PERTH

7 – 13 September 2014

Day 1

Kota yang tenang dan sepi. Itulah banyak yang bilang. Dan sayapun merasakan hal tsb. Begitu landing di bandara Perth, Minggu 7 September 2014 @18.30. Begitu mobil meluncur keluar bandara, suasana seperti di Jakarta tengah malam. Sangat lenggang dan sepi. Rumah-rumah penduduk gelap semua karena mereka mempunyai system sensor cahaya. Ketika ada orang mendekat, maka lampu teras otomatis akan menyala.

Featured image

Makan di RM “Taurus” di pinggiran kota dengan porsi menggunung (porsi untuk 2 orang). Alhasil setengahnya dibawa pulang.

Apartemen yang kami tempati bernama City Waters. Tepat di sebelah Pan Pacific. Menghadap langsung ke lapangan rumput seluas 4x lapangan bola plus bonus sungai Jetti.

Featured image    Featured image    Featured image

Featured imageFeatured image

Kembali ke bandara. Di imigrasi, passport saya ditahan oleh petugas. Berkali-kali 2 orang melihat foto di passport dan aslinya saya. Di passport foto tidak berjilbab sedangkan aktualnya sudah berjilbab :D. Jadilah menunggu sekitar 10 menitan untuk petugas memeriksa data atau apapun saya tidak begitu tau karena biliknya tertutup. Setelah itu tetap dengan ramah, saya ditanyai apakah baru pertama kali ke Aussie? Tujuannya apa ke Aussie? Kerja di mana? Posisi apa? Akan balik lagi ke Negara asal kan? Oia pasti Miss secara punya anak yang tiap hari ngangenin …

Day 2

Dari apartemen ke City. Pemerintah Aussie menyediakan bus gratis untuk penduduknya dan para pelancong di kota Perth dan sekitarnya. Ada 4 tipe bus yang disediakan yaitu Red CAT, Green CAT, Blue CAT dan Yellow CAT.

Featured image

Awalnya kami menaiki bus yang tidak gratis karena tidak tau kalau bus yang dinaiki itu bernomor dan bayar, namun kata sopirnya tidak usah bayar ketika ditanya berapa ongkosnya. Dan ternyata semua bus yang mengarah ke City kalau kita mau ke City, itu akan gratis.

Di City, kami membeli sim card, Vodafone. Terus terang, harganya lumayan karena yang termurah seharga AUD10 tapi mendapatkan pulsa AUD100. Dengan kartu kredit Standard Chartered, pembayaranpun jadi mudah. Bisa juga beli kartu Lyca di mart-mart kecil dengan harga AUD2 dan isi pulsa AUD10. Itu berarti isi pulsa 10 dollar Aussie plus ada bonus ngenet. Kami juga membeli obat karena ada luka di kaki om saya karena kemarin-kemarin memakai sandal yang sudah lama tidak dipakai. Jadilah melenting. Kemudian membesar dan sekarang membengkak plus ngebet.

Rencananya kami mau naik Hop on Hop off, bus wisata yang atasnya terbuka. Tapi ternyata, salah halte. Bus tersebut tidak berhenti di halte yang kami tunggui, padahal di sana tertera halte 56 William Street. Alhasil, kami save AUD30 masing-masing.

Karena waktu menunggu 1 jam lagi, maka kami putuskan makan siang dulu dan setelahnya menaiki Blue CAT karena sudah setengah hari berjalan. Sayang kalau tetap naik Bus Hop on Hop off tersebut, bayar full tapi Cuma dipakai setengah hari. Selain itu cuaca yang tidak bersahabat juga menjadi alasan kami untuk akhirnya enggan menaiki bus tersebut. Musim semi di awal September ini, sehari di Perth, bisa lebih dari 10 kali turun hujan dan angin yang sangat kencang.

Dari Perth Underground, William Street, dengan Blue CAT kami menuju Bell Tower. Iconnya Perth dengan bangunannya yang seperti angsa (swan). Hanya 6 lantai dengan membayar AUD9. Seharusnya AUD15, tapi ditanya penjaga tiket dari mana saya berasal, dan saya jawab Jakarta, miss cantik itu memberikan potongan harga AUD6. Alhamdulillah …

Featured image  Featured image  Featured image

Dalam gedung itu diceritakan sejarah bell dari awal. Lantai 1 disajikan bel besar. Lantai 2 diperlihatkan peninggalan-peninggalan sejarah bel dari awal dengan benda-bendanya yang diperlihatkan dalam display. Level 3, toilet. Level 4, . level 5, . level 6, ruang terbuka (open air deck) dengan kita bisa melihat sebagian kecil kota Perth 360O dengan memasukkan koin ke dalam teleskop.

