Umroh Mandiri

umroh01

Tulisan ini diposting tgl 9 Feb 2018, akan memaparkan hal-hal kecil yang tidak banyak diungkap para peumroh dalam tulisan. Dan ini merupakan murni pengalaman Pribadi.

#umroh #umrohmandiri #umrohbackpacker #umrohsendiri #visaumroh #pullmanhotel #mirageassalamhotel #nabawi #masjidnawabi #ka’bah #kabah #mekah #madina #hoponhopoffmadina #kurma #miqot #tawaf #sai #zam-zam #cadar #hitam #rukunyamani #hajaraswat #hijrismail #makamibrahim #baqi #uhud #tanim #sholatsyuhada #rumahmakanindonesia #alqarat #rawdah #kubahhijau #pintu25 #kebab #BDUmroh #BackpackerDunia #Backpacker

Selain tulisan pribadi, ada banyak masukan juga dari teman-teman Backpacker Dunia yang dihimpun atas persetujuan mereka. Terima kasih untuk teman-teman Backpacker Dunia. Syukron.

BDUmroh01

 

umroh cover

Dibilang umroh backpacker, ga juga Karena hotelnya di ring 1 Mekkah Al-Haram. Tapi semua urus sendiri, jadilah namanya umroh mandiri. Tiket jadi satu dengan penerbangan ke Turki (jalan2 di Istanbul) dengan harga 9,8jt (padahal ada alternative lain lewat Mesir hanya seharga 5jt PP, tapi karena kita ingin banget nginjekin kaki ke Istanbul, jadilah hampir 2x lipatnya).

Semua diawali dengan visa umroh pastinya. Untuk visa umroh ini (sebelumnya ingat untuk booking tiket pesawat, cari-cari yang murah ya dan vaksin meningitis agar dapat kartu kuning), kita dapatkan LA (Land Arrangement) di agency temannya abang. Biaya sekitar 1,8juta per orang (termasuk fee). Begitu visa dapat, baru kita pede booking-bookingin hotel.

Untuk kelengkapan detail harga, bisa diliat di bawah cerita variasi mengenai umroh ini. Cekidot, gan…

Bandara dan Imigrasi

Karena umroh mandiri dan abang gw pilih penerbangan Saudi Arabia, jadilah kita turun di Madinah dulu (setelah dari Istanbul). Sesampainya di imigrasi, semua aman-aman aja. Begitu keluar pintu yang benar-benar keluar, eh petugas nahan kita semua. Dan ga Cuma kita sih, banyak juga keluarga dan perorangan yang pada ditahan. Nyokap udah senewen dan bete liat petugas (secara waktu nyokap umroh sebelumnya pakai travel/ group yang nota bene kagak ada penahanan kayak gini). Abang gw yang maju, ngobrol. Dan ternyata petugas-petugas itu memastikan kedatangan kita benar untuk umroh (bukan untuk jadi TKI gelap) dengan menghubungi agent yang mengeluarkan visa LA kita.

Lumayan ditahan lama sampai mereka berhasil menghubungi agentnya. Bener sih mereka ga mau kecolongan di negrinya sendiri. Dan ga mungkin juga kita meyakinkan mereka Cuma dengan omongan kalau kita pure umroh.

Setelah agak lama (sebenernya belum berhasil terhubung sih), tiba-tiba ada orang Arab pake gamis putih sorban merah ngambil troli gw yang isinya 4 koper gede. Gw waspada dong, gw bilang, “No, it’s ok, let me do it”. Trus, dia ga mau kalah sama gw, “No, I’ll do.” Yeh, ngeyel nih orang. Gw diemin trus gw bilang sama abang gw, katanya, “Biarin, itu sopir taxinya.” Lahhh… gw kira petugas bandara. Mak gw juga mengira hal yang sama dan doi juga waspada. Langsung ketawa dah gw.

Kata abang gw tuh sopir taxi ngomong sama petugas bandara, “Gw tau nih sama agent ini. Ok, ga masalah.” Nah, direlease lah kita sambil gw cengangas-cengenges. Habis dari pakaiannya sama semua, gamis putih en sorbanan. Lah, trus gw pikir itu taxi udah dibooking, ternyata ga. Emang ada aja sopir taxi yang masuk bandara, cari penumpang. Dan dengan begitu dia ada andil juga sih ngebantu kita. Kalau ga, bakal lebih lama lagi untuk sampai berhasil menghubungi agent kita di sana.

Untuk keluar tanah Arab (pulangnya nih), kita lewat bandara Jeddah. Karena abang gw ga mau lewat terminal Haji, makanya dia pilihnya Saudi Arabia di terminal internasional Jeddah. Check-in lah koper-koper dan air zam-zam kita di sana. Begitu kelar, masuk dong imigrasi. Eh, ditahan, ga bisa masuk kata petugas. Abang gw sampe cek ke 3 petugas dan jawabannya sama semua, ga bisa masuk lewat imigrasi sini karena visa kita umroh. Udah milih Saudia Arabia karena ga mau lewat Hajj terminal, eh dioper juga ke sana.

bawaan kita hahahahaha
koper2 kita. itu belum semua 😀

Alhasil, jadilah kita ambil taxi lagi dan melaju ke terminal haji dengan jarak tempuh 20 menit dan ongkos 100 real. Barang-barang yang sudah check-in tidak masalah. Tegang dan senewen abang gw karena berpacu dengan waktu, belum lagi itu terminal terkenal dengan antriannya yang super panjang dan lousy.

Itupun sopir taxi tanya lagi ke orang-orang di sekitar sana karena katanya Hajj terminal ada 2. Satu untuk umum satu untuk Saudia Arabia. Nah loh… sesudah dipastikan terminal itu, masuklah kita ke dalam terminal 1000 tenda. Ealahh… antriannya panjang amat tong. Udah gitu check-in counter kita dibilangnya udah ditutup lagi, eh malah disuruh jalan-jalan sama petugas. Baru beberapa langkah, dia samperin kita, mastiin penerbangan kita. Begitu bilang Saudia Arabia, langsung diurusin tuh check-in kita sama petugas itu sampe dapat boarding pass.

Setelah kelar boarding pass, sebelum masuk imigrasi, ada lagi pintu yang harus dilewati. Di pintu itu kita dilarang bawa tas jinjing lebih dari 1. Jadi yang di selempang/ backpack 1, yang dijinjing/ koper kecil 1. Ga boleh lebih. Yang bawa lebih, ga dikasih masuk. Karena kita berlima, kita liat siapa yang masih lenggang, sama yang pegang 2, dibagi dulu. Pas udah masuk, baru balik lagi ke awal jinjingannya.

