Canyoneering – Briefing

#canyoneering #briefing #curug #rappelling #turuntebing #pakeair #bunsya #traveling #adrenalin #mytripmyadventure #jalan2 #ngebolang

Saatnya briefing setelah orientasi medan.

Seperti biasa, briefing itu isinya seorang TG (Tour Guide) menginformasikan semua hal yang berkenaan dengan kegiatan. Kalau untuk canyoneering ini TG memberitahu bagaimana nanti cara kita turun dari air terjun dan pakai PPE (Personal Protective Equipment).

Kita hanya akan ditemenin sama safety man di dua titik datar (pos 1 & 2) dan satu di bawah, pos finish (pos 3). Selebihnya begitu udah mulai turun air terjun, kita akan melakukannya sendiri, kecuali minta ditandem. Jadi, perlu banget disimak petunjuk-petunjuk yang diberikan TG dalam briefing ini.

Sebenarnya kegiatan canyoneering ini aman. Yang membuat kita merasa insecure itu sebenarnya rasa panik di kitanya. Ketika kita bisa menguasai rasa panik, maka semuanya berjalan lancar.

Diinfokan juga cara mendrive tali di tubuh kita. Kita harus bisa mendrive sendiri karena ga ada yang bantu nanti kalau sudah di medannya. TG akan bertanya apakah ada yang kidal, karena beda sisi. Ujung tali yang ada di samping kita ditaro di belakang.

Cara ngedrive talinya itu dengan mengulur tali sedikit demi sedikit. Kalau kebanyakan bisa lose dan kita bisa jatuh karena ga ada rem. Jangan juga dipegangin terus itu tali, dia ga lari kemana-mana kok, karena tali di tubuh kita itu cuma untuk keseimbangan. Kalau pacar bisa lari kemana-mana, apalagi kalau lihat tetangga sebelah yang kinclong #wkwkwkw… Kalau lelah, kita bisa parkir dengan cara kaitkan tali kita di pengkait depan, terus lepas tangan, tarik napas, merenung, ngehalu, dan balik lagi ke kehidupan nyata ya genks. Jangan kelamaan parkirnya, takut keenakan.

Kalau mau nyender gimana? Tinggal parkir, trus balikin badan aja, tempelin tubuh belakang kita ke tebing berlumut itu, jangan ke abang sebelah, ntar nyaman dia. Kalau udah nyaman, berabe #eh.

Yang bawa action cam kayak gw, kudu ditaliin karena yang udah-udah, begitu sampe bawah dah entah kemana itu action camnya hahahaha… dan yang terpenting dicasingin. Jangan kayak gw, kepedean ga dikasih casing, yang ada modulnya rusak hahahahaha… tapi keren loh, kamera 2 sisinya ga genks. Seriusan. Sampe sekarang masih berfungsi ok. Casingnya yang buat diving aja. Harusnya kokoh.

Tapi emang jelek hasil videonya karena yang biasanya selfie sticknya invisible, ini jadi ada keliatan tali ngegelewer, dah kek kek apa gitu… ga cantik dilihat sih hehe… Tapi demi safety dan sayang barang, ya korban ga cantik dikit hasilnya gapapa lah…

Canyoneering – Mari Turun Air Terjun!

canyoneering #briefing #curug #rappelling #turuntebing #pakeair #bunsya #traveling #adrenalin #mytripmyadventure #jalan2 #ngebolang

Ini bagian terseru dari kegiatan karena ini intinya, genks.

Perjalanan turun dimulai turun ke pos 1 untuk pemakaian tali ke pos 2. Di sini masih seperti genangan air saja. Setelah dipasangkan, kita dibriefing lagi sebentar untuk buka kaki lebar tanpa ditekuk dan badan dorong ke belakang, jadi talinya menegang untuk mengecek penompangan badan.

Dari pos 1 kita jalan ke pos 2 dengan kondisi medan kurang lebih 45 derajat dengan batu-batuan besar dan banyak lobang serta licin. Nah, lobang ini kita ga tau dan ga bisa lihat karena ada aliran air terus menerus di atasnya. Kita hanya bisa merasakan dengan pijakan kaki. Makanya untuk pemula, gw jalannya sambil ngeraba-ngeraba. Beberapa temen sempet kejeblos dan lumayan lah rasanya hahahahaha… Kalau gw sempet jatuh di awal karena ngulur talinya kebanyakan, jadinya rem-nya telat si delapan itu.

Di pos 2 akan ada 1 safety man yang akan ganti tali kita untuk mulai turun dari ketinggian 25 meter dengan sisi miring 90 derajat. Jadi kita akan menapak di dinding tebing sepanjang perjalanan. Bisa seperti orang berjalan mundur atau loncat dengan 2 kaki langsung seperti twing… twing gitu… Lalu kalau kaki kita sudah tidak dapet tapakan, berarti ada cekungan dan itu tandanya sudah mau mendekati bawah.