Featured image  Featured image  Featured image  Featured image

Kembali ke bawah, lantai lobi, saya menuliskan nama di buku tamu dan saya foto. Inilah hasilnya :D.

Featured image

Perjalanan dilanjutkan dengan Blue CAT lalu sambung Red CAT kembali ke apartemen karena om saya sudah tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya makin ngebet dan sakit. Dengan Red CAT, kami turun di halte Mercedes College, lalu berjalan kaki selama 10 menit ke bawah. Ternyata belum setengah jalan, kami melewati Perth Mint. Inilah rencananya, setelah menemani om saya balik apartemen, saya memutuskan untuk ke Perth Mint, perusahaan tambang emas pertama dan tertua di Aussie.

Jam 2 siang saya tiba di Perth Mint. Ternyata tour-nya jam setengah 3. Alhamdulillah tidak terlambat dan masih ada waktu setengah jam untuk keliling-keliling took emasnya sekaligus mengambil beberapa gambar gedung Perth Mint dari luar.

Featured image  Featured image

Featured image  Featured image

Menggiurkan melihat emas-emas yang dipajang dalam berbagai bentuk dan perhiasan. Namun, harganya ajib untuk ukuran kantong saya.

Ketika tour dimulai, kami dibawa ke pekarangan luar oleh pemandunya dan mulailah ia bercerita dari awal Perth Mint itu ada. Setelah sekitar 15 menit, barulah selesai, kami masuk ke dalam gedung. Diperlihatkannya lah kami koin terbesar yang dibuat oleh perusahaan tersebut yang dipajang di tengah dengan meja putar. Meskipun dilarang ambil gambar, namun saya bandel untuk ambil gambar tersebut. Selain melihat koin terbesar itu, kami juga disuguhkan film mengenai emas dalam layar 5 monitor giant. Setelah kurang lebih 10 menit, kami meneruskan tour tersebut ke tempat peragaan bagaimana emas dibuat dengan suhu yang lumayan panas.

Featured image

Tetap dengan bandelnya, saya ambil gambar. Dan beberapa orang bule di belakang saya 3 kali ngomong tidak boleh ambil gambar. Harusnya saya ambil tempat duduk di paling belakang, jadi tidak bising dengan teguran mereka :D. ketika emas dikeluarkan dari pengapian, itu lumayan panas hawanya. Prosesnya cepat. Setelah emas cair, lalu langsung dimasukkan ke dalam cetakan, dan beberapa detik setelah itu langsung dimasukkan ke dalam air. Dan tidak dalam hitungan 1 menit, diperlihatkannyalah hasil kerjanya. Luar biasa, emasnya langsung jadi seberat 6kg. Ngilerdotcom.

Setelah pertunjukan usai, kami disuguhi lagi film documenter mengenai emas yang sangat membosankan. Untunglah hanya sekitar 5 menit selesai. Kami mengikuti papan penunjuk keluar dan didapatilah timbangan untuk kita, seberapa berharganya badan kita dalam ukuran emas dan dikonversi ke dalam nilai AUD. Tidak semuanya yang mencoba sukses, karena komputernya suka “tidak perduli” ketika kita menginjakkan kaki kita di atas timbangannya.

Caranya adalah kita berdiri di atas papan timbangan, kemudian diam dan tunggu mesin menghitung massa tubuh kita. Setelah selesai, kita pencet tombol di samping untuk melihat hasilnya. Hasil saya adalah badan saya seharga AUD5juta hahahahahaha….

Setelah timbang badan emas, saya menuju mesin cetak koin emas. Dengan hanya memasukkan koin AUD2, kita akan mendapatkan koin emas yang sudah dicetak. Satu sisi gambar gedung Perth Mint, satu sisinya yang lain gambar lambang Perth Mint. Karena 2 dollar Aussie saya Cuma 2, jadinya saya hanya mendapatkan 2 koin emas cetakan saja. Lumayan, kenang-kenangan buat anak saya.