Ketika semuanya kelar, kita udah di ruang tunggu, dipanggillah penumpang Saudi semuanya. Naik bisnya bandara. You know what? Kita balik lagi ke bandara Jeddah internasional itu! Iya, yang terminal awal kita singgahin. Ya ampun… bener-bener dah. pantesan, biasanya kan cepet ya kalau kita naik bis bandara ke pesawat karena ga lewat belalai gajah. Gw berasa kok lama banget ya ini perjalanan. Dan gw ngeliatin jalanannya itu, yaelah, ini mah yang tadi kita naik taxi, bedanya kalau pakai bis ini lewat komplek dalam bandara, kalau umum belum masuk komplek bandara lewat luarnya yang muter lebih jauh. Bener-bener sesuatu dah.

So, guys, jika ditulis di tiket bandaranya Jeddah internasional tapi visa umroh, pastikan lagi ya sebelumnya kudu imigrasi di bandara mana, jangan kayak gosokan kitanya soalnya mesti memperkirakan waktu juga. Tapi, yang pasti kudu di Hajj terminal ketimbang di internasional terminal.

Umroh

Sebenarnya umroh itu hanya paling lama 2 jam saja. Mulai dari tawaf sekitar kurleb 1 jam tergantung posisi. Semakin dekat dengan posisi ka’bah semakin cepat (paling sekitaran 15 menit dengan hitungan langkah lambat karena padat). Semakin jauh semakin lama, apalagi jika tawafnya di lantai paling atas, sai sekitar 45 menit sampai dengan 1 jam-an lebih tergantung kecepatan kaki dan tahalul, ga sampai 5 menit dari ambil gunting sampai taro gunting lagi, kecuali menggunduli kepala. Di luar itu ada tambahan rentang waktu dari setelah miqot ke perjalanan ke ka’bah, tergantung posisi miqotnya di mana.

Tapi 2 jam itu jangan dianggap enteng loh. Tetap butuh fisik dan stamina yang ok. Apalagi bagi yang jarang atau ga pernah olah raga sama sekali. Dijamin tegang abis itu betis. Dan kalau nemenin senior, kudu sabar. Kalau mereka lelah, sewa aja kursi roda-kursi roda yang tersedia di sana. Ga tau berapa harganya karena ga pakai dan ga nanya juga.

BDUmroh48

Terus kalau Cuma 2 jam saja, kenapa paket-paket umroh itu bisa sampai 9 hari bahkan 2 minggu atau lebih?

Jawabannya: Ya, sayang aja kalau kita udah jauh-jauh dari Indonesia dengan uang yang lumayan untuk bayar tiket pesawat dan akomodasi trus habis umroh 2 jam langsung balik Indonesia gitu?

Kan kita bisa umroh berkali-kali kalau sudah di situ, asal tau jalan ke miqotnya aja. Sama juga emang kita ga mau napak tilas sejarah Islam khususnya perjuangan Rosululloh? Sayang banget kalau ga ngelakuin itu. Kita bisa napak tilas ga Cuma di Mekah tapi juga di Madinah. Emang ga mau ke masjid Nabawi di Madinah (Cuma umroh aja)?

Dengan staynya kita katakanlah 5 hari di Mekah, kita bisa ngelakuin umroh minimal 2 kali atau maksimal 10 kali tergantung fisik (karena ketika umroh itu bener-bener ngandelin fisik yang prima). 10 kali dalam arti sehari 2x umroh. Pagi dan sore/ malam.

Selebihnya sholat di masjid Nabawi, masuk ke rawdah. Berkali-kali masuk rawdah juga bisa asal kuat badan berhimpit-himpitan/ kejepit-jepit dengan berbagai macam orang.

Begini urutan umroh:

  1. Niat umroh ketika miqot
  2. Talbiyah sepanjang jalan sekaligus shalawat
  3. Tawaf
  4. Sai
  5. Tahalul

BDUmroh46

Askar

Askar atau penjaga masjid adalah orang-orang yang bertugas menjaga ketertiban, kemanan dan kenyamanan masjid. Kebanyakan dari mereka tugasnya yang mengatur shaf, apalagi di Mekah yang perempuannya pada kepingin sholat di depan dan itu ga boleh. Makanya banyak askar yang pada nyuruh perempuan ke shaf belakang.

Askar laki-laki berseragam hijau atau tantara. Sedangkan perempuan bergamis hitam dan bercadar, bahkan sampai matanya pun tidak kelihatan. Dan di depan dadanya mereka sematkan ID petugas.

Baik laki-laki ataupun perempuan, askar-askar tesebut rata-rata galak-galak karena mereka harus menegakkan haq. Seperti masalah shaf sholat, juga membetulkan yang syirik-syirik. Iya, masih banyak orang-orang yang syirik-syirik khususnya 3 bangsa yang rese itu ketika ibadah. Contoh melihat sendiri, di Tan’im mereka mengelus-ngelus tiang masjid lalu mengusap-usapkan tangan mereka ke wajanya. Ga salah kalau askar langsung teriak “Ya Hajjah… Haram! Haram!!!”.

Sama seperti di rawdah dan ka’bah. Begitu juga. Pilar rawdah dielus-elus, ga tanggungg-tanggung, ga Cuma pakai tangan tapi juga pakai pashimanya, terus dilap-lap tuh pashminanya ke mukanya. Hedeeehhh…

Belum lagi di rawdah yang sholatnya menghadap makam nabi. Ampun deh. Gimana askar ga spanneng ya? Syirik kok dipiara?

Tugas lain mereka adalah memeriksa isi tas ketika jamaah masuk masjid. Memeriksa apakah kita bawa apa yang sudah dilarang seperti kamera pro atau botol lebih dari 1. Ketika kedapatan kita bawa kamera, askar akan menyuruh kita keluar, ga boleh masuk sama sekali. Alhasil, sholat di halaman masjid saja. Begitu juga di Nabawi ketika bawa botol besar lebih dari 1, dia akan buang semua botol dan Cuma disisakan 1 saja.

Mekah, khususnya Al-Haram, tidak seketat Nabawi untuk pemeriksaan akhwat, hal ini dikarenakan jamaah di Al-Haram suangat banyak dan itu ga memungkinkan askar memeriksa semuanya. Tapi tetep deh kalau niat umroh yang hanya 2 jam itu, ga perlu bawa-bawa kamera pro masuk ke lantai dasar Ka’bah, biar focus juga untuk mentutaskan ibadah itu.

Miqot

bir ali
Bir Ali

Gimana kalau kita umroh mandiri ingin umroh lagi? Sedangkan kalau ikut rombongan kan ada waktunya dan bisnya untuk miqot?

