Gunung Parang Via Ferrata – Pemakaian Alat Keselamatan

#gunungparang #viaferrata #gunung #ferrata #hiking #climbing #mountain #tracking #trekking #webing #bunsya #adventure #ngebolang #metime #refreshing #beautifulindonesia #letsclimb #rocknroll #safety #everyonecanclimb

Gunung Parang yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat, sampai dengan saat ini adalah salah satu yang menggunakan ferrata atau tangga besi yang dipasang di gunung tersebut.

Dengan tagline “everyone can climb”, gunung ini bisa dinaikin oleh siapapun, bahkan yang belum pernah atau tidak ada pengalaman naik gunung. Dan waktu yang dibutuhkan singkat saja, sekitar kurang lebih 2-3 jam untuk naik ke atas, tergantung kondisi dan stamina masing-masing.

Ada 2 operator yang menangani penanjakan ini, yaitu Skywalker dan Badega. Tulisan ini dibuat, gw menggunakan operator Skywalker. Next, gw akan coba dari Badega agar tau 2 sisi yang berbeda.

Untuk part ini, gw akan membahas penggunaan alat keselamatan. Untuk pemakaian hardness ini dipakaikan di sekitar paha, selangkangan dan pinggang, maka disarankan yang wanita menggunakan celana. Kalaupun masih mau pakai rok juga ga masalah, yang penting pakai daleman celana panjang.

Lalu ada 2 carabiner yang digantung di hardness, yang 1 fungsinya untuk mengkaitkan itu ke sling, tali karmantel yang dipasang di sepanjang gunung dari atas ke bawah untuk pengunci dan 1-nya lagi dipasang di setiap ferrata yang mau kita jajaki.

Terakhir ada safety helmet. Ini wajib supaya kalau ada kejatuhan dari atas, kepala kita aman. Dan juga sepatu atau sendal gunung.

Safety equipment lain yang optional adalah sarung tangan. Bagi kulit sensitif, dianjurkan untuk memakainya karena selama perjalanan, telapak tangan akan terus bersentuhan dengan ferrata. Dan ketika turun dengan teknik rappeling, maka tangan akan memegang sling. Kalau masih mau mulus, pakailah sarung tangan.

Hal lain yang ga kalah penting adalah sunblock supaya ga terlalu belang, sunglasses biar ga silau dan kalau difoto kita ga nyerengit hehe… lalu lotion anti nyamuk karena jalan menuju ke titik awal gunung adalah hutan, dan mengantripun kita dikelilingi banyak pohon, jadi pasti banyak nyamuk berkeliaran. Selanjutnya kalau gw pribadi pakai balsem geliga atau lotion urut kayak counterpain atau minyak telon yang gw balurin ke paha, kaki, pundak dan tangan. Buat apaan sih? dah kayak nenek-nenek aja. Ihss… emang gw udah nenek-nenek. Makanya pas gw pake balsem, pada nengok yang di sana, mencari-cari sosok nenek-nenek tak diundang.

Trus, coba buat apa? Kalau gw itu buat ngebantu ngelenturin otot. Jadi ketika kegiatan selesai, otot ataupun urat-urat gw ga jadi terlalu kaku kayak kanebo kering. Apalagi buat yang jarang olahraga macem gw. Ya lah, nenek-nenek kan demennya nyirih dan ngerajut ketimbang nge-gym.

Adakah keperluan lain yang dibawa selain disebut di atas?

Ada sayang… Ada…

Air mineral sebanyak 2 botol sedang lah. Tapi kalau lo sejenis onta, ga bawapun bisa tahan. Kalau gw cukup 1. Bukan karena bisa nahan haus tapi karena takut ga tahan pepsi. Mikir lah kalau udah kebelet, mau pepsi dimana coba? Di tebing dan puncak, toilet 2ribu belum jadi. Baru lagi didesain dengan anggaran 198 juta #eh.

Selain air, bawa juga makanan. Nasi ayam geprek gitu? Boleh kalau lu mau repot bawa atau perut ga tahan laper. Tapi, kebanyakan ga anti main stream sih, standard aja. Biskuit, ciki-cikian, coklat.

Trus apa lagi? Pakai baju warna terang ya! Yang ngejreng kalau perlu. Biar kenapa? Biar kece kalau di foto. Biar keliatan kalau yang difoto itu sosok kita, bukan megalitikum.