Featured image

Ketika jam menunjukkan masih jam 4 kurang, saya memutuskan untuk ke City lagi. Hanya untuk melihat-lihat dan memastikan jalur CAT gratis.

Malamnya, kami makan bebek di RM Chinese yang berada agak ke utara Perth.

Day 3

Pagi mengurusi om dulu untuk pecahin kakinya yang melenting. Dibakarlah peniti pakai api dari kompor gas. Alhasil sudah kempes dan mendingan. Tapi, tetap pergi sendiri ke King’s Park.

Dari apartemen City Waters, saya berjalan kaki ke arah halte Perth Mint. Lalu naik Red CAT, turun di Perth Underground dan lanjut dengan Blue CAT sampai ke terminal bus. Dan berganti lagi dengan Green CAT. Jika ke King’s Park dengan Green CAT, harusnya turun di Haverest bukan di King’s Park Road.

Di sana kita akan menyusuri jalan setapak yang sudah diaspal. Menemui pusat informasi yang dijaga oleh dua orang sangat tua tapi sehat dan semangat serta ramah melayani pengunjung yang datang. Dari sana, bisa ditelusuri monument perjuangan dan bisa menikmati kota Perth dari ketinggian.

Featured image  Featured image Featured image

Setiap hari jam 10 pagi, 12 siang dan 2 siang, akan ada tour guide yang akan menerangkan mengenai sebagian kecil isi botanical garden di King’s Park. Dengan luas 4000ha, tidak akan mungkin 1 tour guide menerangkan semua yang ada dalam 1 hari :P. Jika Anda penggemar flora, maka perjalanan dengan tour guide tsb sangat tepat untuk menambah pengetahuan flora Anda.

Tour guide yang disediakan sudah sepuh semua tapi mereka tetap semangat dan ramah. Menjelaskan dari awal sampai dengan selesai selama 1,5 jam tanpa lelah. Two thumbs up. Yang lebih keren lagi, para petugas di sana hampir semuanya sepuh, tapi semangat dan keramahan mereka pantas diacungkan jempol.

Featured imageFeatured image

Featured image  Featured image

Sorenya saya menghadiri upacara peresmian kewarganegaraan sepupu menjadi WN Aussie. Upacara berjalan tepat waktu, singkat, padat dan tanpa embel-embel. Dalam setengah jam, sekitar 20 orang diresmikan menjadi warga Negara Australia.

Day 4

Pagi rencana mau ke Pinguin Island tapi untungnya ke pusat informasi dulu di City yang terletak di William Street. Petugas yang sudah sepuh tapi masih segar dan semangat mengatakan sampai dengan pertengahan September kita akan sia-sia kalau ke sana karena para penguin kecil tersebut sedang nesting, jadi kita tidak akan bisa melihat mereka berkeliaran. Akan berkeliaran kembali setelah pertengahan September sampai dengan summer selesai.

Featured image

Lalu beliau merekomendasikan pergi ke AQWA, Aquarium of Western Australia. Sama sekali mirip dengan Sea Worldnya Jakarta yang di Ancol. Buat saya Sea World lebih bagus aqua besarnya yang kita berada di dalamnya melihat ke atas ikan-ikannya. Cuma satu yang menarik perhatian yaitu Moon Jelly Fish. Sangat cantik, anggun dan misterius. Ubur-ubur bulan ada yang ukuran kecil dan besar dalam 2 akuarium yang berbeda. Bisa dicek di youtube ini utk versi “hidup”nya dengan kata kunci ubur-ubur, jellyfish, aqwa.

Perjalanan dari stasiun Perth Underground, naik kereta Joondaloop line berhenti di stasiun Warwick. Pembelian tiket kereta api menggunakan mesin. Kita harus cek dulu tujuan kita ada di zona berapa. Di mesin tiket tertera sampai dengan 8 zona. Stasiun Warwick adalah zone 2. Karena sudah melewati jam kerja, harga yang harusnya AUD2.9 menjadi AUD1.8. Setiap tiket ada batas waktunya sampai jam berapa tiket tersebut berlaku.