Jangan khawatir. Kita bisa pergi sendiri ke miqot-miqot yang udah ditentukan pakai bus umum, Saptco namanya. Untuk miqot terdekat, kita ambil Tan’im, masjidnya Aisyah r.a. Dari arah gerbang Zam-zam tower, kita belok kiri, lurus terus sekitaran 10 – 15 menit jalan kaki (secara itu pelataran/ halaman Al-Haram), lalu nyebrang jalan yang isinya banyak taxi ngetem, samperin deh bis-bis yang ngetem warna merah tulisan Saptco. Beli dulu tiketnya sama tukang tiket yang duduk di pinggir jalan seharga 2 real per orang.

Habis beli tiket, langsung naik, serahin tiket ke sopir, cari tempat duduk, duduk yang manis sekitar 15 menit, sampe deh di Tan’im. 99% penumpang itu tujuannya sama. Setelah sampai, kalau mau balik lagi, langsung naik bis yang sama di depan samping pekarangan Tan’im. Itu langsung ke Ka’bah. Turun di tempat yang sama ketika kita mulai naik bis. Jalan lagi ke arah Al-Haram, langsung tawaf dan seterusnya.

Jadi total kita miqot di Tan’im itu sekitar hampir 2 jam.

Hajar Aswat

Perjuangan yang sangat berat untuk bisa mendapatkan dan mencium hajar aswat. Pengalaman gw Pribadi ga sampe padahal udah tinggal 1 meteran lagi. Gimana enggak, badan gw dihimpit oleh para ihwan yang gede-gede dan tinggi-tinggi dengan aroma campur aduk plus keringet-keringet mereka. Gw ambil posisi dari rukun yamani. Merayap terus ke arah hajar awsat. Di depan gw ada 2 orang ibu-ibu, tapi lambat laun mereka menyingkir. Dan begitu gw udah mau deket, gw baru sadar di sekeliling gw laki-laki semua. Gw bener-bener digencet sana-sini. Sampai gw teriak manggil askar pun ga denger itu askar yang gelantungan di atas hajar aswat. Jamaah laki-laki itu malah pada ketawa gw panggil-panggil askar.

Ga usah masuk, keluar dari hajar aswat aja susahnya minta ampun. Alhasil banyak yang keluarnya lewat atas tangan-tangan jamaah lain. Iya, body jumping, kayak di konser-konser music itu.

Sampe gw udah agak susah bernafas karena udah bener-bener kegencet, setelah manggil askar tanpa hasil akhirnya gw teriak kenceng pake Bahasa Inggris, yang kurleb kayak gini artinya, “Minggir lo semua gw mau keluar!”. Sampe 3x ga pada ngegubris, pas ke 4x gw pake oktaf tingkat 7, baru pada “hoh”, dan alhasil mereka kasih gw jalan keluar. Aje gile…

Baru aja habis berjuang yang tanpa hasil itu dengan badan basah kuyup sampe ke hijab, tiba-tiba ada yang nyamperin, akhwat Indonesia, nawarin untuk gw bisa cium hajar aswat. Gw bilang ga usah, nanti saya coba lagi. Yang gw tau pernah denger katanya jasa itu bisa sampe 1 jutaan rupiah. Ya udah, gw pasrah aja lah.

Besokannya sholat zuhur di halaman luar Al-Haram, depan pintu Zam-zam tower, ngobrol deh tuh sama ibu-ibu dari rombongan umroh, katanya yang nawarin jasa hajar aswat itu bayarannya 200 ribu rupiah. Lahh… kok murah? Tanya gw. Iya, tadinya yang ditawarin bilang 100 ribu, tapi yang nawarin bilang lagi, jangan mbak, saya kan berdua sama temen saya, jadi 200 ribu aja. Nah, ternyata oke lah harga segitu ya sebenarnya. Tapi, tetep kita tetap berjuang untuk menuju ke sana, mereka hanya membantu membentengi/ mengkover kita.

Wah, kalau tau segitu, gw langsung hajar itu. Tapi, ya sudahlah, sudah sangat Lelah badan ini sehabis terhimpit-himpit kemarin, badan gw pada sakit-sakit dari ujung rambut sampai ujung kaki #lebaytapibener. Yang penting gw udah dapet Hijr Ismail, Rukun Yamani dan Kiswah.

Ada yang bilang, kalau mau mudah dapet hajar aswad, biasanya deket-deket mau sholat wajib karena pas sholat wajib kan semua masuk shaf sholat, jadi bener-bener clear up deh tuh depan hajar aswat. Atau sesudah sholat wajib (setelah sholat syuhada), langsung deh ngacir ke sana karena masih kosong. Tapi, keuntungan itu hanya untuk kaum Adam aja karena ga ada yang namanya kaum Hawa boleh sholat depan Ka’bah persis.

Tengah malam kan bisa… gitu kali ya komentar yang baca. Hehehe… kalau ada yang bilang New York kota yang ga pernah tidur, jangan salah, Mekah lebih ga tidur. Mo siang bolong kek, mo tengah malam kek, tantangan banget deh ngedapetin hajar aswat. Mo jam 2 pagi kek, tetep aja butuh perjuangan untuk itu. Jadi kota mana yang lebih ga tidur? 😀

BDUmroh51BDUmroh52

BDUmroh55

BDUmroh66

BDUmroh69BDUmroh70

Hijr Ismail

Mau bisa dapet Hijr Ismail beserta kiswah sekaligus? Tinggal antri aja di pintu masuknya, ikutin arus terus masuk, jangan berhenti sampai di sisi sebelah kiri (pilar yang ga ada pintu sama sekali. Mentok jadinya, paling ujung). Nah, di sebelah situ agak mendingan kita bisa sholat sunah 2 rokaat, berdo’a yang lama, trus sambung kiswah bermenit-menit. Gw aja bisa sampe nyambung lagi 2 rakaat, hehe… Alhamdulillah.

Yang lama-lama di kiswah, kita colek aja terus billang, “Ya Hajjah/ Hajj… Khuruj, khuruj”. Maksudnya keluar sana, udaan lu, kelamaan. Karena kalau udah dapet kiswah, dijamin bakal ga bisa cepet dah orang untuk melepas kiswah. Dan dijamin banyak yang sembab matanya habis dapetin kiswah.

Multazam

Tempat ini adalah tempat di mana do’a-do’a diijabah. Tempat ini lebarnya kurleb 2 meteran, terletak antara hajar aswat dan pintu Ka’bah. Ga gampang untuk sholat di depan Multazam karena askar selalu menghalau kita. Ga peduli kita laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Keliatan ada yang sholat depan Ka’bah (sebelum waktunya sholat wajib) khususnya di depan Multazam ini, askar akan ngusir.

