Setengah Jalan-Jalan di Singapore

 

#Singapore #Singapura #Flyer #SingaporeFlyer #SultanMosque #Sultan #Bugis #MustafaCenter #GardenByTheBay #Changi

Rada bosen sebenernya ke Singapur karena dengan sekarang sudah ke 6 kalinya. Tapi, berhubung tugas kantor, tetap dijalankan, dengan semangat. Ya, semangat karena bisa milih hotel sendiri. Jadilah pilih di Village Bugis hotel, sangat dekat dengan masjid terbesar di Singapore, masjid Sultan.

Jadi, begitu tiba di Changi 15-Nov-15@17.00 waktu setempat, langsung ke Dock Information untuk dapat fasilitas shuttle bus gratis seperti yang dijanjikan pihak hotel. Dengan bantuan wanita Chinese setengah baya yang ramah dan sangat membantu dan kurang dari waktu 30 menit seperti yang dijanjikan, jadilah naik shuttle bus gratis sampai hotel.

IMG_9722

Karena belum sepat tukar uang, maka deposit hotel dibayarkan dulu dengan USD untuk 1 malam.  Masuk kamar hotel, tiba-tiba terdengar suara azan. Alhamdulillah karena lokasi hotel sangat dekat dengan  mesjid, maka suara azan terdengar jelas. Bergegaslah ke mesjid untuk magrib sekaligus isya.

Lepas sholat, beli air mineral seharga SGD1.5 untuk rebus mie cup J. Hotel menyediakan air mineral 2 botol, tapi tetap harus ada cadangan.

Karena on duty, maka jalan-jalan di Singapore hanya setengahnya dari kehidupan seharian. Maksudnya hanya bisa dilakukan setelah pulang kerja. Maka, jadilah Senin lepas kerja langsung capcus ke Singapore Flyer.

Naik bus dari RS Raffles dengan nomor 133. RS Raffles tepat bersebelahan dengan Village Hotel Bugis. Dengan karcis hanya SGD1.4 sampai di halte Singapore Flyer. Jalan sebentar, belok kiri, sampai deh di Singapore Flyer. Dengan bayar karcis SGD33 untuk dewasa, kita bisa masuk dan melihat2 beberapa view sebelum sampai ke flyernya.

Seperti biasa, di Singapore, kalau di tempat wisata, pasti ditawari foto yang mana kalau sudah selesai menikmati kesenangan, akan diminta cetak atau tidak. Kalau cetak, bayar lagi. Utk di flyer ini, sekali cetak seharga SGD25.

Menikmati Singapore dari ketinggian di waktu senja adalah sesuatu. Putaran sangat lambat dan memakan waktu 30 menit. Dan ternyata ada 1 kapsul khusus untuk dine. So romantic. Utk couple dengan harga SGD296, siap dengan pelayan.

Karena sudah malam dan ingin tau juga ongkos taxi, maka langsung buka pintu taxi. Tariff di awal SGD3.2 dan karena sudah malam, kena charge di atas jam 5 sebesar SGD4.3. total sebenarnya SGD5.18. jadi semua hampir SGD10.

Kembali ke Bugis, kembali ke masjid Sultan. Setelah ibadah, lihat2 sekeliling, ternyata ada yang murah2 untuk souvenirnya. Tokonya berada di belakang masjid. Yang punya keturunan Surabaya India, tapi sudah jadi WN Singapore dan cakap juga sudah melayu.

Hari berikutnya ke Mustafa Centre. Direkomendasikan oleh bagian concierge untuk naik taksi karena kalau naik bis agak susah dari hotel menginap, harus jalan lumayan dulu baru sampai halte terus setelah turun di halte juga jalan lagi. Kalau taxi, cepat, dari pintu hotel langsung ke pintu Mustafa Center. Satu kali jalan harga taxi sebesar SGD6an. Belum lagi setelah keluar pintu Mustafa Center, bakal perjuangan berat untuk naik bis dengan tentengan kanan kiri yang lumayan berat.