Sampai di statsiun Warwick, kita beranjak ke atas untuk sambung dengan Bus nomor 423. Dengan membayar sekitar AUD3, kita akan diantar ke halte Hillary. Dengan jalanan yang sepi dan lengang, bus membawa kita selama kurang lebih 20 menit tanpa macet. Sopirnya mengucapkan salam begitu melihat saya yang berjilbab. Lalu dia cakap bahase Melayu lor J, dikira nak saye dari Malaysia.

Tapi, memang sopir-sopir bis di Perth semua ramah dan sangat menolong. Tidak hanya saya yang dijawab dengan rasa puas, tapi semua penumpang yang bertanya dijawab dengan baik dan ramah. Bahkan ada ketemu 2x sopir yang turun dari tempat setirnya hanya untuk mengantarkan penumpang yang benar-benar lost untuk dibawa ke bus/ tempat yang benar.

Penduduk Perth mostly memang ramah. Beberapa kali saya disapa, “hi”, “hello”, “morning” atau sebatas senyum di tengah jalan. Bahkan beberapa kali ditawarkan untuk difoto di tempat yang kelihatannya kita coba-coba foto sendiri J.

Kembali ke AQWA. Sampai di halte Hillary, kita jalan sekitar setengah kilo untuk sampai depan pintu AQWA. Di sekitar sana banyak toko souvenir dan perahu-perahu jet. Di sepanjang jalan pakai bus, rumah-rumah besar banyak yang memiliki perahu-perahu tersebut parkir di halaman rumahnya.

HTM AQWA sebesar AUD29. Kita akan diberi peta dan jam-jam berapa saja ada show atau guide di area-area tertentu.

Featured image  Featured image  Featured image

Featured image    Featured imageFeatured image

Featured image  Featured image  Featured image

Sorenya, saya kembali ke City dan mencoba cari masjid yang sudah saya cari di internet. Masjid di City hanya ada di William Street 427 – 429. Masjid itu tidak sama sekali di tengah City tapi minggir jauh ke dekat kawasan makanan Asia seperti Vietnam, China, Korea dan Malaysia. Jika jalan kaki dari City akan menyita waktu 20 – 30 menit. Ada baiknya naik Blue CAT, turun di Abardeen Street, lalu lanjut jalan kaki. Kalau jalannya ngebut bisa dapat 5 menit.

Featured image  Featured image  Featured image

Alhamdulillah ketemu. Tibalah ashar. Dan zuhur dijamak. Ketemu Pak Iman yang ternyata dari Jakarta sedang berada di Australia selama 40 hari dakwah dari rumah ke rumah. Tausiah akan diadakan lagi jam 5 sore. Jadi, saya capcus dulu balik ke City untuk cari makanan Indonesia karena siang hanya makan biskuit dan teh manis.

Ada di dekat halte Hay Street RM Indonesia bernama Indonesia Indah. Lumayan dengan AUD11.5 sudah dapat nasi rames pakai capcai, rendang, siraman kuah santan dan sambal goreng plus kelapa muda.

Setelah makan, kembali ke masjid. Ternyata di sebelah bagian belakang masjid, ada rumah Imam dari Malaysia yang beristrikan Thailand tapi lancar bahasa Melayunya. Di sanalah para pendakwah rumah ke rumah tinggal selama 2 hari. Karena sebelumnya mereka sudah ke rumah orang Bangladesh, India, Malaysia. Besok mereka akan meneruskan ke Perth Utara.

Mereka berasal dari Jakarta yang berpusat di Masjid Kebun Jeruk, Gajah Mada. Intinya, jika ingin mencari ilmu agama, kita tidak harus selalu yang datang ke majlis, tapi kita bisa membuat majlis di rumah sendiri, it’s a lovely activity. Allah punya rencana mempertemukan saya dengan mereka.

Tausiah perempuan dimulai setelah magrib. Karena Blue CAT selesai jam 7.30 malam, maka jam 7 saya harus sudah selesai sendiri demi mengejar bus terakhir. Namun, nasib berkata lain. Walaupun sudah tiba di halte jam 7.15 dengan ngos-ngosan, tetap tidak ada bus. Ketika menunggu beberapa menit, walaupun mesin bilang 11 menit lagi bus datang, tiba-tiba ada pasangan kulit gelap dengan baiknya memberi tahu bahwa bus terakhir sudah lewat dan tidak akan datang lagi. Karena memang 7.30 malam itu bus-bus sudah di City Perth, bukan di halte-halte masih berkeliaran. Perlu diketahui, di Perth sini, atau mungkin di seluruh Australia, semua sangat tepat waktu.