Secara tantangan juga untuk ini, maka carilah alternative. Naik ke lantai berikutnya lewat jalur sai. Jadi setelah selesai tawaf, kita diarahkan ke jalur sai. Masuk sai, terusin ibadahnya kalau lagi umroh, kalau ga (sengaja mau dapet Multazam), langsung belok kiri, pintu pertama sebelah kiri, naik tangga, cari tempat sampai segaris lurus sama Multazam, gelarlah sejadah di sana. Ini tempat khusus perempuan secara kita ga akan bisa gelar sejadah di depan tempat itu karena diperuntukkan bagi laki-laki (tempat tawaf lantai atas. Semua tempat tawaf yang langsung ngadep Ka’bah persis hanya untuk shaf laki-laki. Mau ngotot gimanapun ga akan kita bisa shaf di sana karena askar akan control terus dan ngusir perempuan).

Ini juga bisa dilakukan di lantai atas berikutnya. Lantai paling atas yang langsung bisa lihat langit lebih mudah dapatnya. Tapi memang butuh extra langkah. Demi ibadah, hajar bleh.

Rawdah

Tempat favorit di Madinah. Bagaimana tidak? Karena di tempat inilah do’a-do’a diijabah. Ya, ini adalah taman Nabi Muhammad s.a.w. ketika mendapat Wahyu dan diskusi dengan malaikat Jibril. Taman ini adalah pekarangan rumah Nabi dengan Aisyah r.a. yang mana sekarang adalah makam Nabi beserta 2 sahabatnya, Umar r.a. dan Abu Bakar r.a.

Untuk mencapai tempat ini kita yang perempuan masuk dari pintu masjid Nabawi nomor 25. Diperlukan fisik yang kuat dan kesabaran yang tinggi karena masuknya ngantri dan menunggu cukup lama, setelah sampai di dalamnya seperti perkedel (terhimpit-himpit dan berdesak-desakan). Tapi, tetap itu semua tidak menggugurkan tekad dan niat yang kuat.

Rawdah ditandai dengan karpet warna hijau. Jika kita masih menginjak di karpet merah, itu tandanya belum lingkungan rawdah.

Untuk akhwat, akses dibuka setiap saat sampai dengan tengah malam. Tidak seperti dulu yang hanya di waktu dhuha dan setelah sholat zuhur. Sekarang dibuka setiap saat tapi diberi pembatas kain putih membentang yang memisahkan laki-laki dan perempuan dan perempuan hanya kebagian bagian belakang makam saja. Walau begitu, yang perempuan harus puas karena jamnya lebih banyak.

Ketika berhasil masuk (pasti berhasil masuk selama kita mau antri dengan tertib dan baik), jika ingin melihat lebih jelas makan rosul, ambillah sisi kiri. Di sana kita bisa memegang pagar pembatas saja (yang membatasi makam belakang nabi dengan jamaah). Kita tidak akan bisa melihat ke dalam ruangan makam nabi karena diberikan jendela lalu diperisai lemari kitab yang isinya penuh dengan Al-Qur’an.

Jika ingin sholat sunah di sana, ambil sisi sebelah kanan di tengah atau menjelang pintu exit. Di sana agak legaan, walau masih saja kepala ketendang-tendang ketika sujud. Tapi, setidaknya bagian itu “agak longgar” untuk sholat. Jangan pernah mencoba sholat di sisi kiri tanpa penjagaan dari teman lain.

Jika setelah sholat 2 rakaat, salam, sujud lagi untuk berdo’a. jangan berdo’a mengangkat tangan karena askar akan mengusir kita kalau kelihatan berdo’a. Dan kejadian itu gw liat sendiri, ada yang angkat tangan, askar langsung teriak-teriak sambil gesture nyuruh dia keluar.

Terakhir, menghadaplah kiblat ketika mendapatkan kesempatan sholat sunah di sana. Bukan ke arah makam nabi. Musyrik itu namanya. Askarpun akan marah kalau kelihatan ada yang sholat menghadap makam. Dan perbanyaklah shalawat ketika mengantri masuk sampai dengan keluar rawdah.

Ketika selesai miqot dari Bir Ali, karena kita pakai bus umum, sebelahan deh gw sama orang Oman. Ngobrol banyak, termasuk ngomongin rawdah. Kata dia, kalau mau agak sepian dan tenangan sholat di rawdah itu waktu yang tepat adalah ketika menjelang azan ashar (di penghujung zuhur).

Sholat

Surat-surat yang dibaca setelah Al-Fatihah umumnya panjang-panjang.

Baik di Madinah ataupun Mekah, selesai sholat wajib, tidak sampai 5 menit mereka akan gelar sholat sunah syuhada (sholat jenazah) berjamaah.

Pada waktu Subuh dan sholat Jum’at, azan akan dikumandangkan 2 kali. 1 kali 1 jam sebelum azan sesungguhnya sebagai azan peringatan, 1 kali ketika pas masuk waktu sholat (azan sesungguhnya).

Hal yang lumrah bagi akhwat untuk ikut sholat Jum’at berjamaah di sana. Ikuti saja apa yang dikerjakan ihwan: mendengarkan khutbah yang terhitung 2 rokaat tanpa berbicara dan tanpa tidur lalu sholat 2 rakaat.

Secara Pribadi, gw lebih suka mendengarkan suara dari Imam di Al-Haram dari pada di Nabawi (kecuali ada 1 imam yang senior dan bacaannya cepet). Suaranya halus, lembut dan menenangkan hati. Kalau di Nabawi, kedengerannya senior-senior dan berat-berat. Tapi, over all, untuk tinggal sehari-hari, gw lebih suka di Madinah.

Untuk wanita penggemar mukena, jangan harap ada mukena tersedia di sana. Jadi, pastikan sudah pakai mukena dari hotel. Kalaupun tidak pakai mukena, pakai saja gamis untuk sholat. Yang penting aurat ketutup dan tidak membentuk badan.

BDUmroh41

BDUmroh42

Al-Qur’an

Semua Al-Qur’an baik di Nabawi atau Al-Haram, seragam semua berwarna hijau dan sedikit biru dongker. Jangan pernah ambil itu Al-Qur’an untuk kenang-kenangan. Yang ada malah harusnya kita waqafkan. Caranya gampang. Tinggal beli Al-Qur’an di pedagang yang memang jual untuk waqaf (jangan pernah bawa Al-Qur’an sendiri dari tanah air misalnya) harga ada yang jual 15 real ada juga yang 20 real. Ingat, jangan pernah menawar jika beli Al-Qur’an. Setelah deal dengan jumlah yang diinginkan, pedagangnya akan memberi cap di Al-Qur’annya sebagai tanda waqaf. Capnya ada yang tempel di halaman awal, ada juga yang ditempel di sisi/ pinggir Al-Qur’an.

