Hello GMT Belitung

#GMT #Belitong #Belitung #GMTBelitung #GMT2016 #GMTIndonesia #Gerhana #gerhanamatahari #kaolin #danaukaolin #rumahadatbelitong #mieatep

20160309_071925

Maret 2016, tahun yang special untuk Indonesia karena menjadi tuan rumah dari Gerhana Matahari, baik Total maupun Sebagian (GMT & GMS).

Gegap gempita persiapannya sudah heboh di berbagai media menjelang H-7.

Pilihan gw untuk melihat GMT jatuh ke Belitong, untuk sekalian lihat negri Laskar Pelangi si Andrea Hirata. Jadilah mendayung 1 pulau, 2 – 3 pulau terlewati atau sambil menyelam minum air y? ahahaha…

Perjalanan dengan pesawat udara memakan 1 jam dengan harga tiket yang super mahal, 3x harga normal karena ada peristiwa langka yang hanya terjadi di beberapa kota di Indonesia untuk Gerhana Matahari Totalnya pada tanggal 9 Maret 2016.

Bersama klub Jejak Penjelajah Langit (JPL), gw beserta mami dan anak tercinta mendarat di bandara HAS Hanandjoeddin (TJQ) tanggal 8 Maret jam 9.35 pagi. Dari 100 peserta yang dibagi dalam 11 mini bus, kami merupakan kloter terakhir karena ada beberapa yang sudah mendarat jam 7 pagi dan bahkan 1 – 2 hari sebelumnya.

Suasana tenang dan hawa yang panas menyambut kita sebagai pelancong pemburu gerhana. Naiklah mini bus Hi-Ace dalam bendera belitungwonderful.com. Perjalanan yang lumayan jauh dari bandara ke pantai Tanjung Kelayang di jam 10.30 pagi.

Setelah semuanya kumpul, kita dibagi lagi dalam beberapa perahu untuk mengelilingi komplek di sana. 10.45 kita semua take off berlayar ke pantai Burung tepat di jam 11.00. dinamakan pantai Burung karena batu-batu yang terbentuk di sana menyerupai kepala burung. Kita tidak bisa turun ke pantai tersebut karena memang untuk tidak disinggahi apalagi dijadikan tempat tinggal. Kita hanya bisa mengambil gambarnya dari perahu.

Lanjut melancong, hampir jam 12 siang kita tiba di pulau Gede Kepayang untuk makan siang. Di pulau itu rasanya memang dikhususkan untuk makan besar karena isi dari pulau itu adalah rumah makan. Untuk menyiapkan piring saja mereka harus import dari pulau besar terdekat. Tak disangka banyak juga bule-bulenya yang nongkrong. Untuk penilaian makanan dari skala 1 – 10: 4. Cukup di bawah rata-rata karena sate cuminya alot, susah dikunyah. Rasa ikan bumbu panggangnya hambar. Untuk sholat, disediakan tempat sholat dan tempat wudhunya. Air normal bukan air asin, jadi cukup nyaman untuk melaksanakan ibadah.

Setelah cukup kita lanjut ke pulau Lengkuas, pulau yang ada mercu suarnya. Tiba di sana jam 2 siang. Sayang sekali mercu suarnya ditutup karena akan ada pejabat yang datang. Jikalau buka, maka tiketnya hanya 5000 rupiah. Dijaga oleh seorang bapak tua yang masih segar. Di komplek mercu suar tersebut ada juga tempat penangkaran penyu. Tapi sayang saat itu sedang tidak ada “penghuninya”.

Jadi karena tidak bisa masuk ke atasnya, maka kita foto grup saja di depannya. Kereeen… sekalian nyebur untuk snorkling.

This slideshow requires JavaScript.

Nyambung… ke pulau Pasir. Tiba jam 4.30. Kenapa dinamakan pulau Pasir karena memang isinya pasir semua. Tidak ada pohon apapun karena memang ukurannya kecil. Maksimal bisa menampung orang sekitar 300 berdesak-desakkan. Yang membuat pulau itu ramai disinggahi karena ada bintang laut dengan berbagai ukuran. Aman untuk dipegang. Cuma mungkin untuk beberapa orang merasa geli karena tentakel-tentakelnya yang lumayan hihihii untuk dipegang. Tapi kita tidak perlu pegang bagian tersebut. Pegang saja tangan-tangannya yang berjumlah lima itu. Keras.

