin cepoi-cepoi, ferrata jadi manteb dipijaki.

So far, enak juga karena dibawa enak. Dan untungnya ga ada drama di group ini. Dan begitu sampai di 100 meter pertama, kita ngaso sebentar lalu balik badan. Waaahhh… super duper impressive pemandangannya kuy. Masya Allah… indes brenes… Hijau-hijau yang seger di bawah plus waduk Jatiluhur yang menghampar seluas mata memandang. Amejing deh pokoknya buat orang kota macam kita yang tiap hari mandangin hutan beton.

Kepo sama indahnya Purwakarta dan Jatiluhurnya? Langsung intip video 360-nya di bawah ini gaes…

Gunung Parang Via Ferrata – Orientasi

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #orientasi #bunsya #gunung #mount #climbing #hiking #webing #safety #nature #travel #metime #beautifulindonesia #jawabarat #westjava #pemandu #guide

Bagian ini cerita mengenai orientasi atau penjelasan atau briefing sebelum peserta naik ke atas. 2 carabiner yang diceritain di postingan sebelumnya digunakan 1 untuk mengkaitkan ke ferrata dan yang 1 nya dikaitkan di sling sebelah kanan. Sisanya kepercayaan dan keberanian diri aja untuk melangkah pasti menghadapi si gagah Parang.

Pas lagi group 1 naik, turunlah hujan dengan sangat besarnya disertain angin yang kencang. Otomatis, semua diam dan disuruh merapatkan tubuh ke dinding gunung andesit itu. Kita yang group 2 masih menunggu di bawah.

Tidak berapa lama, beberapa saling berteriak di atas. Dan ternyata ada yang minta turun karena tidak mau meneruskan perjalanan ke atas dan juga ada yang keram. Kebayang suasana agak mencekam di atas karena hujan dan angin yang kencang.

Karena peserta yang posisi di bawah tidak berani menyamping untuk memberikan jalan ke peserta yang mau turun, alhasil peserta posisi bawah ikut turun. Lalu kembali lagi naik ke atas karena anaknya masih ada di atas dan si om harus segera ke atas. Lumayan, rame juga kita pas si om turun, saling kasih semangat buat keduanya.

Setelah hujan redaan, group 1 kembali lanjut ke atas, maka kitapun baru bisa naik. Dan rasanya, ferrata itu licin kalau kena air hujan. So, hati-hati gaes…

Ini video 360 ya. Jadi kalian bisa geser-geser dengan cara klik, tahan, lalu geser untuk melihat pemandangan sekeliling 360 derajat.

Gunung Parang Via Ferrata – Pemakaian Alat Keselamatan

#gunungparang #viaferrata #gunung #ferrata #hiking #climbing #mountain #tracking #trekking #webing #bunsya #adventure #ngebolang #metime #refreshing #beautifulindonesia #letsclimb #rocknroll #safety #everyonecanclimb

Gunung Parang yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat, sampai dengan saat ini adalah salah satu yang menggunakan ferrata atau tangga besi yang dipasang di gunung tersebut.

Dengan tagline “everyone can climb”, gunung ini bisa dinaikin oleh siapapun, bahkan yang belum pernah atau tidak ada pengalaman naik gunung. Dan waktu yang dibutuhkan singkat saja, sekitar kurang lebih 2-3 jam untuk naik ke atas, tergantung kondisi dan stamina masing-masing.

Ada 2 operator yang menangani penanjakan ini, yaitu Skywalker dan Badega. Tulisan ini dibuat, gw menggunakan operator Skywalker. Next, gw akan coba dari Badega agar tau 2 sisi yang berbeda.

Untuk part ini, gw akan membahas penggunaan alat keselamatan. Untuk pemakaian hardness ini dipakaikan di sekitar paha, selangkangan dan pinggang, maka disarankan yang wanita menggunakan celana. Kalaupun masih mau pakai rok juga ga masalah, yang penting pakai daleman celana panjang.