Kalau sudah beli, tinggal dibawa ke masjid, letakkan langsung. Ga perlu ada administrasi macam-macam, tanda kita telah mewaqafkan sesuatu. Semuanya lillahi ta’ala.

Kotak Amal

Percaya atau tidak, di masjid-masjid sana tidak ada kotak amal satupun! Jadi jangan bingung kalau mau amal atau sedekah.

Karena tidak ada kotak amal, sedekahkanlah uang kita ke tukang-tukang sapu masjid dan jalanan. Cukup masing-masing 1 real per orang. Kalau mau lebih, silahkan. Kenapa hanya 1 real? Karena petugas kebersihan sangat banyak di sana. Jadi kalau bisa bagi-bagi saja.

Tadinya di dalam masjid Nabawi, pikir ga ada kotak amal trus ada wanita bawa-bawa plastic ngiterin jamaah, kirain itu kotak amal berjalan. Wanita itu berjalan di depan shaf-shaf jamaah, sambil liat bawah sana sini. Gw agak ragu, tapi begitu menjauh gw panggil dong, maksudnya mau amal karena berfikir itu kotak amal berjalan, eh, begitu gw kasih uang maksudnya mau dimasukkin ke kantong plastic yang dia bawa, malah diambil sama dia lalu masuk kantong dia. Gw udah suuzon aja. Kok enak banget tuh orang masukin uang amal gw ke kantong dia? Cuma gw diem aja. Ngeliatin terus. Dan ternyata ada yang lain juga dengan baju yang sama warna coklat. Gw perhatiin yang pada pake baju-baju coklat itu. Dan ga gw doang yang kasih uang trus dikantongin sama dia, orang lainpun begitu waktu kasih uang, langsung dikantongin sama dia. Eh, gw makin sewot sendiri dong.

Dan ternyata, ada salah satu di antara mereka mungut sampah, terus ada yang kasih tissue bekas, trus dimasukin ke plastic sampah yang dia bawah. Ealaaaaaahhh… ternyata dia petugas kebersihan toh! Dan orang-orang yang ngasih uang emang sedekah buat dia seperti kita sedekah buat tukang-tukang sapu di sekitaran Nabawi dan jalan raya. Dan buat mereka itu emang uang untuk mereka sebagai rezeki tambahan. Ya Allah… gw berdosa banget dah ah udah suuzon, di masjid Nabawi lagi. Untung gw ga damprat tuh orang, ga ngomel-ngomel. Cuma diem aja, observing dan lihat selanjutnya. Istighfar. Habis itu ngucap Alhamdulillah, iya itu emang sedekah buat dia. Dan mulai dari situ ngeh kalau perempuan-perempuan berseragam coklat, itu adalah petugas kebersihan wanita di dalam masjid. Karena ga ada petugas kebersihan di halaman masjid, kecuali deket-deket tangga masuk. Ga ngeh, karena selama ini nemuinnnya tukang-tukang sapu masjid seragamnya warna hijau dan merah marun dan semuanya laki-laki.

Foto di Depan Ka’bah

Kegiatan ini adalah kegiatan kucing-kucingan dengan askar 😀

Sama seperti sholat depan Multazam, askar akan ngusir kita kalau keliatan ambil foto. Caranya ya itu, liat-liat askarnya lagi meleng apa ga (kalau liat-liat ada askar apa ga, dijamin akan ada terus itu askar). Pas lagi meleng atau ngusir yang lain, langsung sigap hape udah on kameranya, trus jepret dah. kalau belum puas tapi udah ketauan askar dan diusir, ikutin/ turutin aja usirannya, kita jalan sesuai arahannya, habis itu kan dia akan lihat lagi yang lain yang sholat atau foto trus ngusir lagi, nah saat itulah kita bisa jepret lagi. Atau jepret sambil jalan pelan sesuai usirannya askar. Cerita ambil foto ini ada di lantai dasar, depan Ka’bah persis.

Kalau mau agak tenangan ga diusir-usir askar, ya naik ke lantai selanjutnya dan selanjutnya. Tapi, anglenya beda, kecuali pakai kamera pro, bisa dizoom maksimal. Tapi tetep beda lah moto di lantai dasar sama di lantai-lantai atas dengan latar belakang Ka’bah.

Inget ya kalau mau foto-foto, dilakukan setelah tawaf supaya ga mengganggu konsentrasi. Ga cuma foto, mau ke kiswah, Hijr Ismail, rukun Yamani atau Hajar Aswat, selalu setelah tawafnya selesai dulu.

Anggota Tubuh

Jaga mulut jaga ucapan jaga perbuatan. Jangan aneh-aneh di 2 kota suci tersebut. Jika ada yang rese-rese, diam aja jangan membalas. Telen ludah aja. Kalau perlu istighfar. Banyak-banyak baca Al-Qur’an yang udah di sediain di setiap sudut masjid ketimbang ngobrol ga karuan. Apalagi kalau perginya sama rombongan atau teman. Banyak deh pasti gossip-gosip yang ga jelas. Hap, direm itu. Jangan sampe ada balasannya langsung kalau mulut ga bisa dikontrol. Begitu juga tangan. Jangan pernah ambil barang tak bertuan. Kalau nemu barang, ambil, langsung kasih askar.

Air Zam-Zam

air zam-zam1air zam-zam

Air zam-zam dan air biasa bisa kita dapatkan secara gratis setiap saat di masjid Nabawi dan Al-Haram. Banyak orang membawa botol bahkan gallon ukuran 5 liter untuk diisikan air dari masjid. Bisa kita ambil kapan saja kita mau.

Air zam-zam ditempatkan di wadah air warna coklat muda. Setiap penempatan zam-zam coklat tersebut disediakan gelas plastic bersih ditumpuk. Jadi setiap orang bebas kapanpun dimanapun di lingkungan masjid bisa minum sepuasnya.

Di Nabawi, air tersebut Cuma disediakan di dalam masjid. Di halamannya hanya air keran biasa. Kalau di Al-Haram, air zam-zam bisa ditemukan di dalam dan juga di halaman masjid.

Bangsa

Orang-orang Timur Tengah banyak yang songong banyak juga yang sopan.

Orang Melayu sopan-sopan, tapi kebanyakan bangsa Indonesia norak, apalagi kalau sudah bergerombolan (dalam group), tapi kadang sedih juga melihat orang-orang Indonesia generasi senior, mereka lambat suka ditinggal groupnya, suka nyasar karena tidak bisa cepat mengenali lingkungan (jalan-jalannya) dan juga tidak bisa berbahasa Arab maupun Inggris untuk bertanya direction.