Jadilah saya jalan kaki dari masjid sampai ke apartemen. Menelusuri sepanjang William Street sampai ke Bell Tower, lalu membelah lapangan rumput seluas 4x lapangan bola, bolak balik dari lapangan ke pinggir sungai Jetti. Ambil foto-foto jalan dan pohon kelapa di tengah jalan menunggu jalanan sepi tanpa mobil. Foto-foto Bell tower di malam hari dan kaki tanpa sandal di lapangan rumput basah. It’s amazing, merasakan rumput basah dengan kaki telanjang. Wonderful feeling. 1 jam ternyata olah raga jalan kaki tersebut dengan foto sana sini.

Featured image   Featured image

Featured image    Featured image

Well, kalau kita anggap ketinggalan bus adalah hal yang sial, ubah saja mindset kita, ada berkah di balik itu. Allah akan menghitung langkah kaki kita dari dan ke mesjid. Bisa lihat dari dekat kehidupan malam Perth. Olah raga gratis. Menikmati lapangan rumput basah yang ternyata enak rasanya karena lapangannya bersih.

Sampai apartemen, yg biasanya mandi ala Indonesia, kini bath tub saya isi dengan air hangat. Berendam. Haaaaa… what a fantastic life.

Day 5

Caversham wild life Park. Itu tujuan hari ini. Bisa ketemu kanguru sama koala, ikonnya Aussie.

Featured image   Featured image

Dimulai dari apartemen jam 9an pagi menuju City naik Red CAT. Turun di Perth Underground. Bayar tiket concession karena di atas jam 9 pagi seharga AUD1.8 zone 2. Turun di stasiun Bessandean. Sambung bus no. 955 atau 956 tanpa bayar lagi karena tiket kereta yang bisa nyambung bus berlaku sampai dengan jam 11.45 pagi. Saat itu waktu menunjukkan jam 10. 20 pagi. Alhamdulillah …

Turun dari bis persis di depan gerbang Whiteman Park, Caversham Wild Life Park. Dari sana, hanya ada saya dan 2 orang asing berdua, 1 dari Perth sendiri dan 1 dari Hongkong. Di depan gerbang, ada telpon khusus untuk pengunjung yang minta dijemput karena jarak tempuh dari gerbang ke dalam sejauh 1.6KM. lumayan kalau jalan kaki, bisa tegang betis.

Saya langsung telpon sesuai petunjuk. Dalam hitungan kurang dari 10 menit, jemputan datang. Pengendaranya bule tua yang paham bahasa Indonesia. Weleh…

Featured image   Featured image

Dalam mobil jemputan, kami saling kenalan dan ngobrol. Si pengendara menjuluki dirinya sendiri bule gila. Bule Perth adalah Nick, asli Australia tapi belum pernah ke Caversham. Dan si Hongkong bernama Hikky, holiday tapi bekerja beberapa bulan di Perth.

Karena Cuma sendirian, maka dengan cueknya saya menawarkan diri untuk gabung dengan mereka, ha ha ha … supaya foto-foto bisa koleksi banyak, tidak foto selfie yang ga jelas.

Dengan AUD25 per orang, kami bertiga masuk ke Caversham. Pertama yang kami cari adalah tentu saja bukan kanguru, tapi toilet :D. pastilah hewan pertama yang kami cari adalah kanguru. Ternyata kanguru adalah binatang malas. Hampir semuanya ketika banyak pengunjung mereka tidur semua. Ampun deh. Dikasih makan saja, makannya sambil rebahan dan tutup mata. Bule-bule lain juga terdengar mereka berkomentar, “they are so lazy…” hahahaha… kami bertiga tersenyum simpul.

Featured image  Featured image

Kanguru tidak ubahnya dengan rusa untuk bau badannya. Yang membedakan di kantung depan, tanduk dan kaki depan yang si rusa tidak pendek. Mereka hewan jinak. Tidak perlu takut jika ingin menyentuh atau  memberinya makan. Mereka sudah terbiasa dengan banyak orang.