Lalu ada 2 carabiner yang digantung di hardness, yang 1 fungsinya untuk mengkaitkan itu ke sling, tali karmantel yang dipasang di sepanjang gunung dari atas ke bawah untuk pengunci dan 1-nya lagi dipasang di setiap ferrata yang mau kita jajaki.

Terakhir ada safety helmet. Ini wajib supaya kalau ada kejatuhan dari atas, kepala kita aman. Dan juga sepatu atau sendal gunung.

Safety equipment lain yang optional adalah sarung tangan. Bagi kulit sensitif, dianjurkan untuk memakainya karena selama perjalanan, telapak tangan akan terus bersentuhan dengan ferrata. Dan ketika turun dengan teknik rappeling, maka tangan akan memegang sling. Kalau masih mau mulus, pakailah sarung tangan.

Hal lain yang ga kalah penting adalah sunblock supaya ga terlalu belang, sunglasses biar ga silau dan kalau difoto kita ga nyerengit hehe… lalu lotion anti nyamuk karena jalan menuju ke titik awal gunung adalah hutan, dan mengantripun kita dikelilingi banyak pohon, jadi pasti banyak nyamuk berkeliaran. Selanjutnya kalau gw pribadi pakai balsem geliga atau lotion urut kayak counterpain atau minyak telon yang gw balurin ke paha, kaki, pundak dan tangan. Buat apaan sih? dah kayak nenek-nenek aja. Ihss… emang gw udah nenek-nenek. Makanya pas gw pake balsem, pada nengok yang di sana, mencari-cari sosok nenek-nenek tak diundang.

Trus, coba buat apa? Kalau gw itu buat ngebantu ngelenturin otot. Jadi ketika kegiatan selesai, otot ataupun urat-urat gw ga jadi terlalu kaku kayak kanebo kering. Apalagi buat yang jarang olahraga macem gw. Ya lah, nenek-nenek kan demennya nyirih dan ngerajut ketimbang nge-gym.

Adakah keperluan lain yang dibawa selain disebut di atas?

Ada sayang… Ada…

Air mineral sebanyak 2 botol sedang lah. Tapi kalau lo sejenis onta, ga bawapun bisa tahan. Kalau gw cukup 1. Bukan karena bisa nahan haus tapi karena takut ga tahan pepsi. Mikir lah kalau udah kebelet, mau pepsi dimana coba? Di tebing dan puncak, toilet 2ribu belum jadi. Baru lagi didesain dengan anggaran 198 juta #eh.

Selain air, bawa juga makanan. Nasi ayam geprek gitu? Boleh kalau lu mau repot bawa atau perut ga tahan laper. Tapi, kebanyakan ga anti main stream sih, standard aja. Biskuit, ciki-cikian, coklat.

Trus apa lagi? Pakai baju warna terang ya! Yang ngejreng kalau perlu. Biar kenapa? Biar kece kalau di foto. Biar keliatan kalau yang difoto itu sosok kita, bukan megalitikum.

Dan terakhir yang super penting dari safety equipment, yaitu Kamera Action 360 yeeeeaayyy… supaya semua sudut bisa kerekam ketika lo beraktifitas. Kek di bawah ini nih…

Naik Bus Bandara

#busbandara #damri #soetta #bunsya #bandarasoekarnohatta #jakarta #terminal1 #terminal2 #terminal3 #jalan2 #menikmatihidup #lengang #ibukota #jekardah #pgc #cililitan #uki #mepo #sopir

Bus yang ke bandara banyak meponya di Jakarta, PP, Jakarta – Bandara, Bandara – Jakarta. Salah satunya mepo di PGC alias Pusat Grosir Cililitan, si tetangganya UKI.

Perjalanan dari terang ke gelap ini rute Bandara terminal 3 ke PGC.

Beruntung bus penuh, jadi dapet kursi di sebelah sopir. Ini padahal naiknya ga pas di depan pintu naik loh, tapi bus masih rada jauh udah disemperin. Itu menandakan bus jurusan PGC ini paporit. Berasa kenek? Ga juga karena udah ada kenek aslinya narikin ongkos 80 rebu.