Mustafa Center buka 24 jam. Ga ada matinya. Semakin malam semakin ramai, khususnya di lantai 2. Giru deh kalau sudah sampai sana. Berbagai macam souvenir dan coklat banyak pilihan dan tentunya harga juga bervariasi. Kalau tidak dikontrol bisa jebol kantong J. Setelah puas dengan coklat, nyambung ke ground floor, khusus kain-kain India, Sari. Berhubung anak lagi demam India dan dia kepingin banget baju Sari, maka dapatlah 1 potong kain Sari yang sangat panjang untuk 1 stel warna pink dengan blink2 yang wow, sampai itu kain berat sekali. Padahal kain Sari itu tipis, Cuma karena blink2nya (mutenya) macet alias rame padat, jadilah berat. Kain yang dibeli seharga SGD65 + kain daleman untuk rok daleman seharga SGD3. It’s kind of a surprise lah buat My Diamond secara pas juga dengan bulan ultahnya.

Setelah puas belanja, hari berikutnya harus ke Garden By The Bay. Walaupun sudah 6x dengan ini ke Singapura, tapi belum injakkan kaki ke Garden By The Bay.

Alhamdulillah, ada teman ke sana dan baru saja ke sana minggu sebelumnya liburan dengan keluarganya. Ada kolega datang dari India, orang Swedia. Teman Project SAP sebagai coach. Jadi, secara tidak langsung beliau guide di Garden By The Bay.

Pulang kerja, ngacir jam 7.30 malam dari hotel pakai taxi, SGD10an, turun di Hotel Marina Sand Bay, yang gedung 3 kaki itu loh, yang atasnya kesambung semua dengan “perahu”. Hotel lux. Kantong belum sampai untuk nginep di sana hehe… jadi turun di tower 1, masuk ke dalam, keluar sedikit dari Tower 1 & 2, naik lift dari luar itu (masih dalam pekarangan hotel). Naik sampai lt. 6. Tadinya mau lihat pertunjukan laser dari “perahu” hotel, tapi tak kunjung juga, akhirnya langsung ke ujung jembatan penghubung hotel dan Garden By The Bay.

Ternyata di sana sudah banyak orang menikmati pertunjukan regular persembahan Garden By The Bay dari kejauhan. Ada yang benar2 menikmati, tapi ga sedikit juga yang mengabadikannya. Pertunjukan berlangsung 15 menit menjelang jam 8 malam.

Setelah selesai, meluncur turun pakai escalator, menuju “pohon-pohon” gede listrik tsb. Angkuhnya mereka berdiri dengan sangat elegan. “Pohon-pohon” terdiri dari satu induk yang paling besar di tengah, dan beberapa “anak2nya” mengelilingi. Induk “pohon” mempunyai restaurant di atasnya. Pastinya mahal lah harga makanannya. Tidak tau sih, tidak ngecek sejauh itu karena kita lebih excited untuk eksplore daratan lebih jauh.

Ada 2 “anak”nya saling berhubungan dengan tangga di atas menaranya, untuk orang-orang menikmatinya dari dekat. Tiket hanya SGD5. Sayangnya, ketika kita sampai sana, tiket sudah tutup. Terakhir pembelian tiket jam 8 malam, walaupun antrian masih panjang (pembelian terakhir tadi). Naiknya dari salah satu “anak” tangga dengan lift. Liftnya ada dalam batang “pohon”nya. Dan turunnya di anak “pohon” satunya lagi. Di antara 2 anak “pohon” itu, orang-orang yang menikmatinya akan melalui si induk.

Karena tiket sudah ditutup, lanjutlah kita ke tempat yang lain. Ketemu lah jam raksasa pepohonan. Itu seperti jam di King’s Park #Perth, #Australia. Very nice to see. Lanjut ke cloud forest. Dome yang isinya air terjun kehijauan (bukan kekinian yak). Sayangnya itu juga sudah tutup. Cuma bisa liat dari luar lewat kaca domenya. Tapi, tidak apa2. Air terjun di Indonesia lebih menggairahkan dan menarik karena sangat alami. Saking Singapura tidak punya resource alami untuk hal-hal alami, maka dibuatlah sesuatu seperti itu untuk menyegarkan Singapura sekaligus menjadi pemasukan Negara. What a brilliant idea.