Orang-orang yang rese dari 3 bangsa: India, Bangla dan Pakistan, kadang Turki juga yang generasi seniornya. Bangsa yang baik: Afrika dan Oman. Selebihnya biasa saja.

Makanan

Madinah: RM Al-Qarat, masakan Indonesia, keluar dari pintu 16 Masjid Nabawi, lurus aja sampai ada tulisan Restaurant Indonesia. Naik escalator. Rata-rata harga SR17, tapi kalau beli yang seperti sop buntut bisa SR30 atau ikan SR20. Sedangkan bakso SR8.

Selebihnya di sepanjang pertokoan gedung-gedung hotel di sekitaran lingkungan masjid Nabawi. Ada kebab seharga SR5, simit SR2, roti tortilla SR2 isi 4 lembar gede-gede. Teh panas atau kopi pun ada, bahkan indomie (pop mie) banyak dijual. Cukup 3 real untuk 1 cup mie.

Makkah. Banyak di mall zam-zam tower tapi harganya selangit. Untuk paket besar 3 ayam nasi dan 2 paket kecil saja di KFC dalam mall seharga 97 real (yang artinya hampir 400 ribu rupiah). Untuk makanan harga standar kita harus sedikit berjalan keluar komplek masjid Al-Haram, tepatnya dideretan hotel-hotel Bintang 3 di pinggir jalan raya beraspal. Kita bisa temukan di sana kebab, burger Arab, nasi briyani, tortilla dan es krim. Harga bekisaran dari 5 – 20 real.

Selain berbayar, kita juga bisa dapat makanan gratis ala sedekah orang sana. Di Madinah banyak kita jumpai orang yang memberikan makanan bungkus di luar masjid Nabawi di setiap selesai sholat wajib. Yang penting kita harus antri dengan benar. Kalau ga, yang kasih sedekah bakal marah karena kita ga tertib. Ga Cuma makanan bungkus, ada juga yang kasih kurma dan jumlahnya ga tanggung-tanggung. Dibungkusin sama orangnya itu ukuran sekilo dan setengah kilo pakai tempat pula. Luar biasa deh di Madinah itu. Makanya ga heran banyak orang-orang 3 bangsa itu pada ngemper di halaman masjid tanpa harus khawatir kelaparan.

Kalau di Mekah, lebih banyak sedekah makanan kecil seperti roti, kurma dan biscuit.

Oleh-oleh

Madinah: Sepanjang rentetan gedung-gedung hotel-hotel dari Bintang 5 sampai melati, di bawahnya berisikan toko semua. Dari gamis-gamis Arab yang didominasi warna hitam, perhiasan emas, kurma, makanan ringan sampai dengan mainan anak-anak semua ada, tapi anehnya kaos bertuliskan “I love Madinah” atau Makkah, tidak ada (atau mungkin gw ga ketemu ya?). Harga di kitaran situ lumayan.

Kalau ingin agak murahan tapi sebenarnya juga tidak terlalu beda jauh, bisa ke bazar yang ada di sebelah masjid Nabawi. Bisa keluar dari pintu 7 atau 8, langsung terlihat tenda-tenda putih dengan jajaan yang menggiurkan dari sejadah empuk sampai buah-buahan. Selain itu di pinggir jalanpun ada juga bapak-bapak tua yang menjajakan siwak.

Hanya saja kalau mau beli plus-plus yang artinya beli dengan pedagang yang ramah, disarankan beli dengan pedagang laki-laki kalau di bazar itu. Karena kebanyakan yang pedagang perempuan jutek-jutek, walau ada beberapa yang ramah itu paling hanya 1 atau 2 orang saja. Terlebih wajah mereka semua tertutup, jadi kita tidak bisa ngenalin kalau jutek, mau kita jutekin lagi kalau ketemu di luar bazar (hahahaha… saking sebelnya sama mereka). Di daerah bazar mereka bisa berbahasa Indonesia hanya sebatas angka untuk harga. Ketika kita tawar dengan panjang lebar Bahasa kita, mereka ga akan ngerti. Kalau mau tawar, langsung angka saja. Misal harga 30 real, kita mau tawar 20 jangan tanya, “Bisa ditawar ya?” tapi langsung saja, “20”. Mereka pasti akan jawab tidak karena kebanyakan mereka ga mau ditawar.

Berbeda dengan yang di pertokoan. Di sana banyak yang bisa berbahasa Indonesia, bahkan bisa terima Rupiah. Tidak hanya sekedar angka, tapi juga bisa kita komunikasi panjang lebar dengan mereka dalam Bahasa kita, walau mereka mayoritas orang asli sana. Kenapa? Karena bangsa Indonesia hobi banget belanja! Jadilah mereka mau ga mau harus bisa berbahasa kita supaya lebih enak komunikasinya. Kalau mereka lancar ngomong sama kita, kita akan nyaman dan biasanya beli. Itulah salah satu daya Tarik mereka. Apalagi kalau penjualnya ganteng, makin kental deh daya tariknya.

Mekah: hampir sama dengan Madinah, sepanjang pertokoan dekat-dekat hotel Bintang 3 atau 4, apalagi kalau sudah gipsy-gipsy gelar dagangannya di pinggir jalan aspal, biasanya langsung diserbu. Kalau mau high class di sekitaran hotel Bintang 5, sekitaran tower zam-zam. Namun, ada juga di pelataran Al-Haram, banyak anak-anak kecil berjualan pashmina, tissue dan alas kaki serta laki-lakinya berjualan siwak. Namun, sering mereka kalau tidak tertib atau tidak pada tempatnya, askar akan mengusirnya.

Hati-hati yang perempuang kalau belanja, sebisa mungkin ada temannya. Bukannya apa, anak gw aja ditawar 2 milyar sama pedagang sono. Et daahh… dikira anak gw barang apa?

BDUmroh27

BDUmroh28

BDUmroh31

BDUmroh32

BDUmroh34

Tempat Tinggal

Banyak pilihan hotel di Madinah, di sekeliling masjid Nabawi. Dari Bintang 5 yang begitu turun langsung hadap gerbang Nabawi sampai dengan Bintang 3 yang harus jalan dulu sekitar beberapa ratus meter untuk sampai gerbang Nabawi.

Di Madinah, kita booking Mirage As-Salam hotel. Hotel Bintang 3 dengan harga 4,8 juta untuk 5 orang untuk 4 malam dengan 5 kasur single. Artinya 1 orang 1 malam hanya sekitar 240 ribu saja. Lumayan. Jalan ke Nabawi pun tidak terlalu jauh, paling sekitar 100an meter.

Banyak pilihan hotel di Mekah. Kota Mekah terus membangun, menambahkan hotel-hotel karena semakin banyak orang yang Umroh dan Haji. Alhamdulillah. Semakin mahal, semakin dekat jarak ke Ka’bah, itu kita sebut Ring 1.

