Star Party di Bromo, Beautiful Indonesia

credit: Martin Marthadinata

#starparty #pengamatanlangit #bromo ##ijen #kawahijen #baluran #tamannasionalbaluran #savana #indonesia #beautifulindonesia

Star Party di Bromo, Beautiful Indonesia

Jalan-jalan kali ini berdasarkan kegiatan star party kami, para pecinta astronomi dalam klub jejaklangit.com, untuk mengamati kekuasaan Sang Pencipta melalui langit dan kebesaran lain dari-Nya dan tentunya belajar astrofotografi selama 4 hari, 27 – 30 April 2017.

jejak langit website

Transportasi

Banyak maskapai penerbangan yang bisa digunakan jika hendak berangkat dari Jakarta ke bandara Juanda, Surabaya dengan harga kisaran 300-500rb.

Jika memilih darat, lebih enak menggunakan kereta malam dari stasiun Gambir, Jakarta ke stasiun Turi, Surabaya.

Sebenarnya yang lebih praktis adalah langsung ke Banyuwangi. Tapi jika akhirnya rombongan kita di darat untuk tournya menggunakan bis, disarankan meponya di Surabaya.

Untuk tournya, jika tidak punya teman atau kenalan untuk menemani, lebih baik langsung kita book travel yang sudah biasa menangani tour-tour semacam ini seperti jongjavatrip.com.

20170427_061116
pemandangan dari kereta
20170427_065428
Stasiun Ps. Turi

Kawah Ijen

Mendengar kawah Ijen, imajinasi langsung ke blue fire. Kawah sumber belerang yang cantik dengan penampakan blue firenya di pagi dini hari. Penampakan blue fire hanya bisa dilihat di 2 tempat di dunia ini, yaitu Indonesia dan Eslandia.

Untuk memulainya, kita bisa mempersiapkan diri sebelumnya dengan istirahat sebentar di daerah sekitar Ijen. Jika ingin nyaman, kita bisa bobo syantik di guess house. Tapi jika ingin ada rasa adventure, kita bisa buka tenda di daerah Paltuding ini.

Jika mengincar penampakan blue fire, lakukanlah kunjungan di musim kemarau karena presentasi melihat blue fire tersebut sangat besar. Ketika tulisan ini dibuat, saya hanya disuguhkan 3 titik biru kecil selama beberapa menit saja. Selebihnya? Asap belerang tebal yang menutup blue fire, dada yang sesak dan mata yang pedih.

Perjalanan dimulai dari jam 2 pagi dini hari. Kenakan jaket musim dingin, sepatu gunung dan tracking pole.

Membutuhkan waktu 2 jam hingga ke kawah. Jadi bisa dipastikan tiba di sana jam 4 pagi. Jarak yang ditempuh hampir 4 km dengan medan penuh tantangan di 1.7 km pertama (tanjakan terjal) dengan ditandai di pos timbangan dan sisanya jalanan yg cenderung landai.

Jika tak ingin betis dan paha kaku alias uratnya ketarik, pilihan “taxi” menjadi alternatif yang ok. “Taxi” di jalur sana berarti gerobak tempat duduk yang ditarik oleh 3 driver dengan merogoh kocek sekitar 400-600 ribu untuk pp atau 350 ribu sekali jalan untuk naik saja. Jika turun harga lebih murah dari naik.

Jika sudah hampir mau sampai kawah, akan ada beberapa pedagang menawarkan jasa penyewaan masker dengan pembukaan harga 30 ribu. Bisa ditawar sampai dengan 15 ribu.

Jika sudah sampai di kawah, selamat berburu blue fire dan jangan lupa mengabadikannya.

Menjelang matahari hendak terbit, bergegaslah ke puncak. Jangan lewatkan momen ini karena pemandangan yang disuguhkan sangat menawan dengan kawah ijen warna kental (seperti cat kalau kata seorang teman 😊) dan sunrise yang aduhai.

Jika sudah selesai, ketika turun ke bawah, akan kita temui beberapa pedagang belerang yang menjual belerang2 yang sudah dipahat dan dicetak.

 

20170428_050917

Taman Nasional Baluran (TNB)

Dengan luas 25 ribu hektar, TNB menampung banyak jenis tumbuhan dan hewan-hewan seperti rusa, kijang, banteng, monyet, ayam hutan, ular, macan, dll. TNB ada sebagai hutan pemanfaatan dan hutan pengembangan.

TNB memiliki beberapa spot yang bisa dikunjungi oleh para pelancong dan diabadikan sebagai background cantik. Ever green, spot pertama yang selalu hijau walau musim kemarau disebabkan adanya sungai bawah tanah yang terus mengalir dari gunung Baluran di sekitar area itu. Jika nekat, kita bisa turun dari mobil dan mengabadikannya dari tengah jalan untuk foto dan dijamin hasilnya cantik.