Wiihh… mehong ya…?

Yes, selama pandemi ongkos jadi naik 2x lipat karena bangkunya kan isi-kosong-isi-kosong alias social distancing. Jadi wajarlah.

Nah itu kenapa beruntung duduk di sebelah sopir? Beruntung dong! Karena bisa liat pemandangan di depan dengan leluasa tanpa terhalang bangku lain, kecuali kaca bus yang menghalangi. Tapi, gapapa lah, kaca itu berkorban kok demi gw biar ga kerasukan kena belaian angin mesra. Dari pada dihalangi cowo 3T? Bisa kejang-kejang dan langsung minta ke KUA ntar.

Apalagi 3T? Itu loh, idaman para wanita sholehah. Taqwa, Tajir, Tamvan.

Ah sudahlah, menghalunya di atas kasur aja. Mending kita nikmatin jalanan Jakarta yang lengang…

Cara Beli Tiket Kereta Bandara

#stasiunbandara #keretaapi #kai #ngetep #stasiunmanggarai #stasiunkereta #mesintiket #petugaskai #carabelitiket #tiketbandara #mesinotomatis #soetta #airport #shuttlebus #terminal1 #terminal2 #terminal3

Pemesanan tiket bandara ini dibantu petugas dengan pembelian tiket setelah naik keretanya hahahahaha…

Adegan pembelian tiket kereta setelah naik TIDAK dianjurkan ya Bun.

Rusuh di Stasiun Kereta Bandara Manggarai (Don’t Do That @Station)

#stasiunbandara #keretaapi #kai #ngetep #stasiunmanggarai #stasiunkereta #kejarwaktu #capek #ngosngosan #keringetan #keringetmengucurderas #terlaluontime

14 Nov 2020 keknya hari bersejarah ngos-ngosan sepanjang masa.

Rencana banyak waktu menggapai jadwal kereta bandara yang on time, kenyataan tidak semanis bayangan. Tadinya mau naik kereta dari stasiun kecil, Duren Kalibata tapi karena nunggu bocah di kamar mandi kelamaan, akhirnya habis waktu, naiklah ojol langsung ke stasiun Manggarai untuk dapat kereta jam 7.40 pagi.

Sampai stasiun Manggarai, ternyata pintu masuk dari berhenti ojol lumayan jauh. Masuk. Tanya petugas mau ke peron kereta bandara. Dijawab peron 9. Begitu mau ke sana, ada 2 pilihan. Lewat atas atau bawah? Bingung…

Balik, tanya petugas lagi. Katanya bisa 22nya. Trus, bilang atas aja gpp. Eh, gw turutin dong omongannya. Itu jam 7.33. Ternyata peron 9 itu paling ujung dari pintu masuk. Dan artinya gw harus menyebrangi 8 peron.

Peron pertama dan kedua mulus. Peron ketiga ga bisa disebrangin karena ada kereta parkir. Untungnya pintu kanan dan kiri kereta terbuka. Jadilah nyebrang dalam kereta.

Peron selanjutnya, sama, kereta parkir. Karena yang satunya pintu ga terbuka, terpaksa cari ujungnya kereta. Mayan beberapa gerbong mesti dilewati sambil lari… mulai keringat netes. Peron 4 hap, 5 hap. Lanjut ke 6 dan 7.

Begitu 8 langsung bingung karena ga ada sambungan ke 9. Alhasil nyebrang rel, benar-benar ngelangkahin relnya. Sampai di peron 9. Tambah bingung karena ga ada tangga atau apapun untuk naik ke pijakan ruang tunggu penumpang. Baju udah basah dengan keringat. 2 menit lagi menuju 7.40.