Terakhir gw di sana, gw pilih Pulman Zam-Zam hotel, Ring 1, supaya bisa ngeliat ka’bah lewat hotel (Ka’bah view) dan juga cepat ke masjid ketika terdengar azan (cukup turun lewat lift, lewati mall sebentar, langsung halaman Al-Haram).

Secara akses dan efisiensi waktu juga tenaga, hotel ini sangat membantu, apalagi bawa generasi senior dan generasi micin. Apalagi ketika azan, di setiap kamar dipasangi speaker yang langsung konek dengan azan di masjid Al-Haram sekaligus sholat jamaahnya. Jadi, kalau kaki sudah sengklek, badan tepar, kita masih bisa sholat jamaah dengan Imam Besar Al-Haram di kamar hotel.

Selesai sholat Jum’at, hotel ini akan membagikan kurma gratis kepada seluruh tamunya di lobbi dan segelas kecil minuman khas sana, entah apa namanya, tapi gw menyebutnya jamu kuah sayur asem karena warna dan aromanya yang persis banget sayur asem tapi rasanya pait kayak jamu. Buat gw cukup nempel di lidah paling ujung luar, abis itu langsung gw singkirin. Bagi warga Timur Tengah sana, itu seperti kita di sini disuguhin teh manis kali ya. Habis loh mereka dalam 2 teguk.

free kurma in pullman
Kurma gratis

Namun, ada beberapa hal yang kita rasa kurang, seperti koneksi internet yang buruk, ada 1 lift yang bermasalah dan juga tidak disediakannya sendal hotel.

Baik Madinah maupun Mekah, untuk kebersihan, biasanya petugas akan masuk ketika ada orang di dalam kamar. Kalau di Madinah, petugas akan mengetok dan bilang “housekeeping”. Nah biasanya mereka akan mencari uang tambahan. Jika ketemu tamu yang baik dan pengertian, kalau minta sabun atau air minum atau apapun, akan dikasih tips. Walaupun 2 atau 3 real, buat mereka itu sangat berharga. Mereka tidak akan membersihkan ruangan kita ataupun buang sampah kita. Ya maklum saja, ini karena hotel Bintang 3.

Begitu juga di Mekah. Mereka akan ketok pintu kala kita ada di dalam ruangan. Tidak seperti di Madinah yang menawarkan sesuatu, tapi housekeeping di sini memang membersihkan kamar kita, mengganti sabun yang habis dan handuk2 yang basah serta membuang sampah. Kalau sudah selesai, mereka akan bilang “finisih”, yang artinya bersedekahlah kita dengan memberikannya tips seikhlasnya.

Pakaian

Laki-laki, mayoritas gamis Arab dan gamis Pakistan berwarna putih. Cuma ketemu satu-satunya laki-laki pakai celana sedengkul di Mekah dan itu pun harusnya dia risih karena kalau duduk, celana ketarik, auratnya terlihat.

Untuk umroh, laki-laki wajib menggunakan kain ihram, kalau tidak, tidak akan diperbolehkan masuk oleh askar ke dalam area tawaf dalam/ lantai dasar.

Wanita, mayoritas gamis Arab berwarna hitam. Walau kalau kita tilik dalemnya, banyak yang menggunakan celana jeans dan kaos oblong. Kalau gamis warna warni, bisa dikenali biasanya dari Asia seperti Indonesia atau Malaysia. Tapi, kalau warna warninya sudah mencolok, warna tua atau tabrak trubruk dengan sari lalu pakai celana panjang dengan baju kurung panjang, bisa dipastikan itu dari 3 bangsa yang rese.

Jilbab panjang lebar dan mukena kebanyakan mayoritas dari Indonesia dan Malaysia. Wanita-wanita ras Arab sendiri jilbabnya banyak yang tidak lebar namun seperti pashmina yang hanya dililitkan dan disumpel ujungnya ke pipi untuk mengunci jilbab, tanpa pentul atau peniti. Dan itu biasanya bikin mereka ribet sendiri ketika sholat karena suka terlepas lalu betulin lagi.

Untuk umroh, wanita dapat menggunakan baju apa saja warna apa saja, tapi dominan hitam, selain putih yang hanya dikenakan oleh orang-orang Indonesia mukenanya. Jadi, bila dikatakan kalau umroh wanita pakai putih, itu tidak harus. Yang gw lihat di sini malah seperti bisnis tour travel umrohnya sendiri yang memaketkan itu supaya mereka bikin mukena sendiri. Selain bisnis, ada juga unsur practicality seperti kalau mereka pakai mukena yang ada identitas group (seperti ada garis pitanya warna biru atau di mukenanya dibordir nama travelnya), itu akan lebih cepat mudah dikenali. Itu saja, tidak lebih. Tapi, sebenarnya lebih direkomendasikan pakai pakaian berwarna hitam. Jika yang terbiasa bercadar, silahkan dibuka ketika tawaf.

Transportasi

Yang tersedia Cuma dua kalau untuk umum: taxi dan bus. Untuk private bisa booking swasta punya seperti Hanco.

Argo taxi ga dipake. Semua harga kesepakatan awal. Tapi, standar lah, kecuali area hotel Bintang lima dan bandara ya. Naik taxi usahakan laki-laki dulu yang masuk ke dalam taxi baru perempuan. Turun sebaliknya, perempuan dulu baru terakhir laki-laki.

Bus pemerintah punya namanya SAPTCO. Lumayan ok. Nyaman. Service ok. Kemarin ada 1 tas ketinggalan di bus dari Madinah ke Mekkah. Telpon lah langsung. Alhamdulillah direspons dan dijanjikan dalam waktu maksimal 3 hari dikabarkan. Baru 1 hari sudah dikabarkan dan tas bisa diambil di tempat yang disebut. Alhamdulillah balik sih tasnya. Isinya juga utuh, Cuma ga ada 1 yaitu sepatu.

Kereta? Akan ada nanti Ramadhan 2018, Insha Allah. Akan menghubungkan Mekah-Madinah, Mekah-Jeddah. Yang tadinya pakai bus Madinah-Mekah 7 jam, pakai kereta informasinya bisa 2 jam. Yang tadinya 1,5jam Mekah-Jeddah (bandara), insha Allah pakai kereta informasinya sekitar 45 menit.

Angkot? Jangan harap.

Hop-on-Hop-off Madinah

Ngebantu banget ini bus pariwisata untuk berkeliling Madinah. Semua tempat napak tilas disapu bersih sama bus pariwisata ini. Ada sih taxi untuk bilangnya ziarah (kayak rute-rute hop-on-hop-off gitu) di waktu ba’da subuh depan gerbang Nabawi, tapi pasti harganya lumayan kalau kita ngiterin sesuai rute bus pariwisata itu.

