Pattaya & Oleh2 Bangkok

#thailand #bangkok #pattaya #ladyboy #naraya #holidayinn #skyview #redplanethotel #thaifruit #mbk #nongnoochgarden #alcazar #teddybearmuseum

pattaya beach 04

Thailand itu surga Asia buat para bule non-Asia. That’s my own opinion. Kayak Jakarta, apa-apa ada. Hanya masalahnya posisi mereka lebih strategis dari Indonesia. Dari eropa atau Amerika lebih dekat ketimbang ke Jakarta atau ke Bali, bisa nambah 3 atau 4 jam lagi perjalanan. Dan yang untuk mencari kesenangan lebih banyak di sana karena lebih bebas dan gampang dapatnya, seperti lady boy yang melimpah ruah, tinggal tunjuk karena seems it’s legal.

Bangkok

Ibu kota Thailand yang hiruk pikuknya mirip dengan Jakarta. Apalagi sekarang trafficnya getting worse. 5 thn lalu gw ke sana, traffic emang dah macet sih, tapi masih so-so. But today I visited again, onde mande… 11 12 lah sama Jakarta. Bedanya, di Jakarta, motor2 dah kayak semut beriringan dan pengendara2 di Jakarta hobi pencet klakson (lama-lama bakal kayak India dah), but not in Bangkok. Mereka ga hobi horning. Walo kadang sopir taxi doyan ngebut, tapi kita tetep tenang di dalam taxi, maksudnya ga kaget-kagetan karena sekalipun mereka ga gatel tangannya untuk pencet klakson.

Bihraj Towertp

River Cruise

Wisata dinner river cruise ramai pengunjung tiap malam, dari kapal yang murah sampai dengan yang kelas atas. Untuk kesempatan kali ini, gw dikasih rezeki berlayar di kapal Shangri-La buat dinner sama kolega kantor. Harga sekitar 1jt untuk ala buffet.

river cruise 01river cruise 02river cruise 03

Transportasi

Mudah dan terjangkau di Bangkok. Kereta api ada (BTS), MRT ada, bus, taxi, uber sampai dengan tuk-tuk ada. Tuk-tuk itu angkotnya Bangkok, tapi jalannya ga tuk tuk kok. Antara BTS dan MRT, terintegrasi. Kalua naik tuk-tuk, pake jaket biar ga masuk angin :D.

Taxi dari bandara Suvarnabhumi ke jalan utama perbisnisan (Sukhumvit road), diketok di harga 500 baht. Walau kita dah ikutin sesuai prosedur ambil antrian, sopir masih ada yang bandel ketok harga. Antrian di sana cukup canggih. Begitu keluar imigrasi, cuss ke lantai 1. Di sana akan disediakan 3 mesin taxi regular dan 1 mesin taxi besar (bagi yang banyak bawa bagasinya atau orangnya). Tidak ada petugas yang jaga di mesin-mesin itu. Tapi, hebatnya orang-orang bisa tertib. Dan harus sabar karena biasanya antriannya panjang, apalagi kalau hari kerja jam pulang malam, bisa 1 jam antri (jadi kalau bisa cari jadwal yang landing di Bangkoknya siang hari).

Setelah sampai di depan mesin, tunggu perintah. Kalau layar masih nongolin angka 1, 2 atau 3 artinya kita masih harus extra sabar sampai layar berkata “Press”. Kalau udah berkata kayak gitu, pencet dah tombolnya. Nanti akan keluar kertas yang isinya nomor antrian taxi ngetem. Kalau sudah baca nomor berapa di kertas, tinggal cari nomor actual di sepanjang taxi ngetem itu. Mudah kok. Siapin cash. Banyak dari mereka ga terima kartu kredit atau sejenisnya. Macam Indonesia lah.

BTS. Setiap pemberhentian BTS, kita akan menjumpai mol. 1 pemberhentian, mol. 1 pemberhentian, mol. Yang doyan belanja mah seneng banget dah. Tarif BTS standar dan masuk akal. Pembelian tiket semua pakai mesin. Ada stasiun yang langsung kasih liat ongkosnya di mesin itu trus kita tinggal pencet angka yang disediakan, trus masukin uangnya. Ada yang kita kudu cari dulu areanya di mana. Kalaupun ada loket, paling buat tanya atau tuker duit.

BTS ticketing

Kemunculan setiap kereta BTS pun tidak lama2. Kalau tidak salah, setiap kurleb 5 menit sekali kereta tiba. Jadi kita ga akan bete dah nungguin. Jalur melangkahpun dibuat jelas. Yang keluar di kasih jalur tengah dari pintu terbuka, yang mau naik dari kanan dan kiri. Dan orang-orang selalu mendahulukan yang keluar. Ga ada dah yang namanya rebut2an. Kek Jepang, tertib.