Sebelahan ada flower dome. Dome yang isinya bunga2an. Well, kita bisa nemuin segala macam jenis bunga di Indonesia. Lebih variatif dan alami. Kalau sudah liat beginian, baru berasa proud to be Indonesian. Tapi kalo udah liat kasus2 korupsi, banjir, macet, bah …

Terakhir kita lihat toko souvenir. Keren2 tapi mehong2 bo. Cukup puas hanya dengan menikmati saja. Balik ke atas, kita lihat map dan ternyata ada pertunjukan lagi seperti tadi yang kita lihat dari jembatan hotel. Dan itu akan dimulai jam 8.45 malam. Bergegaslah kita berdua ke sana. Dan ternyata 10 menit sebelum dimulai, kita sudah sampai, sudah banyak orang pada duduk-duduk di pinggiran “pohon-pohon”.

Teng 8.45, dimulailah pertunjukan, dan smua orang sudah standby dengan kameranya masing2. Hanya 1 atau 2 orang yang benar2 menikmatinya tanpa kamera. 12 menit berjalan, selesailah sudah. Kami balik ke hotel untuk naik taxi dan langsung menuju Kampong Glam.

Lihat di google maps, Kampong Glam itu 10 menit jalan kaki dari hotel kami. Tapi tenyata, begitu sampai sana, mesjid Sultan kelihatan jelas banget. So, ini mah ga 10 menit tapi kurang dari 5 menit aslinya.

Cari makan di sekitar sana, dapatlah tempat Kampong Glam Café. Harga lumayan. Untuk 1 piring nasi goreng kena SGD5, mie bandung SGD5 dan minuman rata2 SGD2 seperti teh tarik dingin. Jadi, makan berdua total semua SGD14. Lumayan, ketimbang martabak ayam beli di depan masjid Sultan, harga SGD8.

Tidak terlalu ramai banget di Kampong Glam, karena sudah banyak yang tutup. Saat kita sampai di sana, sudah hampir jam 10 malam. Jadi, jangan bayangkan Kampong Glam ramai setiap saat seperti Mustafa Center yang 24 jam tidak pernah tidur.

Oya, di sana ada penjual snack/ makanan ringan, kakek2 tua dengan pakaian koko yang bersih. Kalau berada di Kampong Glam dan lihat kakek itu, janganlah sungkan membeli jualannya walau kita ga butuh. Kalau bisa kembalian tidak usah kita terima sebagai sedekah. Beliau juga menyediakan kantong amal untuk fakir miskin di Malaysia, tanah kelahirannya.

H-2, dinner di restaurant all you can eat, Carrousel, berlokasi di hotel Royal Plaza on Scotts sebrang hotel Grand Hyatt, di pusat kota Singapura, Orchard. Restaurant lux dengan sekali makan malam SGD83/ orang.

Makanannya banyak pilihan, dari sushi, berbagai macam kerang gede2, seafood, masakan India, pasta, lauk-pauk asia, kebab, buah, kue2 manis, es krim, yogurt, coklat cair fountain, kopi, teh, even wine.

Kamis malam itu luar biasa penuhnya tu restaurant. Seperti jual kacang, padahal harga ga bersahabat dengan kantong pribadi. Dunia yang konsumtif. Belum lagi menjelang X-mas, orchad sudah seperti kota lampu. Semua berlampu di setiap sudutnya.

Hari terakhir, no more choice selain ke Changi. Lepas kerja, jam 5 langsung ngacir dengan taci yang sudah dibooking. Jalur AYE, tollnya Singapur, macet bukan kepalang. Tau dari sopirnya yang buka waze plus berita di radio. Akhirnya diputuskan ambil KYE, jalur lebih jauh karena mutar haluan tapi lancar. Jadilah dari Tuas ke bandara kurang dari 1 jam. Sampai di T1 pintu masuk, ada sesuatu yang baru buat gw. Kinetic rain. Lucu. Display hujan warna gold yang bisa berpola. Kenapa bisa begitu karena dia seperti gantungan besar yang dikasih tali di atap dan elastic. Jadi bisa naik turun sesuai pola yang sudah dibentuk. Dan itu bagus. 5 menit pertama ngeliat, excited, tapi selebihnya jadi membosankan.

Sayang, sebelum imigrasi tidak ada tempat sholat. Ga asik. Jadi harus lewatin imigrasi dulu baru bisa sholat. Dan lebih sayangnya (sebel lebih tepatnya), Air Asia delay 1 jam. Aahh… ga asik.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s