Bodo deh, lompat aja ke atas. Ternyata ada pijakan di sekitar situ dan sepertinya memang untuk naik ke ruang tunggu peron 9 dengan maksa. Sampai di atas, semua pintu kereta tertutup. Ketok-ketok dong. Ga ada yang denger. Penumpang di dalampun kalau denger, ga bisa melakukan apa-apa. Dan ternyata gerbong pertama yang ditemuin itu gerbong terakhir. Lokomotifnya di depan. Jadi dong lari lagi dan lagi sambil teriak-teriak “Tunggu! Tunggu! Buka pintunya!” #gendhengemang

Sampai di lokomotif langsung ngomong ngos-ngosan. Dan semua orang yang ada di sana ngegerubungin gw hahahahaha… ya Allah hambamu ini… caper banget dah.

“Saya mau ke bandara. Mau naik kereta ini yang sekarang… hosh… hosh…”

“Ibu dari mana?” tanya petugas.

“Dari sana. Dari pintu masuk Pak,” sambil ngos-ngosan sambil nunjuk ke arah pintu masuk commuter.

“Kok bisa ada di jalur ini?” tanyanya lagi.

“Ya bisa, Pak. Kan dari pintu masuk,” tetep kekeuh. “Saya mau naik kereta ini.”

“Maksudnya kok bisa? Itu kan bukan pintu masuk kereta bandara,” kata petugas. “Ga ada pintu kalo tiba-tiba ibu muncul dari sana.”

“Emang dari sana ga ada, Pak. Saya loncat dari rel, naik ada pijakan batu. Manjat aja. Sampe sini,” jawab gw polos.

Semua orang yang di sana bengong dan ga percaya. Sekaligus mikir dalam hati kali ya nih perempuan ribet amat hidupnya. gaje…

Udah 7.40.

“Yang ini mau jalan. Ibu nanti naik aja yang jadwal berikutnya,” kata petugas.

“Ga mau! Nanti saya ketinggalan pesawatnya. Saya mau naik kereta yang ini.”

Kekeuh.

Petugas akhirnya ngalah 😀

“Mana kartunya ibu?” tanya petugas.

Gw kasih dong. Sambil ikutin petugas ke arah mesin Tap and Go.

“Ibu udah ngetep?” tanya petugas lagi.

“Udah dong,” jawab gw pede.

“Dimana?”

“Di pintu masuk lah, Pak.”

“Pintu masuk mana?” tanyanya lagi.

“Di sana,” sambil gw tunjuk pintu masuk sana.

“Berarti ibu belum ngetep pintu masuk kereta bandara?” tanya petugas lagi.

“Ga tau saya pak. Yang penting saya udah ngetep.”

Geblek kan gw.

“Kita cek ya, Bu,” kata petugas yang kitanya udah di depan mesin Tap and Go. “Tapi ini kereta mau jalan.”

“Yah, jangan dulu dong, Pak. Please. Tahan bentar ya please…” pinta gw.

Mungkin karena kasian bin ga tega kali ya ngeliat gw yang ngos-ngosan dan bersimbah keringet, maka dicobalah kartu yang tadi gw pake ngetep di pintu masuk. Ga bisa ternyata di mesin Tap and Go bandara.

“Ada kartu lain, Bu?” tanya petugas.

“Ada, Pak,” sambil gw keluarin kartu yang satunya.

“Ini bisa, Bu.”

Akhirnya. Gw mengucapkan terima kasih banyak ke petugas dan langsung masuk kereta. 7.42. Wkwkwkwk… gegara gw kereta telat berangkat…

Langsung duduk masih ngos-ngosan. Sepanjang jalan gw ngiplik aja walo tuh kereta pake AC. Haus banget. Ga bawa air. Ya nasib… Gw ga berani nempel di kursi karena bakal ga kering-kering bajunya dari keringat dan bakal nimbulin bau kalo demek kayak gitu.

Begitu di stasiun Batu Ceper lumayan lama itu kereta berhenti karena sepertinya pergantian posisi masinis dari lokomotif depan ke belakang. Jadi, kalau ambil tempat duduk yang menghadap belakang laju kereta, begitu di stasiun itu jadi sebaliknya.