Di pos 3 ada team belayer yang memastikan kita tetap berada di jalur tali dan yang pastinya menahan kita dari bawah. Atau bila kita ada jungkir balik, tau-tau kepala di bawah atau muter atau kepleset, team belayer ini yang akan ngerem kita dan memastikan kita tidak merosot atau meluncur ke bawah. Karena biasanya kalau keadaan kayak gitu kita bisa panik, dan kalau sudah panik kita ga keingetan untuk ngerem sendiri pake si delapan.

Selebihnya turun air terjun, nikmatin aja genks. Rasanya?

Pertama agak tegang dikit lah ya. Manusiawi. Tapi kalau kaki dan hati menyatu sama tebing dan air terjunnya, rasanya jadi malah nikmat. Lalu coelan-coelan air terjunnya bisa jadi pengganti pijit pundak hahahahaha… saking kencengnya tuh debit air, pundak jadi lentur dibelai sama dia, padahal ngarepnya dibelai doi #tobathalu. So, jangan nekat untuk dengak ngeliat ke atas kalau ga pake gogglesnya. Untuk nafas, lumayan challenging bernafas dengan hidung. So, otomatis kita buka mulut untuk bantu si hidung. Lumayan lah sekalian 1, 2 pulau terhampiri kalau pas lagi haus. Jantung? Kalah kenceng lah berdetaknya sama pas lagi disamperin doi hadap-hadapan muka #aih.

Bagi yang berasa mau mati pas lagi canyoneering ini, banyak-banyaklah istighfar, bertasbih dan yang terpenting bertauhid, ucapin laailahaillallah… itu udah obat paling mujarab sedunia seakhirat.

Di video bukan 360 ini yang bukan virtual tour, hanya video 2D (action cam insta360 twin mod gw rusak pas ngerekam ini huhuhu #gaknangisbombay #gabisadiservis #belilagi #dasarsableng. Tapi, kalian bisa liat video 360 yang lain kok, tenang aja… #penghiburandiri) gw suguhin video yang ga utuh satu aktor. Maksudnya videonya hasil gabungan dari beberapa video. Ketegangan masih bisa dirasakan kok walau cuma liat video dan bukan 3D hahahaha… Kalau mau lebih berasa tegang lagi, kuy ikut gw canyoneering ini di tkp langsung! Kita tantang adrenalin bersama 🙂

Canyoneering – Pemakaian Alat Keselamatan

#canyoneering #rapeling #turuntebing #meluncur #cikondang #curug #cianjur #kernmentel #carabiner #webing

Alat-alat keselamatan yang dipakai untuk canyoneering seperti kebanyakan alat untuk pendakian, seperti tali kernmentel untuk meluncur turun plus carabinernya, seat harnes, ini wajib banget kalo ga mau cantelin tali turun dimana? Lalu ada descender buat meniti tali kernmentel. Tapi orang-orang kita lebih banyak bilangnya 8, karena bentuknya seperti angka delapan. Jadi kalau sesama saling ngomong atau lagi minta descender ini mereka tinggal bilang, delapan… delapan… nah yg diajak bicara atau diminta ngambilin descender ini ngerti dah. Ini gunanya buat ngerem kalo kita lagi meluncur ke bawah.

Lalu selain seat harnes, PPE (Personal Protective Equipment) lain yang menempel di badan ini helm, lalu kneel pad dan elbow pad, yaitu pengaman lutut dan siku. Lalu, sarung tangan yang kalau bisa ada totol-totolnya untuk bagian telapak tangan, sepatu karet supaya mantep pas berpijak di tebing-tebing yang berlumut. Yang optional hanya kacamata. Bisa dipakai bisa ga sama kita, tergantung kebutuhan dan keinginan.

Kalo gw pertama itu coba pakai kacamata. Dan rappelling ke dua ga pakai kacamata. Rasanya sih sama aja, walau hampir semua temen yang rappelling bilangnya lebih enak ga pake kacamatanya. Entahlah gw ga bisa terlalu ngebedain enak apa ga nya dimana secara gw ga punya perasaan… #eh

Lebih jelasnya bisa dilihat di video 360 berikut ya genk. Ini virtual video, so kalian bisa puter-puter sesuka hati.

Canyoneering – Orientasi Medan

#canyoneering #cikondang #cianjur #orientasimeda #rapeling #turunairterjun #ekstrim #extreme #meluncur #airterjun #waterfall #jawabarat #westjawa #bunsya #curug

Pernah denger canyoneering?

Sama gw juga belum pernah denger. Pas habis open trip gunung ferrata aja tuh, yang pada doyan outdoor extreme kepoin IG-nya kakak TL kita tertjintah, Ira, baru gw tahu isi 😀

Sebagai pecinta alam dan pecinta adrenalin mendidih, gw pasti tertarik lah untuk ikut gitu-gituan. At least once in a lifetime wkwkwkwk… #gregorian.