Dan terakhir yang super penting dari safety equipment, yaitu Kamera Action 360 yeeeeaayyy… supaya semua sudut bisa kerekam ketika lo beraktifitas. Kek di bawah ini nih…

Naik Bus Bandara

#busbandara #damri #soetta #bunsya #bandarasoekarnohatta #jakarta #terminal1 #terminal2 #terminal3 #jalan2 #menikmatihidup #lengang #ibukota #jekardah #pgc #cililitan #uki #mepo #sopir

Bus yang ke bandara banyak meponya di Jakarta, PP, Jakarta – Bandara, Bandara – Jakarta. Salah satunya mepo di PGC alias Pusat Grosir Cililitan, si tetangganya UKI.

Perjalanan dari terang ke gelap ini rute Bandara terminal 3 ke PGC.

Beruntung bus penuh, jadi dapet kursi di sebelah sopir. Ini padahal naiknya ga pas di depan pintu naik loh, tapi bus masih rada jauh udah disemperin. Itu menandakan bus jurusan PGC ini paporit. Berasa kenek? Ga juga karena udah ada kenek aslinya narikin ongkos 80 rebu.

Wiihh… mehong ya…?

Yes, selama pandemi ongkos jadi naik 2x lipat karena bangkunya kan isi-kosong-isi-kosong alias social distancing. Jadi wajarlah.

Nah itu kenapa beruntung duduk di sebelah sopir? Beruntung dong! Karena bisa liat pemandangan di depan dengan leluasa tanpa terhalang bangku lain, kecuali kaca bus yang menghalangi. Tapi, gapapa lah, kaca itu berkorban kok demi gw biar ga kerasukan kena belaian angin mesra. Dari pada dihalangi cowo 3T? Bisa kejang-kejang dan langsung minta ke KUA ntar.

Apalagi 3T? Itu loh, idaman para wanita sholehah. Taqwa, Tajir, Tamvan.

Ah sudahlah, menghalunya di atas kasur aja. Mending kita nikmatin jalanan Jakarta yang lengang…

Cara Beli Tiket Kereta Bandara

#stasiunbandara #keretaapi #kai #ngetep #stasiunmanggarai #stasiunkereta #mesintiket #petugaskai #carabelitiket #tiketbandara #mesinotomatis #soetta #airport #shuttlebus #terminal1 #terminal2 #terminal3

Pemesanan tiket bandara ini dibantu petugas dengan pembelian tiket setelah naik keretanya hahahahaha…

Adegan pembelian tiket kereta setelah naik TIDAK dianjurkan ya Bun.

Rusuh di Stasiun Kereta Bandara Manggarai (Don’t Do That @Station)

#stasiunbandara #keretaapi #kai #ngetep #stasiunmanggarai #stasiunkereta #kejarwaktu #capek #ngosngosan #keringetan #keringetmengucurderas #terlaluontime

14 Nov 2020 keknya hari bersejarah ngos-ngosan sepanjang masa.

Rencana banyak waktu menggapai jadwal kereta bandara yang on time, kenyataan tidak semanis bayangan. Tadinya mau naik kereta dari stasiun kecil, Duren Kalibata tapi karena nunggu bocah di kamar mandi kelamaan, akhirnya habis waktu, naiklah ojol langsung ke stasiun Manggarai untuk dapat kereta jam 7.40 pagi.

Sampai stasiun Manggarai, ternyata pintu masuk dari berhenti ojol lumayan jauh. Masuk. Tanya petugas mau ke peron kereta bandara. Dijawab peron 9. Begitu mau ke sana, ada 2 pilihan. Lewat atas atau bawah? Bingung…

Balik, tanya petugas lagi. Katanya bisa 22nya. Trus, bilang atas aja gpp. Eh, gw turutin dong omongannya. Itu jam 7.33. Ternyata peron 9 itu paling ujung dari pintu masuk. Dan artinya gw harus menyebrangi 8 peron.

Peron pertama dan kedua mulus. Peron ketiga ga bisa disebrangin karena ada kereta parkir. Untungnya pintu kanan dan kiri kereta terbuka. Jadilah nyebrang dalam kereta.