“Ibu tadi gimana ceritanya bisa ada di peron itu?” tetiba ada yang nanya gw ketika gw masih berjibaku sama keringet di badan.

Eit. Pak masinisnya ternyata…

“Hehe…” gw ceritain lah kronologisnya. Dan dia sabar mendengarkan loh… Karena semua orang di stasiun itu pada heran, gw bisa tiba d sisi peron yang bukan pintu bandara hahahaha…

Trus, dia kasih penjelasan dah harusnya ada pintu/ ngetep di pintu stasiun bandara. Dan itu beda dengan ngetap pintu biasa. Lah… mana saya tau… saya kan ikan… trus ya doi melanjutkan perjalanannya ke lokomotif depan.

Alhamdulillah, sampe dong di stasiun bandara. Dengan pedenya gw ngetep dong di pintu keluar. Tetottt… hahahahha… kagak bisa keluar gw. Kartunya ga diaku. Ampun dah. Derita belum berakhir. Untung ada petugas di situ. Dibantu ngetep di mesin lain. Ga bisa juga. Trus, dia tanya kenapa? Yahhh… gw cerita lagi dah…

Sampe gw bilang, “Itu ada saldonya loh, Pak. Masih banyak…” nyengir si bapak.

Akhirnya gw dioper ke petugas di luar pintu exit. Dan keluar lewat pintu non mesin. Dibukain gemboknya sama petugas wkwkwkwkwk… Dan gw dikawal ke mesin tiket. Dicek dong sm petugas saldo gw. Eh, ada dong 300ribuan… Gw kata juga apa, saldo banyak Pak… si petugas mah nyengir aja gw rada ribut soal saldo. Ya, jangan dikira gw penumpang gelap yang ga mau bayar tiket.

Akhirnya dipandulah sama doi supaya gw “beli” tiket. Hahahaha… orang mah beli tiket sebelum pergi atau pas pintu keluar ya pas ngetep kepotong saldo kartu kita. Ini setelah semuanya selesai. Emang dasar gw cari perhatian… Petugasnya helpful bet dah.

Alhamdulillah bener-bener selesai hiburan gw pagi pagi… langsung sambung shuttle bandara ke terminal 3.

Gaes, cerita di atas contoh buruk. Jangan diikuti. Tanya petugas dengan minta jawaban sejelas-jelasnya kalo masih ga paham di awal. Kalo perlu omelin petugas pertama yang ngasih arahan gaje gitu…

Peraturan Pemerintah Mengenai Masa Berlaku Passport Menjadi 10 Tahun

Gunung Parang Via Ferrata – Istirahat Rame-rame

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #jawabarat #westjava #bunsya #adrenalin #ngebolang #adventure #hiking #climbing #tracking #istirahat #ramerame #gaadalogarame #sohib #teman #friendzone #travel #jalan2 #indonesianature #alamindonesia Saatnya istirahat dulu genks setelah pendakian 100 meter pertama. Mayan pegel paha buat orang yang ga pernah olah raga. Makanya, kalau doyan kegiatan-kegiatan outdoor gini kudu dirutinin olahraganya ya genks, biar pulang-pulang gaContinue reading “Gunung Parang Via Ferrata – Istirahat Rame-rame”

Gunung Parang Via Ferrata – Penanjakan 100 Meter Pertama

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #bunsya #sunblock #hiking #climbing #tracking #refreshing #rappeling #adventure #ngetrip #ngebolang #indonesia Tiba waktunya penanjakan. Rasanya kek kek gimana gitu… Biasa aja sih. Kek naik tangga aja, cuma tangganya kurus-kurus. Yang bikin ribet naik tangga di sini kita harus sangkut lepas sangkut lepas carabiner kanan kiri. Kanan ke sling, kiri ke ferrata. KaloContinue reading “Gunung Parang Via Ferrata – Penanjakan 100 Meter Pertama”