Setelah puas kami lanjut bergegas untuk makan malam di @unique bistro. Tiba di tempat makan sekitar jam 7.30 malam. Untuk rasa makanan dalam skala 1 – 10, kami bisa berikan rating 7. Selesai makan, digelarlah briefing untuk acara besok seharian pengamatan gerhana. Setengah jam dari jam 8 kami tiba di penginapan untuk istirahat.

Hari yang ditunggu, 9 Maret 2016. Kaos seragam sudah siap di badan jam 3 pagi. Jam 3.30 pagi kita sudah siap semua di dalam mini bus untuk meluncur ke pantai Burung Mandi. Dalam hampir 2 jam perjalanan, kami tiba di pantai tersebut. Sholat subuh dulu di musholla pantai. Sampai di sana, para pemburu GMT sudah berjejer di sepanjang bibir pantai. Dan kebanyakan dari mereka adalah bule. Tidak cuma orang-orangnya saja yang berjejer tapi juga alat perangnya sudah dalam barisan, yaitu teleskop dan kamera-kamera super canggih. Gw? Cuma mengandalkan handphone dan kaca mata khusus melihat matahari :D.

Diperkirakan GMT puncak di Belitong terjadi pukul 7.25 pagi. Jadi dari 6.30 saat-saat matahari masuk ke dalam bayangannya sudah dimulai. Rada sedih karena berawan terus dari awal sampai dengan selesai. Yang pakai kamera canggih tidak sedih-sedih amat sih karena sangat mengandalkan alat and it worked!

Sesekali kita melihat perjalanan GMT tersebut dengan kacamata khusus karena akan berbahaya jangka panjang bila kita melihat matahari langsung. Pemakaian kacamata juga tidak boleh terus menerus. Setiap 5 menit harus kita copot agar tidak berdampak jelek ke mata.

5 menit menjelang GMT, itu adalah saat-saat yang menegangkan sekaligus mencengangkan. Semua orang sudah stand by. 1 menit menjelang GMT keadaan sudah mendekati gelap, seperti masuk waktu magrib. Hewan-hewan kebingungan. Burung-burung bersahut-sahutan. Ramai. Tapi kita yang manusia diam seribu bahasa. Ketika puncaknya, otomatis gelap sekali keadaan di sekeliling dan kita semua banyak yang memuji kebesaran Allah dengan kata-kata mutiara, walaupun ada juga yang teriak-teriak karena excited!

Masya Allah, Subhanallah… it’s amazing. Baru ngerasain GMT pertama kali. Rasanya itu… GREAT! Menyaksikan “malam” sekejap di waktu pagi. Unbelievable. Kuasa Ilahi. Sejenius-jeniusnya orang, ga ada yang bisa nandingin/ bikin moment itu dengan alat secanggih apapun.

20160309_06245820160309_06504220160309_06542220160309_06562620160309_06594620160309_07240120160309_07252320160309_07270220160309_07304020160309_07402120160309_07512620160309_07523720160309_07541320160309_075418

Belum selesai gerhana sampai dengan 8.30, kita sudah bebenah. Yang sudah dapat momentnya di kamera langsung share. Ah keren-keren banget deh yang pakai kamera professional. Thumbs up.

Jam 8 pagi kita semua cao, berhenti sebentar untuk ngopi-ngopi dan ngeteh di central coffee. Tiba di sana jam 9. Ngemil-ngemil mie wkwkwkwk… well, tempat nongkrong kopi itu tempat yang strategis. Berjejer warung kopi di kanan kiri dengan di tengahnya tugu kopi.

Puas ngopi-ngopi, kita lanjut sampai di Museum Kata Andrea Hirata jam 10.30. hanya 15 menit waktu untuk menikmati museum itu. Puas tidak puas kawan karena masih panjang agendanya.

Museum yang unik dan penuh warna. Kami bertiga lama di pojok oleh-olehnya. Biasa… si bocah milih-milih kaos dan gantungan kuncinya lama. 15 menit selesai, panitia nyebar cari orang2nya untuk dikumpulin lagi ke mini bus karena kita akan melanjutkan ke SD Laskar Pelangi.

Bangunan SD itu hanya replika dari aslinya. Menurut informasi yang dipercaya, SD aslinya sudah direnovasi. SD replika itu terbuat dari rotan dan hanya terdiri dari 2 kelas dengan banyak rayap dan bangsat (sejenis binatang yang tidak terlihat tapi baunya menyengat tidak enak).