Peron selanjutnya, sama, kereta parkir. Karena yang satunya pintu ga terbuka, terpaksa cari ujungnya kereta. Mayan beberapa gerbong mesti dilewati sambil lari… mulai keringat netes. Peron 4 hap, 5 hap. Lanjut ke 6 dan 7.

Begitu 8 langsung bingung karena ga ada sambungan ke 9. Alhasil nyebrang rel, benar-benar ngelangkahin relnya. Sampai di peron 9. Tambah bingung karena ga ada tangga atau apapun untuk naik ke pijakan ruang tunggu penumpang. Baju udah basah dengan keringat. 2 menit lagi menuju 7.40.

Bodo deh, lompat aja ke atas. Ternyata ada pijakan di sekitar situ dan sepertinya memang untuk naik ke ruang tunggu peron 9 dengan maksa. Sampai di atas, semua pintu kereta tertutup. Ketok-ketok dong. Ga ada yang denger. Penumpang di dalampun kalau denger, ga bisa melakukan apa-apa. Dan ternyata gerbong pertama yang ditemuin itu gerbong terakhir. Lokomotifnya di depan. Jadi dong lari lagi dan lagi sambil teriak-teriak “Tunggu! Tunggu! Buka pintunya!” #gendhengemang

Sampai di lokomotif langsung ngomong ngos-ngosan. Dan semua orang yang ada di sana ngegerubungin gw hahahahaha… ya Allah hambamu ini… caper banget dah.

“Saya mau ke bandara. Mau naik kereta ini yang sekarang… hosh… hosh…”

“Ibu dari mana?” tanya petugas.

“Dari sana. Dari pintu masuk Pak,” sambil ngos-ngosan sambil nunjuk ke arah pintu masuk commuter.

“Kok bisa ada di jalur ini?” tanyanya lagi.

“Ya bisa, Pak. Kan dari pintu masuk,” tetep kekeuh. “Saya mau naik kereta ini.”

“Maksudnya kok bisa? Itu kan bukan pintu masuk kereta bandara,” kata petugas. “Ga ada pintu kalo tiba-tiba ibu muncul dari sana.”

“Emang dari sana ga ada, Pak. Saya loncat dari rel, naik ada pijakan batu. Manjat aja. Sampe sini,” jawab gw polos.

Semua orang yang di sana bengong dan ga percaya. Sekaligus mikir dalam hati kali ya nih perempuan ribet amat hidupnya. gaje…

Udah 7.40.

“Yang ini mau jalan. Ibu nanti naik aja yang jadwal berikutnya,” kata petugas.

“Ga mau! Nanti saya ketinggalan pesawatnya. Saya mau naik kereta yang ini.”

Kekeuh.

Petugas akhirnya ngalah πŸ˜€

“Mana kartunya ibu?” tanya petugas.

Gw kasih dong. Sambil ikutin petugas ke arah mesin Tap and Go.

“Ibu udah ngetep?” tanya petugas lagi.

“Udah dong,” jawab gw pede.

“Dimana?”

“Di pintu masuk lah, Pak.”

“Pintu masuk mana?” tanyanya lagi.

“Di sana,” sambil gw tunjuk pintu masuk sana.

“Berarti ibu belum ngetep pintu masuk kereta bandara?” tanya petugas lagi.

“Ga tau saya pak. Yang penting saya udah ngetep.”

Geblek kan gw.

“Kita cek ya, Bu,” kata petugas yang kitanya udah di depan mesin Tap and Go. “Tapi ini kereta mau jalan.”

“Yah, jangan dulu dong, Pak. Please. Tahan bentar ya please…” pinta gw.

Mungkin karena kasian bin ga tega kali ya ngeliat gw yang ngos-ngosan dan bersimbah keringet, maka dicobalah kartu yang tadi gw pake ngetep di pintu masuk. Ga bisa ternyata di mesin Tap and Go bandara.

“Ada kartu lain, Bu?” tanya petugas.

“Ada, Pak,” sambil gw keluarin kartu yang satunya.

“Ini bisa, Bu.”