Gunung Parang Via Ferrata – Orientasi

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #orientasi #bunsya #gunung #mount #climbing #hiking #webing #safety #nature #travel #metime #beautifulindonesia #jawabarat #westjava #pemandu #guide Bagian ini cerita mengenai orientasi atau penjelasan atau briefing sebelum peserta naik ke atas. 2 carabiner yang diceritain di postingan sebelumnya digunakan 1 untuk mengkaitkan ke ferrata dan yang 1 nya dikaitkan di sling sebelah kanan.Continue reading “Gunung Parang Via Ferrata – Orientasi”

Beautiful Prambanan

#prambanan #candiprambanan #prambanantemple #temples #candi #candis #magelang #jawatengah #beautiful #beautifulindonesia #jalanjalan #bunsya #foto #ciamik #indonesiaindah

Tidak ada cerita special di Prambanan ini. Hanya ingin pamer foto-foto aja 😀

It’s all about love

prambanan001

Beresin jilbab dulu

prambanan002

Syahdu

prambanan003

Harus hepi

prambanan004

Balance

prambanan005

Makin pinter aje nih bocah ngambil angle foto. Mantul dah…

Sinergis. Optimis. Ga statis.

prambanan006

Diantara tumpukan bebatuan

prambanan007

My beautiful Prambanan

prambanan008

3 Generasi

prambanan009

Spot cantik buat foto. Udah kayak mantenan 😀

prambanan010

Paparazzi by Bocah Maniezzz

prambanan011

Bokehnya keterlaluan

prambanan012

Untungnya Di Borobudur Bersama Nenek-Nenek :D

#borobudur #candiborobudur #tample #borobudurtample #jawatengah #magelang #candi #tamples #budha #arca #indonesiaindah #neneknenek #oma #bunda #bunsya

borobudur005

Walaupun slow motion pergi sama nenek-nenek, tapi ada untungnya juga 😀

Maaf Oma, lagi ngegibahin Oma sedikit. Sedikit aja…

Tau dong candi Borobudur tangganya kek apa? Dari jauh aja udah panas dingin ngeliatnya buat nenek-nenek, kakek-kakek atau orang yang ga pernah olah raga…

Tapi, well, tampilannya ga berubah loh dari zaman gw SMA nengokin ke sana. Luar biasa konsistensinya… dia tetap dengan pendiriannya. Teguh banget. Ga ada yang keseger sedikitpun batunya. Ga kayak hati gw yang bisa kegeser kapan aja #nobaperplis

Mulai masuk setelah beli tiket (pintu tiket turis domestik dan bule udah dipisah sekarang), ada pilihan untuk naik kendaraan kecil yang membawa turis ke pintu candi. Pilihan lain ada penyewaan sepeda sebesar 10rb aja. Nanti tuh sepeda mo diletakin dimana aja, sabeb. Ga ada yang ngelarang. Tenang aja, ntar tuh sepeda pasti balik sendiri ke tempatnya deket pintu masuk. Ajaib kan?

Alternatif lain? Ada… tenang aja. Jalan kaki bro! Saik kan? Sehat lagi… 😀

Lumayan, kalau jalan ada lah setengah kilometer untuk mencapai pintu masuk candinya. Itu belum mencapai anak tangga pertama loh. Catet ya.

Pilihan Oma dah pasti ketebak. Naik mobil kecil yang ga ada jendelanya itu. Yang semuanya pintu tanpa daun pintu. Macem di TMII deh. Mobil kecil putih yang bayar 5rb untuk kelililing TMII. Nah, kalau ini 10rb. Mehong ya cint? Dah tiket masuknya juga sekarang mehong, 40rb/ orang. Itu yang berbangsa Indonesia ya.

Oma naik mobil itu, kita kawal dengan sepeda. Kalau jalan kan lurus aja tuh ya dari pintu masuk sampai dengan pintu candi. Nah kalau pakai mobil, muter. Ini mah bener-bener ngelilingin pekarangannya candi yang serba hijau. Ih, gempor juga ngawal pakai sepeda, secara dapet sepeda yang kayuhnya ga saik. Kayak ngayuh sepeda yang bannya kempes, berat beut, tapi kenyataannya sebenernya bannya ga kempes, walau gigi-nya dah diutak-atik dari 1 sampe 7.