Afrika Van Java, begitulah sebutan untuk savana Baluran karena tempat tersebut secara fisik mirip dengan padang luas Afrika yang luas dan kuning karena rumput dan pohon menguning di savana tersebut dan itu terjadi di musim kemarau. Jika bukan musim kemarau, savana tersebut akan menghijau dan hal itu jadi tidak terlalu identik dengan sebutan Afrika Van Javanya.

Pantai Bama adalah destinasi lain yang bisa dikunjungi. Pantai yang tidak terlalu bagus karena hanya sedikit luas penampangnya yang bisa dikunjungi karena terbatas-batas dengan hutan mangrove. Jadi cantik jika kita bermaksud menjadikan hutan mangrove sebagai background foto. Dan jadi cantik juga bila kita memang mau menyusuri sisi lain pantai yang sebenarnya sangat panjang.

Jika memang kita turun di titik manapun dalam TNB, harap waspada akan hewan-hewan yang ada di sana, khususnya monyet yang berkeliaran dan suka mengambil makanan atau minuman yang kita bawa. Kuncinya jangan bawa makanan dan minuman dalam plastik Indo**r*t karena para monyet sangat mengenali plastik tersebut sebagai sumber makanan tambahan untuk mereka.

TNB juga menyediakan guest house jika kita mau bermalam di sana. Hanya pastikan pintu dan jendela tertutup agar hewan khususnya monyet tidak masuk. Dan juga pastikan lampu emergency ada dan menyala karena listrik di penginapan tersebut dimatikan setiap jam 10 malam sampai dengan 6 pagi.

TNB pernah mengalami kebakaran hebat pada tahun 2015. Sekitar 90% area terbakar menyebabkan semua tumbuhan mati dan hewan entah pergi kemana. Dan perlu waktu 6 bulan untuk kembali menghijau. Kebakaran terjadi karena adanya gesekan antar ranting yang menyebabkan percikan api. Walau bukan karena manusia namun tetap berhati-hati, jangan merokok jika berada di sana.

IMG-20170428-WA0102

This slideshow requires JavaScript.

Bromo

Siapa yang tak kenal Bromo? Gunung cantik nun dari kejauhan yang diselimuti kabut tebal di pagi hari yang membuat suasana jadi dramatis, ditambah lagi dengan pesona sunrisenya yang aduhai, membuat orang-orang tersirap untuk menikmati keindahannya.

Di Bromo inilah kita star party sambil astrophotography. Perjalanan dimulai dari home stay jam 12 tengah malam ke lapangan belakang Lake View Lodge. Buka tripod, buka kamera pro, buka teleskop, buka matras. Dan tentu saja buka cemilan karena jam kritis perut.

Charter jeep dari Lake View Lodge. Hari biasa harga sewa 650rb pp. jika long weekend seperti kemarin, bisa lebih. Kalau sendiri bisa ngojek dengan harga hari normal sekitar 200rb pp.

Belum puas belajar motret langit malam, khususnya Bima Sakti, sambung berangkat ke tempat tinggi di Bromo untuk melanjutkan pemotretan. Lebih tepatnya melihat sunrise, tapi berhubung klub kita adalah klub astro, jadi lebih untuk mengamat dan memotret langit. Di Bromo ada 3 spot untuk lihat sunrise, yaitu: Bukit Cinta, Bukit KingKong dan Penanjakan 1. Untuk pengamatan langit dan melihat sunrise, spot terbaik ada di Penanjakan 1. Tapi, berhubung long wiken kemarin wisatawannya membludak, maka diputuskan untuk hinggap di Bukit KingKong.

Pemotretan langit malam tidak berjalan dengan lancar karena terlalu banyak orang hilir mudik dengan senter.

Sunrise tiba. Cantik. Waktunya pasang kamera untuk time-lapse.

Selain 3 spot untuk menunggu sunrise, Bromo juga menyediakan tempat lain untuk dinikmati alamnya, yaitu Kawah Bromo, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies. Untuk sampai ke kawah, kita bisa jalan kaki dari parkiran jeep sejauh 2 KM + naik tangga 250 buah. Jika ingin menghemat tenaga, kita bisa sewa kuda seharga 125rb pp. Jika satu arah, 100 rb. Jadi lebih baik langsung saja bayar pp. Naik kuda hanya sampai di bawah tangga. Kuda dan drivernya akan menunggu.

Setelah menaiki tangga, kita bisa menikmati aroma belerang bersama kawahnya serta suaranya yang lumayan horor. Hati-hati jika sudah berada di atas permukaan kawah, karena jalan setapak yang tersedia benar-benar setapak untuk 2 jalur.

 

Oleh-oleh

Tahun yang ditulis sekarang adalah tahun kekinian untuk kue Snow Cake ala Shiren Sungkar.

Tak lupa juga sambal Bu Rudy dan udangnya yang memang sudah terkenal lama.

Plus lapis Surabaya dan juga almond crispy.

special thanks to panitia JPL

Gigih
salah satu penampakan panitia JPL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s