Akhirnya. Gw mengucapkan terima kasih banyak ke petugas dan langsung masuk kereta. 7.42. Wkwkwkwk… gegara gw kereta telat berangkat…

Langsung duduk masih ngos-ngosan. Sepanjang jalan gw ngiplik aja walo tuh kereta pake AC. Haus banget. Ga bawa air. Ya nasib… Gw ga berani nempel di kursi karena bakal ga kering-kering bajunya dari keringat dan bakal nimbulin bau kalo demek kayak gitu.

Begitu di stasiun Batu Ceper lumayan lama itu kereta berhenti karena sepertinya pergantian posisi masinis dari lokomotif depan ke belakang. Jadi, kalau ambil tempat duduk yang menghadap belakang laju kereta, begitu di stasiun itu jadi sebaliknya.

“Ibu tadi gimana ceritanya bisa ada di peron itu?” tetiba ada yang nanya gw ketika gw masih berjibaku sama keringet di badan.

Eit. Pak masinisnya ternyata…

“Hehe…” gw ceritain lah kronologisnya. Dan dia sabar mendengarkan loh… Karena semua orang di stasiun itu pada heran, gw bisa tiba d sisi peron yang bukan pintu bandara hahahaha…

Trus, dia kasih penjelasan dah harusnya ada pintu/ ngetep di pintu stasiun bandara. Dan itu beda dengan ngetap pintu biasa. Lah… mana saya tau… saya kan ikan… trus ya doi melanjutkan perjalanannya ke lokomotif depan.

Alhamdulillah, sampe dong di stasiun bandara. Dengan pedenya gw ngetep dong di pintu keluar. Tetottt… hahahahha… kagak bisa keluar gw. Kartunya ga diaku. Ampun dah. Derita belum berakhir. Untung ada petugas di situ. Dibantu ngetep di mesin lain. Ga bisa juga. Trus, dia tanya kenapa? Yahhh… gw cerita lagi dah…

Sampe gw bilang, “Itu ada saldonya loh, Pak. Masih banyak…” nyengir si bapak.

Akhirnya gw dioper ke petugas di luar pintu exit. Dan keluar lewat pintu non mesin. Dibukain gemboknya sama petugas wkwkwkwkwk… Dan gw dikawal ke mesin tiket. Dicek dong sm petugas saldo gw. Eh, ada dong 300ribuan… Gw kata juga apa, saldo banyak Pak… si petugas mah nyengir aja gw rada ribut soal saldo. Ya, jangan dikira gw penumpang gelap yang ga mau bayar tiket.

Akhirnya dipandulah sama doi supaya gw “beli” tiket. Hahahaha… orang mah beli tiket sebelum pergi atau pas pintu keluar ya pas ngetep kepotong saldo kartu kita. Ini setelah semuanya selesai. Emang dasar gw cari perhatian… Petugasnya helpful bet dah.

Alhamdulillah bener-bener selesai hiburan gw pagi pagi… langsung sambung shuttle bandara ke terminal 3.

Gaes, cerita di atas contoh buruk. Jangan diikuti. Tanya petugas dengan minta jawaban sejelas-jelasnya kalo masih ga paham di awal. Kalo perlu omelin petugas pertama yang ngasih arahan gaje gitu…

Peraturan Pemerintah Mengenai Masa Berlaku Passport Menjadi 10 Tahun

Istirahat Kayak Buat Foto-foto

#kayak #istirahat #jeruk #laut #pantai #video360 #virtualtour Setelah mendayung setengah jalan, kita melipir ke pasir putih. Keren ngab. Turun dari kayak, geret kayak buat parkir, nyelonjor dah di pasir. Makan jeruk, beuh manteb banget. Minum air kelapa, haish… nikmat… ngoceh-ngoceh pengalaman ngayak setengah perjalanan. Sisanya? Foto-foto ngab. Ini menu wajib buat kami para penjunjung tinggiContinue reading “Istirahat Kayak Buat Foto-foto”

BerKayak Dengan Ubur-ubur

#kayak #ancol #uburubur #dayung #video360 #virtualtour Pengalaman pertama dalam berkayak. Kagok ngab. Untungnya ditemenin sama temen-temen bawah laut, si ubur-ubur, jadi rame deh, ga malu pas kagok karena mereka cuek juga sih, masing-masing. Lagi pada berjamaah nyari si Spongebob… Buat awalan kita setting kayak dulu pake postur tubuh kita sendiri. Trus, pemanasan deh. Briefing. Cusss…Continue reading “BerKayak Dengan Ubur-ubur”