Bocah bilang, giginya dimundurin bun. Udin. Sama aja. Sampai akhirnya si bocah ga tega sama maknya dan akhirnya tukeran sepeda. Alhamdulillah, sepeda si bocah lancar jaya. Etapi kasian juga akhirnya liat bocah ketinggalan sama sepeda tukeran. Ah, emang dasar sepedanya bermasalah. Karena itu, kudu cek dulu ya gaes kalo mau sewa sepeda.

Sampai di tujuan. Depan pintu candi. Ngaso dulu. Sumpah, gamis basah sama keringed. Minum berkali-kali.

Udah siap jiwa raga, mulai start jalan menuju tangga pertama candi. Tapi di sela-sela itu, kita narsis-narsisan dulu lah… Sayangkan, ga sebulan sekali ke sana…

borobudur004

“Oma ga naik ya,” kata Oma tersayang.

No problemo lah…

Etapi, engingeng… gw liat dong ini pintu masuk ga double dacker, alias ga bisa jadi pintu keluar. Cuma 1 arah, macam di Selatan Jakarta yang banyak 1 arahnya. Nah loh… bingunglah maknyak sebagai penanggung jawab jelong-jelong kali ini.

Dengan pedenya bilang, pasti ada petugas. Alhamdulillah setelah diteliti beberapa menit, ada pos isi 2 orang. 1 anak muda, 1 lumayan senior lah. Kalau udah gini, kita perlu eskaesde.

“Pak, maaf, ini jalan keluarnya mana ya?” tanya Maknyak.

Masuk belum, udah nanya jalan keluar. Hebat kan. Ini contoh orang visionaris.

“Di sana,” jawabnya sambil nunjuk ke atas, trus ke bawah di balik megahnya si candi.

Mampus! Dalam hati Maknyak. Harusnya gw bawa kain gendong inih… Biar bisa bopong emak gw tercinta…

“Ga ada jalan lain Pak? Soalnya mama saya ini ga kuat nanjak, naikin tangga ini sampe atas. Itu gimana Pak?”

“Mana mamanya?” tanya si Bapak senior.

Tak tunjuk si mama cayang.

“Ooo… itu sih bisa lewat sana aja, jalan khusus difabel. Mau pake kursi roda ga?” tanyanya lagi.

“Ga… ga.. Biar oma di sini aja. Mau duduk aja. Nunggu,” kata Oma.

“O… ada Bu kursi di sana. Satu. Duduk di sana aja. Tenang deh, ntar saya temenin ngobrol sampe kapanpun, hehe…” cengir si Bapak ramah.

Lah… dikau kan sedang tugas Pak. Eh, atau menemani orang seperti oma itu salah satu job descnya juga ya?

Yawes, akhirnya oma nongkrong (maksudnya duduk di kursi jalanan difabel) sambil ditemenin ngobrol sama si Bapak.

“Trus, nanti kita keluarnya gimana? Kan ga mungkin tinggalin mama keluar masing-masing…” kata Maknyak alias gw.

“Ntar, Mbaknya balik ke sini lagi, cari pintu difabel di atas. Tuh tinggal ke arah sana aja,” katanya sambil menggerakkan tangannya ke arah kiri.

Orait bebih, siaaapp…

Naiklah maknyak dan bocah ke atas. Narsis-narsis ga abis-abis. Semua pojokan dijadiin latar foto. Semua tepian ga luput dari radar hape. Puanasnya maknyos. Jadi, pastiin bawa topi or payung ya gaes kalau ke Borobudur dan atau Prambanan. Plus air minum. Tapi ga boleh nih bawa makanan. Bisa kena omel/ tegur. Petugasnya banyak beut sekarang di puncak candi. Tulisan-tulisan larangan juga banyak di setiap beberapa meter di tempel. Dan ini ternyata berubah setelah candi ini dipegang UNESCO, kata si bapak tadi.