Bus ini akan berhenti di setiap halte setiap 30 menit sekali, on time, dimulai dari jam 7 pagi. Tiket bisa dibeli langsung di bus dengan drivernya atau di kios dekat halte. 1 tiket dewasa seharga 80 real. Kalau anak-anak di bawah 12 tahun setengahnya, 40 real. Harga itu berlaku hanya untuk 24 jam. Setiap jam sholat, bus akan parkir di halte yang disinggahi dan pengemudinya pasti sholat di masjid.

Setelah kita bayar, kita akan dapat tiketnya. Harap disimpan baik-baik. Karena setiap turun, lalu naik bus itu lagi, sopir akan tanya tiket kita dan kita harus tunjukkan. Selain tiket, kita akan dapat headset untuk mendengarkan sejarah tiap-tiap pemberhentian. Audio menyediakan banyak macam Bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. So, ga usah khawatir kita ga ngerti sejarah napak tilas Rosullulloh. Trust me, the history is very interesting.

Bus pariwisata ini punya 2 jalur, yaitu hijau dan merah. Kalau hijau di sekitaran Nabawi. Yang merah, napak tilas sejarah Nabi Besar kita.

Rute hijau: Masjid Nabawi (pintu utama) – Al Baqi (pemakaman keluarga dan sahabat2 rosul) – Museum Al-Qur’an Suci – As Salam Gate (dari sini kita start, depan hotel kita menginap, jalan sedikit).

Rute merah: Bukit perang Uhud – Mall An Noor – Jalan Sultana (ada McD gitu… dunkin donat, dll) – Masjid Al Qiblatayn (masjid yang sebelum Ka’bah jadi kiblat) – tempat perang Khondaq (strategi medan parit) – Masjid Quba – Stasiun KA Al Hijaz.

Suhu

Suhu di Madinah lebih adem dari pada Mekah. Januari lalu, di Madinah berkisar antara 7 – belasan derajat Celcius. Di Mekah berkisar belasan sampai dengan 25an derajat Celcius.

Pakai jaket selama di Madinah plus lip gloss dan juga pelembab kulit muka dan badan. Kalau tidak, bisa menggigil kala Subuh dan Isya, juga bibir bisa kering dan pecah-pecah sekaligus kulit jadi kering, gatel terus, lalu ngeletek-ngeletek.

Ketika di Mekah, sudah kembali seperti di Jakarta, hanya Jakarta agak lebih panas. Tapi, nanti mulai di bulan April sudah sama dengan Jakarta dan sampai dengan Agustus akan mengalahkan Jakarta.

Burung, Burung dan Burung

Di mana-mana akan gampang kita menemukan burung, apalagi di sekitaran Nabawi dan Al-Haram. Kebanyakan mereka akan ada bergerumul di waktu siang dan sore. Sambil rehat, kita dapat bercengkrama dengan burung-burung itu. Ga usah bingun kalau mau kasih makanan. Banyak wanita-wanita Arab badui menjual makanan burung seharga 5 real per plastik. Tinggal beli, taburkan, burung-burung pasti nimbrung.

Selain burung, kita bisa temukan juga monyet-monyet di sepanjang perjalanan dari Madinah ke Mekkah.

Nah, kalau mau lihat unta, itu sepanjang jalan dari Mekah ke Jeddah. Peternakan-peternakan unta itu begitu saja di tengah gurun dengan tenda-tendanya majikan. Kalau mau lihat masjid terapung, berarti jalannya muter, bukan jalan yang melewati unta-unta.

Peminta-minta

Ada juga tukang minta-minta di sana dan semuanya perempuan gamis hitam bercadar. Secara Pribadi gw ga pernah ngasih karena mereka suka maksa. Dan ternyata kata tukang kurma di Madinah, itu diorganisir. Jadi kurleb kayak di sini, system setoran sama leadernya.

Astronomy Exhibition

Gw udah girang aja begitu pertama kali turun dari hotel sampe di GF zam-zam mall mau ke halaman Al-Haram, ngeliat poster guede banget bertuliskan Astronomy Exhibition. Sempet-sempetnya nyamperin itu H-2. Deg-degan juga sih ngebayang apa yang bisa gw liat nanti. Cari-cari pintunya kok ga ada. Adanya beberapa petugas di situ, untungnya ada yang bisa berbahasa Inggris. Gw tanya aja, buka jam berapa. Bukannya dijawab jam berapa, malah jawab tahun, sekitar kurang lebih 2 tahun lagi, nanti umroh berikutnya kamu baru bisa lihat. Eaaaa… garing deh. Gw protes dong, kok ngapain ada spanduknya gede gini? Iya, sebenernya udah buka, tapi hanya untuk undangan tertentu dan keluarga kerajaan. Huhuhuhu… nasib jadi rakyat kecil…

astronomy exhibition
Astronomy Exhibition

pintu depan zam-zam tower

Beberapa foto kota Madinah dan Masjid Nabawi

Detail biaya per orang

No Deskripsi Biaya/ Orang (IDR) Keterangan

1

Tiket pesawat Malaysian Airlines CGK-KL

 1,060,000

2

Tiket pesawat Saudi Arabia KL-JDH-IST-MDN-JDH-CGK

9,800,000

3

Hotel 2 malam di Istanbul

180,000

Per malam

4

Hotel 4 malam di Madinah

240,000

Per malam

5

Hotel 5 malam di Mekah

1,080,000

Per malam

6

Taxi Attaturk airport-Sultan Ahmet-Attaturk airport

700,000

 Per mobil

7

Taxi Madinah airport – Hotel

296,000

 Per taxi

8

Hop-on-Hop-off untuk 24 jam

296,000

Harga dewasa. Di bawah 12 thn 50%

9

Madinah – Mekah by Saptco bus

251,600

10

Taxi pool saptco to hotel

111,000

 Per taxi

11

Taxi hotel to Jeddah

2,331,000

 Per taxi

Nah begitulah printil-printilan seputar umroh. Kalau ada yang kurang atau lebih, boleh silahkan diinformasikan ke penulis biar jadi benar karena ini tulisan mengenai ibadah bukan jalan-jalan biasa, takut ada yang salah-salah.

Syukron…

Nah habis umroh, enaknya kita hunting Aurora 😀

One thought on “Umroh Mandiri

  1. Budi Setiadi

    Wahhh info yang menarik banget nih. Pas banget buat orang yang suka backpackeran, dan saya jadi kepengen coba buat umroh mandiri. Semoga ada rejeki buat umroh..

    Makasih udah share infonya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s