Paralayang Puncak

#paralayang #puncak #jawabarat #terbang #paralayangtandem #lifeisfree Jakarta – Paralayang Puncak, sendiri. Jakarta – Lingkar Kutub Utara, sendiri. Mati, sendiri. Nikmatin aja selama nafas masih berhembus… Dari kediaman yang bayar bulanan cus ke stasiun terdekat, by ojol, 13 rebu. Stasiun terdekat ke stasiun Bogor, 6 rebu. Nih, yg amejing. Stasiun Bogor ke TKP Paralayang langsung byContinue reading “Paralayang Puncak”

Beautiful Prambanan

#prambanan #candiprambanan #prambanantemple #temples #candi #candis #magelang #jawatengah #beautiful #beautifulindonesia #jalanjalan #bunsya #foto #ciamik #indonesiaindah

Tidak ada cerita special di Prambanan ini. Hanya ingin pamer foto-foto aja πŸ˜€

It’s all about love

prambanan001

Beresin jilbab dulu

prambanan002

Syahdu

prambanan003

Harus hepi

prambanan004

Balance

prambanan005

Makin pinter aje nih bocah ngambil angle foto. Mantul dah…

Sinergis. Optimis. Ga statis.

prambanan006

Diantara tumpukan bebatuan

prambanan007

My beautiful Prambanan

prambanan008

3 Generasi

prambanan009

Spot cantik buat foto. Udah kayak mantenan πŸ˜€

prambanan010

Paparazzi by Bocah Maniezzz

prambanan011

Bokehnya keterlaluan

prambanan012

Untungnya Di Borobudur Bersama Nenek-Nenek :D

#borobudur #candiborobudur #tample #borobudurtample #jawatengah #magelang #candi #tamples #budha #arca #indonesiaindah #neneknenek #oma #bunda #bunsya

borobudur005

Walaupun slow motion pergi sama nenek-nenek, tapi ada untungnya juga πŸ˜€

Maaf Oma, lagi ngegibahin Oma sedikit. Sedikit aja…

Tau dong candi Borobudur tangganya kek apa? Dari jauh aja udah panas dingin ngeliatnya buat nenek-nenek, kakek-kakek atau orang yang ga pernah olah raga…

Tapi, well, tampilannya ga berubah loh dari zaman gw SMA nengokin ke sana. Luar biasa konsistensinya… dia tetap dengan pendiriannya. Teguh banget. Ga ada yang keseger sedikitpun batunya. Ga kayak hati gw yang bisa kegeser kapan aja #nobaperplis

Mulai masuk setelah beli tiket (pintu tiket turis domestik dan bule udah dipisah sekarang), ada pilihan untuk naik kendaraan kecil yang membawa turis ke pintu candi. Pilihan lain ada penyewaan sepeda sebesar 10rb aja. Nanti tuh sepeda mo diletakin dimana aja, sabeb. Ga ada yang ngelarang. Tenang aja, ntar tuh sepeda pasti balik sendiri ke tempatnya deket pintu masuk. Ajaib kan?

Alternatif lain? Ada… tenang aja. Jalan kaki bro! Saik kan? Sehat lagi… πŸ˜€

Lumayan, kalau jalan ada lah setengah kilometer untuk mencapai pintu masuk candinya. Itu belum mencapai anak tangga pertama loh. Catet ya.

Pilihan Oma dah pasti ketebak. Naik mobil kecil yang ga ada jendelanya itu. Yang semuanya pintu tanpa daun pintu. Macem di TMII deh. Mobil kecil putih yang bayar 5rb untuk kelililing TMII. Nah, kalau ini 10rb. Mehong ya cint? Dah tiket masuknya juga sekarang mehong, 40rb/ orang. Itu yang berbangsa Indonesia ya.

Oma naik mobil itu, kita kawal dengan sepeda. Kalau jalan kan lurus aja tuh ya dari pintu masuk sampai dengan pintu candi. Nah kalau pakai mobil, muter. Ini mah bener-bener ngelilingin pekarangannya candi yang serba hijau. Ih, gempor juga ngawal pakai sepeda, secara dapet sepeda yang kayuhnya ga saik. Kayak ngayuh sepeda yang bannya kempes, berat beut, tapi kenyataannya sebenernya bannya ga kempes, walau gigi-nya dah diutak-atik dari 1 sampe 7.