Setelah puas dan kering di atas, kita cari arah pintu difabel. Nanya-nanya petugasnya, sekalian ngetes, galak ga kalau ditanya begituan. Soalnya mereka rada-rada galak sama orang yang nyender ke sisi Stupa terbesar. Mereka galak sama orang yang masuk-masukin tangannya ke stupa-stupa kecil. Apalagi sama yang naik-naik ke sekitaran stupa. Ah, ternyata baik dan manis jawabnya. Apa karena maknyak yang nanya? #dihspedeamat

Begitu masuk jalur difabel, eh beneran, tuh si bapak dengan setia nungguin dan ngobrol sama Oma. Seriusan. Baik beut dah. Entah udah berapa jilid buku itu cerita si bapak ke Oma, tentang hidupnya di Jakarta, tentang candi yang udah pindah tangan kepengurusannya. Alhamdulillah, seenggaknya oma terhibur ada yang nemenin. Kita mah padahal dah buru-buru di atas, mikirin Oma di bawah. Buru-buru gimana ya? Padahal foto dah jadi puluhan 😀

“Nah, gimana ini kita keluar Pak?” tanya maknyak.

“Kita lewat sana aja. Potong jalan,” jawab si bapak.

Gw ga ngeliat shortcutnya. Ga ada jalan setapak. Ga ada petunjuk.

“Mana ya Pak?” tanya gw.

“Itu. Udah, saya anterin sampe pintu keluar,” katanya menawarkan bantuan.

Gw ikut aja deh. Soalnya ga tau jalannya yang mana. Ga ada jalan setapak. Ga ada petunjuk. Ga ada arah apa-apa. Dari padai lost in my country, kan ga lucu… #lebay

“Gapapa nih Pak?” tanya gw meyakinkan.

“Gapapa,” jawabnya santuy.

Okelah, fine. Fix. Cusss…

Keluar lagi dong kita dari pintu utama alias pintu masuk candi. Agak-agak ngelawan arus lah ya, secara pengunjung buanyak banget. Dah gitu, ternyata belok kiri, serong terus dan ngebelah lahan rerumputan. Weks… ini toh shortcutnya… pantes, gw g ngeliat jalan setapak ataupun petunjuk.

Ini sebenernya ga boleh. Melawan arus dan ga di jalurnya. Tapi berhubung si bapak kasian sama Oma, ga ada mobil lagi di situ, ya sudah. Omapun sudah menyatakan nyerah naik tangga. Mobil ada di sebelah sisi candi sebelah sana kalau kita dah naik terus turun ke arah berlawanan, baru bisa naik mobil lagi dari sana untuk sampai ke pintu keluar.

Nah, dari situ kita terus ngebelah rerumputan, baru deh setelah jalan lumayan, nemu jalan setapak. Tinggal ngikutin aja sampe akhirnya ditunjukin pintu keluar. Jalan ga berasa cape karena sambil ngobrol sama si bapak. Nunjuk-nunjukin area-area yang dulu digusur untuk taman candi ini. Termasuk rumahnya yang kegusur saat itu. Saik lah denger cerita si bapak.

Karena kitanya yang ga enak, ga sampe pintu keluar kita udahan mintanya sama si bapak untuk anterin. Dah keliatan sih pintunya, tinggal langkah kaki aja nih yang mesti digerakkin. Alhamdulillah… kita terima kasih sama si bapak sambil salam tempel.

Trus, ketemu pintu keluarnya? Ketemu dong… walaupun akhirnya jalan jauh juga si Oma, tapi seenggaknya sudah mendiskon tenaganya dari tanjakan tangga dan jalan ke arah pintu keluar sekitar 1 km.

Begitulah… banyak sabar ya jalan sama nenek-nenek… dibalik kesabaran pasti ada keuntungan. Ahai…