Tuk-tuk bisa dijumpai di jalan-jalan selain jalan utama, kayak di gang-gang gitu.

Bus. Ga nyoba. Jadi ga bisa kasih informasi detailnya.

Oleh-oleh Bangkok

MBK

Yang terkenal untuk beli oleh-oleh di sana adalah buah-buahan kering. Thailand emang rajanya buah-buahan. Cuma sayang, waktu gw berkunjung yang ini nih, ga ada satupun nemuin kelapa yang muda. Dapetnya yang tua mulu, padahal coba mesen juga di hotel Bintang lima, macam Shangri-La, tapi sama aja dengan beli yang di pinggir jalan. Tau dah lagi kenapa tuh poon-poonnya. Karena sebelumnya beberapa kali visit Bangkok, selalu uenak kelapanya.

Ada juga jagung ala Thailand. Di Indonesia kita Cuma tau jagung manis warna kuning. Nah, di sana selain jagung manis warna kuning itu, Thailand juga punya jagung tawar, warna putih ada bitnik-bintik hitamnya sembarang. Kalau beli biasanya digabung, kuning dan putih, jadi rasanya enak.

Cuma kalau buat oleh-oleh ya yang kering-kering biar awet. Nah, untuk belinya, gw punya toko langganan di emol MBK. Nama tokonya Thai Fruit. Terakhir gw ke sana 3 tahun yang lalu, itu toko masih 1, eh sekarang gw berkunjung udah ekspansi broh. Udah ada 2 toko. Toko yang ke-2 lebih besar pula. Keren dah, bisnisnya lancer jaya.

Untuk ke MBK, caranya gampang dari BTS Prom Phong (karena gw stay di hotel deket mare, yang ada toko tas Naraya/ tas cewek banget dah, girly) turun di Siam konek/ nyebrang ke National Stadium, ongkos BTH37. Nyebrang di sini bukan berarti turun tangga, nyebrang jalanan, tapi pindah jalur aja. Jadi begitu keluar dari kereta awal, langsung dah beberapa langkah sambangin kereta di jalur sebrang.

Dari Siam ke National Stadium Cuma sekali berhenti aja. Langsung turun ke arah emolnya. Masuk dari pintu toko Tokyu, belok kiri, lurus terus, keluar langsung ngeliat toko Bata. Yoih, sepatu bata buatan Indonesia. Dari situ lurus, ga jauh nanti ketemu tokonya di sebelah kiri, dominan dengan warna merah. Harga buah kering bervariasi dari BTH70-500 tergantung dari volume dan jenis buah. Kalo macam durian kering, bisa sampai 300 baht yang bungkus sedang, tapi emang maknyos rasanya.

Nyokap gw suka banget kelapa kering yang gambarnya monyet warna kemasannya putih hijau. Katanya enak banget (karena pernah compare dg kelapa kering lain, ga ada yang enak selain yang itu katanya). Harga BHT170, isi 10 bungkus. Lumayan buat dibagi-bagi se-RW. Ada juga tomyam kering. BHT100, isi 8 bungkus. Mayan, enak. Nah, ini buat dibagi-bagi se-RT.

Kalau mau move on ke banda, pergilah ke lantai 3, gudangnya kaos. Rata-rata harga kaos BTH99 dengan kualitas standar. Begitu sampai di lt. 3 dengan escalator, langsung belok kiri. Nah, toko pertama yang dipandang itu yang toko langganan gw. Pedagangnya bisa Bahasa Indonesia. Ya, walaupun kagak lancer banget tapi lucu jadinya ngomong sama dia (yang cowo). Dia bilang hepi kalau yang beli orang Indonesia atau Malaysia, karena mereka selalu ingat teman-teman dan saudara-saudara di tanah air untuk dibeliin oleh-oleh. Makanya dia belajar Bahasa kita 😀

Nah, kalau mau beli oleh-oleh yang lain, habis dari kaos langsung susurin aja ke dalam itu toko-toko macam-macam banyak. Dari pashmina, lilin2, sabun2, gantungan kunci, display, baju2 thailand, pajangan2, dll. Tapi, kalau mau lebih bingung mililhnya, naik lagi ke lantai 6. Di sana lebih luas dan lebih banyak pilihan. Ditanggung ngeces mau semua.

Kalau mau makanan muslim, silahkan ke lt. food court. Ada toko makanan muslim di pojokan. Ala india gitu sih. Tapi, lumayan lah. Harga standar. Kurleb sama dengan di mol Jakarta.

Selain di mol, oleh-oleh bisa didapat di pasar-pasar malam. Kayak mol, hamper di setiap pemberhentian BTS, itu pasar-pasar terhampar, hanya bedanya letak mereka di bawah tangga, di area lapangan dan pakai AC angina cepoi-cepoi.