Setelah puas dengan kanguru, tujuan selanjutnya adalah koala. Di tempat koala, ada 3 penjaga. 1 untuk buka tutup pintu, 2 untuk selalu memberitahu pengunjung cara membelai koala dan tenaga bantuan untuk foto bersama koala dengan kamera kita sendiri. Mereka minta kita sangat hati-hati memperlakukan koala karena salah sedikit bisa membuat mereka iritasi. Dan lagi-lagi, kami menemukan para koala itu tidur. Ampuunnn… deh …

Featured image   Featured image

Setelah puas juga dengan koala, kami mengunjungi hewan-hewan yang lain yang standard sama dengan di negri kami masing-masing. Sambil menunggu pertunjukan Molly’s farmer, kami makan siang yang ternyata masing-masing sudah bawa (well preparation). Kami nikmati makan siang kami di depan burung merak yang tidak mau menutup “kipas”nya. Sangat cantik. Warna putih.

Featured image     Featured image

Jam 1 kurang 10 menit, sudah banyak pengunjung yang mau menyaksikan pertunjukan si Molly. Jam 1 kurang 5, dibuka gerbangnya dan dalam waktu yang singkat, tempat duduk sudah penuh, sekitar antara 100 – 200 orang.

Pertunjukan dimulai dengan kuda masuk panggung, entah apa yang dilakukannya, hanya mejeng aja :D. Lalu dilanjutkan dengan atraksi anjing herder menggiring domba-domba dari luar agar masuk kandang di panggung. Cukup menarik karena anjing-anjing tersebut pintar dalam melaksanakan tugasnya. Kemudian si pemandu acara memberitahukan cara mencukur bulu domba. Diambil 1 domba untuk dicukur habis bulunya. Ternyata bulu domba itu selain lembut, ia juga lengket.

Featured image   Featured image

Setelah domba sudah “korban” bulu, maka selanjutnya adalah penampilan tali cambuk yang biasa untuk menggeber kuda. Layaknya koboi, tali diputar-putar di atas kepala lalu terakhir putar balik dengan mendadak untuk mengeluarkan cetaran membahana. Sangat mengagetkan tapi keren juga.

Setelah diperagakan, dipanggillah beberapa orang untuk ikut mendemonstrasikan apa yang tadi dicontohkan. Yang laki-laki bisa melakukannya dengan baik, tapi tidak yang perempuan.

Setelah selesai, dipanggilah sekitar 8 anak kecil ke depan panggung, lalu diberikannya mereka masing-masing 1 botol susu yang ada sedotan kunci. Kami pikir itu untuk mereka minum karena sebelum dipanggil, dimasukkan 1 sapi betina untuk nanti diperah susunya. Ketika semua siap dengan susunya, tiba-tiba tanpa tak terduga masuklah 6 anak kambing yang langsung menyedot masing-masing botol susu yang dipegang anak-anak tersebut. Hamper semua kaget tapi yang laki-laki langsung kasih susu tersebut. 1 anak perempuan dipegangin botolnya oleh pemandu dan 1 lagi saking kagetnya, dia lepas itu botol secara spontan dan tidak mau lagi pegang. Semua penonton terhibur dengan atraksi kagetan tersebut.

Selesai acara pemberian susu selesai juga acara Farm tersebut. Tiba giliran anak-anak memerah susu bagi yang mau. Karena antrian panjang, kami memutuskan untuk segera keluar dari arena dan berlanjut ke arena hewan Wombat.

Di arena Wombat, selain wombat, kami dipersilahkan melihat dan memegang burung kakatua, bayi kanguru, semacam tikus besar dan berfoto dengan Wombat. Lucu banget.

Kami meninggalkan Caversham sekitar pukul 14.20 sampai di halte depan menunggu bus 956. Si bule gila kembali mengantar kami ke depan gerbang Caversham. Dengan tiket seharga AUD4.4, saya naik bis tersebut dan dilanjutkan dengan kereta api tanpa membayar tiket lagi.

Kami bertiga berpisah di Perth Underground menuju tujuan kami masing-masing. Nick harus bekerja 3 jam sore itu. Hikky ke tempat temannya untuk potong rambut, dan saya kembali ke Masjid di William Street.

Malam ini, bus terakhir selesai di terminal. Maka, kena lagi saya jalan kaki, membelah 4x lapangan bola. Capenyo… tapi Alhamdulillah, langit tampak cerah sekali dan bintang-bintang bisa terlihat dengan jelas dan bersih. Malah si Bima Sakti (Milky Way) juga turut memeriahkan kecemerlangan bintang-bintang itu.