12.00 siang, waktunya makan. Kami meluncur ke rumah makan dekat pantai Laskar Pelangi. Skala rasa 1 – 10: 6. Selesai makan dan zuhur, kami nyebrang jalan (walau dengan mini bus juga) ke pantai Laskar Pelangi. Pantai yang terkenal dengan batu granitnya yang besar-besar.

Setelah puas berkeliling dan foto-foto narsis, kami melanjutkan ke komplek Pondok Kelapa untuk beli oleh-oleh khas Belitong lalu lanjut ke pantai Tajung Pendam sekitar jam 4 untuk rehat sebentar lalu lanjut makan malam jam 18.30 di RM Mak Panggong. Skala rasa 1 – 10: 7.

Jam 20.00 tiba di hotel untuk istirahat. Istirahat bukan berarti tidur malam karena kita berencana untuk star party. Exciting. Jam 11 malam semua sudah stand by. Ini di luar agenda karenanya ada biaya tambahan. So, jam sebelas itu kita semua sudah siap tempur dengan 4 mini bus.

Tempat pertama kita singgahi, kita batalkan karena kita masih melihat ada polusi cahaya datang dari sebuah pabrik dan cahaya itu seperti lampu tembak. Walau di sekeliling kita sudah ok, lapangan dan gelap gulita tapi kita tidak bisa teruskan berdiam diri di sana. Alhasil kita cari tempat baru dan dapatlah di pinggir jalan beraspal. Sama sekali tidak ada cahaya. Lampu-lampu mobil dimatikan. Dan lesehanlah kita di jalanan. Ketika ada kendaraan lewat, mobil mini bus penjaga akan menyalakan lampu sebagai tanda dan kita yang ada di tengah-tengah langsung merapat. Banyak tatapan aneh dari para pengendara yang lewat ke group kita. Group yang aneh mungkin pikir mereka, lesehan, celentangan, berdiri nunjuk-nunjuk langit, foto-foto langit :D.

DSC_0400 (1)
photo by Martin Marthadinata

Group pertama bertahan hanya sampai jam 2 pagi. 1 mini bus mengantar kita ke hotel dan baliknya bawa martabak pesanan group kedua. Group kedua balik ke hotel sekitar subuh. Foto-fotonya, mmm… cetar-cetar…

Hari terakhir, hamper semua peserta star party pada bangun siang. Susah melek. Tapi karena panitia masih ada hutang sarapan untuk yang belum dapat mie atep, maka gw dan yang lain langsung bergegas dan dijemput mini bus jam 10 untuk makan mie atep, mie yang terkenal di Belitung, secara gratis.

Baru kali ini ngerasain mie yang kuahnya kental dan manis seperti pakai gula. Mie ini sangat terkenal di Belitung dan dimiliki oleh seorang wanita bernama Atep. Warungnya ramai terus. Rasanya memang ada yang kurang kalau di suatu tempat baru kita tidak mencoba iconnya.

Jam 11 kita balik ke hotel untuk check out karena kita akan melanjutkan makan siang di tempat yang kemarin disingahi yaitu Unique bistro.

Perut kenyang, langsung lanjut ke rumah adat Belitong sekitar jam 2 siang tiba di sana. Sebelumnya mampir ke masjid raya. Rumah adat tersebut ada 2. Yang pertama dan terluar adalah rumah utama yang berisi ruang keluarga, ruang tamu, teras, dapur dan ruang makan. Rumah kedua yang di belakang adalah kamar tidur. Rumah tersebut adalah rumah panggung dengan ciri khas tangga untuk masuk ke dalamnya.

20160310_12272920160310_12155920160310_14082120160310_14050020160310_14012820160310_135421

Puas foto-foto, kita lanjut ke danau Kaolin. Danau yang cantik! Warna danau yang biru terang dengan kaolinnya putih seperti pasir putih. Warna biru terang tersebut dikarenakan pantulan kaolin karena sinar matahari. Kaolin digunakan untuk industri kecantikan, khususnya untuk pembuatan bedak. Rasanya bagus untuk foto nikahan di sana.

Tidak berlama-lama di sana karena memang hanya bisa menikmati pemandangannya tanpa bisa mendayung di danaunya, maka kami cukup setengah jam dan lanjut ke bandara untuk balik kampung ke Jakarta dengan penerbangan jam 16.30.

20160310_181722

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s