Kalau mau beli oleh-oleh di Pattaya, gampang. Sepanjang jalan di Pattaya City itu tukang dagangan semua. Dari makanan, oleh-oleh sampe pergelaran lady boy, ada semua. Jadi, sebenernya gampang banget kalau cari oleh-oleh di Pattaya.

Hotel

Dari hotel Bintang 5 sampai hostel ada semua di sana. Tinggal pinter-pinter milih aja. Selama di Bangkok, gw tinggal di Sky View Hotel, seberang hotel Hilton. Yang gang depannya ada toko tas perempuan, Naraya, berdekatan dengan BTS Prom Phong. Lokasi yang strategis untuk seputaran area bisnis, kuliner dan belanja-belanja. Harga per malam sktr 1,5jt.

Di Pattaya, gw stay di hotel Holiday Inn, seberang pantai persis. Harga per malam sktr 2jt. Ada 2 gedung, dan gw stay di gedung Executive, lantai 7. Sumpah, kalau mau nginep di sana, pilih gedung itu aja lantai 7. Viewnya bagus dan balkoninya guide dan cantik. Cuma di lantai 7 doang. Selain lt. 7, balkoninya kecil-kecil. Untuk transport balik dari kantor di Rayong ke hotel seharga 500rb dan dari hotel ke bandara dengan ongkos 1,5jt, gw pesen dari hotel sini, and you know what? Driver-driver limosinnya kayak boy band semua hahahahahaa….  Belum lagi sikapnya mereka, sumpah sopan banget dan sangat menservis penumpang. Betah deh lo.

Secara setelah kantor off, gw harus cari hotel pengganti karena biaya sendiri, jadilah gw stay di red planet hotel yang Cuma 500rb/ malam. Not bad lah. Lokasi Cuma 5 menit dari Holiday Inn. Sebrang, tampat makan sekaligus pasar malam dan central Marina. Geser dikit, gedung Alcazar. Bedanya dengan Bintang lima itu, ya di ukuran dan fasilitas, tapi wifi tetep dapet, itu yang terpenting.

Pattaya

Banyak tempat wisata di Pattaya yang bisa dikunjungi. Oleh karenanya 1 hari di Pattaya ga cukup. Seenggaknya 3 hari kalau mau babat habis tempat2 di sana. Perbandingan bule dengan local di sana mirip-mirip di Bali. Pantainya juga sama kayak Kuta, rame dan udah ga bersih-bersih banget. Bisa disinggahi kapan aja kalau penginapan kita di jantung kota Pattaya. Kemarin di Holiday Inn lalu pindah ke Red Planet Hotel, jarak ke pantai Cuma 5 menit jalan kaki. Dua hotel itu sangat strategis.

Nong Nooch Garden

Ini tempat rekomen banget, apalagi kalau bawa keluarga. Dari mulai taman, mobil-mobil antic, tempat ibadah umat budha, mancing ikan raksasa, foto dengan harimau, pertunjukan kebudayaan, flora alami fauna kw (dalam arti patung), pertunjukan gajah sampai dengan naik gajah.

Berhubung ke sananya minim kendaraan umum, jadi mau ga mau ikut tur atau sewa mobil/ motor. Gw pilih ikut tour. Gw pilih online pattaya tour dan yang ternyata gw salah ikut group. Kenapa salah? Karena itu ternyata “komunitas” Rusia. Semua peserta tour, orang Rusia dan sodara2nya macam Ukraina, so Bahasa pengantarnya ya Bahasa Ibu mereka dan gw totally kayak kambing congek. Bener-bener Cuma gw sendiri orang asia, berhijab pula. Jadi, gw Cuma tau inti-intinya aja sama jadwal yang ditentuin secara guidenya pake Bahasa Inggris begitu ngomong ke gw doang. Sisanya, dia panjang lebar ceritain segala hal pakai Bahasa Rusia. Tapi, kalau ada yang mau praktek Bahasa Rusia atau cari jodoh orang Rusia, silahkan daftar di group itu. Dan ga aneh kalau papan-papan informasi di taman Nong Nooch itu selain Bahasa Ibu (Thailand), Bahasa Inggris, Bahasa Rusia juga ga kalah saing terpampang di sana. Pantesan juga, habis transfer bayarannya, langsung dapet invoice berbahasa Rusia. Tadinya gw pikir ada imel nyasar, tapi kenapa ga masuk ke junk mail? Pas hari H-nya terjawab sudah.

Di satu tempat ini aja bisa seharian. Tapi, gw ambil tournya yang setengah hari. Dari jam 8 pagi sampai dengan jam 2 siang, dengan bayaran sekitar 500rban. Sebenernya kalau cari-cari dari jauh hari bisa dapet yang lebih murah di group tour yang lain. Karena udah last minute, jadinya yang tersisa Cuma itu aja.