Bocah bilang, giginya dimundurin bun. Udin. Sama aja. Sampai akhirnya si bocah ga tega sama maknya dan akhirnya tukeran sepeda. Alhamdulillah, sepeda si bocah lancar jaya. Etapi kasian juga akhirnya liat bocah ketinggalan sama sepeda tukeran. Ah, emang dasar sepedanya bermasalah. Karena itu, kudu cek dulu ya gaes kalo mau sewa sepeda.

Sampai di tujuan. Depan pintu candi. Ngaso dulu. Sumpah, gamis basah sama keringed. Minum berkali-kali.

Udah siap jiwa raga, mulai start jalan menuju tangga pertama candi. Tapi di sela-sela itu, kita narsis-narsisan dulu lah… Sayangkan, ga sebulan sekali ke sana…

borobudur004

“Oma ga naik ya,” kata Oma tersayang.

No problemo lah…

Etapi, engingeng… gw liat dong ini pintu masuk ga double dacker, alias ga bisa jadi pintu keluar. Cuma 1 arah, macam di Selatan Jakarta yang banyak 1 arahnya. Nah loh… bingunglah maknyak sebagai penanggung jawab jelong-jelong kali ini.

Dengan pedenya bilang, pasti ada petugas. Alhamdulillah setelah diteliti beberapa menit, ada pos isi 2 orang. 1 anak muda, 1 lumayan senior lah. Kalau udah gini, kita perlu eskaesde.

“Pak, maaf, ini jalan keluarnya mana ya?” tanya Maknyak.

Masuk belum, udah nanya jalan keluar. Hebat kan. Ini contoh orang visionaris.

“Di sana,” jawabnya sambil nunjuk ke atas, trus ke bawah di balik megahnya si candi.

Mampus! Dalam hati Maknyak. Harusnya gw bawa kain gendong inih… Biar bisa bopong emak gw tercinta…

“Ga ada jalan lain Pak? Soalnya mama saya ini ga kuat nanjak, naikin tangga ini sampe atas. Itu gimana Pak?”

“Mana mamanya?” tanya si Bapak senior.

Tak tunjuk si mama cayang.

“Ooo… itu sih bisa lewat sana aja, jalan khusus difabel. Mau pake kursi roda ga?” tanyanya lagi.

“Ga… ga.. Biar oma di sini aja. Mau duduk aja. Nunggu,” kata Oma.

“O… ada Bu kursi di sana. Satu. Duduk di sana aja. Tenang deh, ntar saya temenin ngobrol sampe kapanpun, hehe…” cengir si Bapak ramah.

Lah… dikau kan sedang tugas Pak. Eh, atau menemani orang seperti oma itu salah satu job descnya juga ya?

Yawes, akhirnya oma nongkrong (maksudnya duduk di kursi jalanan difabel) sambil ditemenin ngobrol sama si Bapak.

“Trus, nanti kita keluarnya gimana? Kan ga mungkin tinggalin mama keluar masing-masing…” kata Maknyak alias gw.

“Ntar, Mbaknya balik ke sini lagi, cari pintu difabel di atas. Tuh tinggal ke arah sana aja,” katanya sambil menggerakkan tangannya ke arah kiri.

Orait bebih, siaaapp…

Naiklah maknyak dan bocah ke atas. Narsis-narsis ga abis-abis. Semua pojokan dijadiin latar foto. Semua tepian ga luput dari radar hape. Puanasnya maknyos. Jadi, pastiin bawa topi or payung ya gaes kalau ke Borobudur dan atau Prambanan. Plus air minum. Tapi ga boleh nih bawa makanan. Bisa kena omel/ tegur. Petugasnya banyak beut sekarang di puncak candi. Tulisan-tulisan larangan juga banyak di setiap beberapa meter di tempel. Dan ini ternyata berubah setelah candi ini dipegang UNESCO, kata si bapak tadi.