So, kita cusss ke curug Cikondang yang ada di Cianjur. Mayan perjalanan 5 jam. Puas-puas deh lu tidur di elf. Himpun tenaga dan keberanian menghadapi rapeling hahahaha…

Sampai di sana, kita orientasi medan dulu. Liat-liat alam sekitar curugnya kek gimana. Dan ternyata itu tempat wisata. Walo pandemi kek gini, tetep aja, jumlah wisatawan yang dateng ke sana tak terhitung. Kebanyakan keluarga. Menikmati segernya udara di sekitar curug.

Posisi air terjunnya di atas. Ga jauh dari parkiran mobil. Dari atas kita turun terus ke bawah (ya iyalah, wong itu air terjun…). Enak sih pas turun. Mayan pas balik naik. Itung-itung pemanasan buat rapeling curug ntar.

Suasananya kampung banget. Amboi. Banyak warung-warung di pinggiran sepanjang turun. Sampe bawah langsung aliran sungai dari air terjunnya. Seperti kebanyakan pemandangan curug, di sana batu-batu kalinyapun banyak dan gede-gede. Pokoknya seger lah. Denger suara alam, melihat alam dan berbicara dengan alam #eh.

Untuk lihat full keadaan di sana, langsung aja cek youtube video 360-nya.

Etapi jangan lupa. Tujuan utama kita ke sini adalah untuk canyoneering.

Belum dibahas ya apa itu canyoneering? Ya udah, nanti aja di postingan selanjutnya. Sekarang nikmatin aja dulu curug Cikondangnya yang ciamik.

Enjoy!

Gunung Parang Via Ferrata – Let’s Meluncur… Rappeling

#gunungparang #viaferrata #video360 #virtualtour #purwakarta #jawabarat #westjava #bunsya #adventure #hiking #manjat #climbing #ngebolang

Time to down to the earth.

Turun via ferrata itu sebenernya lebih mengerikan dari pada naiknya. Lebih ngeri-ngeri sedap. Coba aja sendiri dan rasakan sensasinya.

Setengah gunung via ferrata. Setengahnya? Merosot pake tali alias rappeling. Untuk yang belum pernah, mayan deg-degan sih. Tapi ga separah deg-degannya pas lepas tangan dua buat foto bergaya. Kita mulai dari goa. Sebelumnya kita istirahat dulu di goa. Dan pastinya ngantri. Karena talinya cuma ada 1. Dan sebenernya di goa peristirahatan itu, si TL bawain teh manis hangat. Tapi, ga tau, group kita ga ada yang mau minum satupun hahahaha… mungkin karena kita mikir rempong kali ya. Dan udah kepingin banget turun.

Rappeling sebenarnya aman karena ada yang tahan tali kita. Hanya bobotnya harus seimbang buat yang nahan talinya. Awalnya agak ngeri, tapi lama-lama enjoy. Dan lagi cinta-cintanya, nyaman-nyamannya eh tau tau sampe bawah… Emang ga lama sih rappeling dari tengah gunung Parang sampai ke bawah. Kurleb 5 menitan lah. Kurang nampol mang.

Eit, kalo mo nampol, coba rappeling di bawah air terjuan aja, alias canyoneering. Nanti gw ulas canyoneering di sini dan di youtubenya. Biasa… mulai dari orientasi sampe lepek-lepekan 😀

Rappeling bawa kamera rada ribet mang. Tapi harusnya kalo udah terbiasa, bisa aja sih lepas tangan dua-duaan. Karena ada yg tahan tali juga kan. Cuma karena pemula, jadinya masih insecure dan alhasil rada rempong.

Ya udah, nikmatin aja videonya. Sensainya? Yuk, ngebayangin bareng sambil ngemil mendoan tengah malam, haiyaa… Mohon maap kalo ada teriak-teriak, soalnya body dan kaki ga seimbang… wkwkwkwk

Gunung Parang Via Ferrata – Finally Summit!

#gunungparang #viaferrata #purwakarta #jawabarat #westjava #bunsya #hiking #climbing #mountain #ngebolang #ngetrip #adventure

Setelah ngos-ngosan dan kaos basah kering basah kering (semakin nanjak semakin keringetan dan bikin kaos basah, tapi karena anginnya kenceng banget jadi kaos cepet kering juga hahahaha), Alhamdulillah sampailah kita di puncak. Syukurnya bukan puncak asmara tapi puncak kehidupan #ea.

Masya Allah pemandangannya indah banget… Kebayar dah lelah badan begitu melihat pemandangan yang ciamik dari atas gunung. Dan bener, semakin tinggi angin semakin kencang. Berlaku juga di “hutan kota”. Semakin kita berada di posisi atas, semakin kencang “angin” yang menerpa kita. Solusinya? Inget terus sama Yang Maha Kuasa. Zikir, tasbih, memuji dan berterima kasih kepada-Nya, akan membuat “angin”nya pergi dengan sendirinya atas izin kuasa-Nya.

Sounds like mama dedeh? Ya udah, balik ke alam. Angin di atas gunung kenceng banget dan bikin dingin. Mendinginkan tubuh, otak dan hati. Dijaga aja biar jangan sampe beku. Nanti repot lagi cari penghangat 😀 😀 😀