Museum Teddy Bear

Ada di pinggi sebrang pantai Pattaya. Deket banget sama Holiday Inn. Hanya 2 menit jalan kaki. Tiket masuk sekitar 200rban. Tempat ini isinya semua hal berkenaan dengan teddy bear. Ga banyak bisa dilakuin di sana, Cuma bwt foto-foto instagramable aja kayak upside world dan semacamnya. Gw ga masuk sana secara baht menipis terus ga bisa bayar pakai kartu, kudu cash. Jadilah Cuma liat dari luar aja.

Pattaya Tower Park

Ini agak jauh dari hotel red planet. Kudu pakai taxi yang harganya sekitar 400rban pp. jadilah gagal pergi karena baht sudah sangat menipis. Belum lagi masuk towernya, bayar lagi. Tapi, ini rekomen juga kalau mau lihat Pattaya dari ketinggian. Bisa cek di internet hal yang berkenaan dengan tower park ini.

Lady Boy Show

Ada 2 dan isinya sama semua, namanya Alcazar show dan Tiffany show. Gw tonton yang Alcazar. Tiket on the spot itu lebih mahal, seharga 300rban. On the spot maksudnya beli langsung di loket tiket gedung pertunjukan atau di pinggir-pinggir jalan sepanjang jalan raya Pattaya itu banyak kios-kios tour and travel. Kios-kios itu ga hanya melayani tiket pertunjukan tersebut tapi juga jalan-jalan ke manapun di Pattaya, sekaligus juga kasih jasa taxi. Dan kios-kios itu terhampar di pinggir-pinggir jalan. Jadi ga usah khawatir kalau mau berkeliling ria di Pattaya dan anti on-line, bisa sambangin kios-kios tsb.

Alcazar show ini acaranya dimulai dari sore sampai dengan malam, dibagi beberapa sesi. Tadinya gw udah males banget mau nonton ini, tapi udah kadung di sana, ga ada kegiatan pula malam, ya sudah jadi putuskan untuk nonton, beli di salah satu kios di pinggir jalan itu dengan harga yang jauh di atas harga on-line, tapi bisa pakai kartu untuk transaksinya. Itupun belinya last minute, jadilah dapet kursinya di paling pinggir banget, kursi cadangan, yang ditambahin per satuan jika quota udah penuh abis.

Setengah jam sebelum pertunjukan gw baru berangkat dari hotel. Sampai sana, oalaaahh… itu para ladyboy sedang dijaja di depan gedung. Calon penonton plus yang lain-lain entah dari mana aja udah pada ngegerubung di sana. Ceritanya sesi photo sebelum pertunjukan. Kalau kita mau selfie sama lady boy itu, kudu kasih uang ke mereka 80baht atau 2 dollar. Sumpah, cantic-cantik mereka, tapi begitu dideketin dan denger mereka ngerayu para orang-orang di sana untuk foto sama mereka, langsung ngeri gw denger suaranya. Iya sih jakun dah ga ada, dada udah gede, yang bawah udah ga nongol pula, tapi tetep aja, ngeriiii denger suaranya yang belum dimodif halus.

Nah, tetiba lampu di luar jleb mati, langsung deh para lady boy itu ngacir ke dalam. Siap-siap untuk pertunjukan. Tiket yang gw beli di kios, kudu ditukerin dulu di loket tiket untuk dapat yang resminya yang ada nomor bangkunya. Setelah tuker, antri tuk masuk. Kita akan dapat free soft drink, segelas kecil. Tempat duduk akan diarahin sama petugas sana. Amboiii… penuh bo itu gedung.

Ceritanya mereka hanya nanyi-nyanyi dan nari-nari. Mulai dari tarian tradisional Thailand, sampai dengan yang modern. Terus beralih ke kebudayaan lain di sekitar Asia dan Timur Tengah, dari Cina, India, Vietnam bahkan Indonesia. Kalau Indonesia, mereka menyanyikan lagu Melayu karena latar belakangnya rumah Gadang. Durasi sekitar 1 jam-an.

Awalnya menarik, tapi lama-lama ngebosenin. Entah karena gw perempuan entah karena udah ngantuk. Tapi, bagi laki-laki mungkin ga ada bosennya. Gimana mau bosen, bukannya bosen yang ada malah pada ngegerecokin duduk orang, lalu Lalang bolak balik ke toilet! Kenapa coba? Haduuhhh….. pikir sendiri deh. Padahal itu kan mereka cewe kw…

alcazar 01alcazar 02alcazar 03alcazar 04alcazar 05alcazar 06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s