Satu hal yang takjub adalah, adanya benda seperti bintang, bergerak dari timur ke barat. Saya langsung memuja-muji sang Pencipta dan berdo’a. entah itu bintang beneran yang lagi “jalan-jalan” atau satelit yang dari jauh cahanya mirip bintang. Wallahualam…

Day 6

H-1 untuk menikmati Perth. Belum beli oleh-oleh. Jadilah ke Fremantle. Surga belanja. Kalau ada yang bilang surga belanja backpacker ada di Hay Street, mungkin itu keliru. Yang benar ada di Fremantle.  Buatan Cina tapi masih bisa dibilang terjangkau kantong yang sudah terkuras selama beberapa hari di Perth.

Featured image

Perjalanan bisa dari stasiun Perth Underground, ambil Fremantle Line, langsung turun di stasiun terakhir, Fremantle. Jika ingin ke toko orang Indonesia, keluar stasiun Fremantle belok kanan. Lalu sebrangi lagi rel kereta, berjalan sekitar 100 meter lalu akan ketemu gudang besar yang bertuliskan Market. Nah di sana akan ada banyak toko souvenir. Cari toko Ausin, punyanya orang Tangerang. SKSD sedikit boleh, nanti dikasih diskon 10% untuk banyak item :D.

Oia, Fremantle itu Tanjung Prioknya Jakarta. Tapi, di sini kota itu sangat rapih dan teratur. Jum’at, Sabtu dan Minggu hari paling ramai se-Perth. Banyak tempat nongkrong yang asik dengan suguhan pemandangan laut. Seandainya Tanjung Priok bisa tertata dengan rapid an teratur serta bersih, maka pelabuhan impian akan tercipta.

Featured image Featured image

Featured image  Featured image

Habis 2 jam berbelanja, saya dan om saya makan di Fish n Chips. Bisa naik Fremantle Blue CAT melewati 16 halte atau jalan kaki melawan arus bus tersebut hanya 2 halte. Jika ingin pesan 1 porsi di Fish n Chip, pastikan itu untuk makan berdua karena porsinya banyak. Kalau mau pedas, bawa sendiri saos sachet kalau tidak harus merogoh kocek lagi sebesar AUD1.95 untuk saos.

System di Fish n Chip sangat baik. Setelah pesan dan bayar di kasir, kita akan dikasih semacam receiver seukuran remote. Receiver tersebut bertuliskan, jika makanan sudah siap, receiver akan berbunyi dan menyala. Jadi, kita bisa cari tempat duduk sambil menunggu makanan kita siap saji. Setelah kurang lebih 5 menit, receiver tersebut bunyi dan lampu merahnya menyala. Segera saya bergegas untuk mengambil makanan yang sudah dipesan.

Featured image  Featured image

Makan siang kami ditemani burung cemara yang jumlahnya semakin lama semakin tidak terhitung. Jumlah ikan di pinggir pantai yang sudah dibeton juga sangat banyak. Yang membawa anak kecil harap dijaga dan hati-hati karena pinggir pantai yang dibeton tidak diberi pagar. Kalau jatuh, lumayan itu langsung ke dalam air mungkin sekitar 2 meteran.

Day 7

Pulang *dancing*.

Sebelum pulang, sepupu saya membawa saya dan papanya ke festival tulip di kebun Araluen. Perjalanan hampir 1 jam dengan kendaraan pribadi. Sampai di sana, sudah banyak sekali mobil yang datang dan sedang mengantri untuk parkir. Festival bunga ini hanya ada pada musim Spring.

Di sana banyak juga bertemu dengan perempuan-perempuan berhijab. Dan semuanya yang bertemu dengan saya, mengucapkan salam. Senang rasanya …

Masuk ke taman bunganya membayar AUD15. Worth it … karena begitu masuk, Subhanallah … cantik… berasa di Turki atau Belanda? 😀

Setelah beristirahat sejenak, saya bertemu dengan pengamen tua. Ketika memberikan uang ke dalam tas gitar kecilnya, dia bertanya saya dari mana. Jakarta. Langsung dia memainkan musik lagu Burung Kakak Tua. Amazing …

Featured image  Featured image

Featured image   Featured image

Featured image   Featured image

Featured image Featured image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s