Setelah puas dan kering di atas, kita cari arah pintu difabel. Nanya-nanya petugasnya, sekalian ngetes, galak ga kalau ditanya begituan. Soalnya mereka rada-rada galak sama orang yang nyender ke sisi Stupa terbesar. Mereka galak sama orang yang masuk-masukin tangannya ke stupa-stupa kecil. Apalagi sama yang naik-naik ke sekitaran stupa. Ah, ternyata baik dan manis jawabnya. Apa karena maknyak yang nanya? #dihspedeamat

Begitu masuk jalur difabel, eh beneran, tuh si bapak dengan setia nungguin dan ngobrol sama Oma. Seriusan. Baik beut dah. Entah udah berapa jilid buku itu cerita si bapak ke Oma, tentang hidupnya di Jakarta, tentang candi yang udah pindah tangan kepengurusannya. Alhamdulillah, seenggaknya oma terhibur ada yang nemenin. Kita mah padahal dah buru-buru di atas, mikirin Oma di bawah. Buru-buru gimana ya? Padahal foto dah jadi puluhan πŸ˜€

“Nah, gimana ini kita keluar Pak?” tanya maknyak.

“Kita lewat sana aja. Potong jalan,” jawab si bapak.

Gw ga ngeliat shortcutnya. Ga ada jalan setapak. Ga ada petunjuk.

“Mana ya Pak?” tanya gw.

“Itu. Udah, saya anterin sampe pintu keluar,” katanya menawarkan bantuan.

Gw ikut aja deh. Soalnya ga tau jalannya yang mana. Ga ada jalan setapak. Ga ada petunjuk. Ga ada arah apa-apa. Dari padai lost in my country, kan ga lucu… #lebay

“Gapapa nih Pak?” tanya gw meyakinkan.

“Gapapa,” jawabnya santuy.

Okelah, fine. Fix. Cusss…

Keluar lagi dong kita dari pintu utama alias pintu masuk candi. Agak-agak ngelawan arus lah ya, secara pengunjung buanyak banget. Dah gitu, ternyata belok kiri, serong terus dan ngebelah lahan rerumputan. Weks… ini toh shortcutnya… pantes, gw g ngeliat jalan setapak ataupun petunjuk.

Ini sebenernya ga boleh. Melawan arus dan ga di jalurnya. Tapi berhubung si bapak kasian sama Oma, ga ada mobil lagi di situ, ya sudah. Omapun sudah menyatakan nyerah naik tangga. Mobil ada di sebelah sisi candi sebelah sana kalau kita dah naik terus turun ke arah berlawanan, baru bisa naik mobil lagi dari sana untuk sampai ke pintu keluar.

Nah, dari situ kita terus ngebelah rerumputan, baru deh setelah jalan lumayan, nemu jalan setapak. Tinggal ngikutin aja sampe akhirnya ditunjukin pintu keluar. Jalan ga berasa cape karena sambil ngobrol sama si bapak. Nunjuk-nunjukin area-area yang dulu digusur untuk taman candi ini. Termasuk rumahnya yang kegusur saat itu. Saik lah denger cerita si bapak.

Karena kitanya yang ga enak, ga sampe pintu keluar kita udahan mintanya sama si bapak untuk anterin. Dah keliatan sih pintunya, tinggal langkah kaki aja nih yang mesti digerakkin. Alhamdulillah… kita terima kasih sama si bapak sambil salam tempel.

Trus, ketemu pintu keluarnya? Ketemu dong… walaupun akhirnya jalan jauh juga si Oma, tapi seenggaknya sudah mendiskon tenaganya dari tanjakan tangga dan jalan ke arah pintu keluar sekitar 1 km.

Begitulah… banyak sabar ya jalan sama nenek-nenek… dibalik kesabaran pasti ada keuntungan. Ahai…

 

Foto Ngetrek Dalam Air, Umbul Ponggok

Umbul Ponggok 012

#umbulponggok #gopro #fotodalamair #jawatengah #bunda #bunsya #travel #jalanjalan #dinginbanget #seger #wisataair

Asik ya ngeliatnya?

Bikinnya ga seasik ngeliatnya di awal…

Begitu datang, belum apa-apa, mau daftar, udah ada tulisan “Pemotretan Penuh”. Kalau mau ngantri, nanti 2 jam lagi. Well, ga aneh kalau antriannya penuh bin sesak karena musim liburan.

Wah, agendanya banyak lagi. Justru 2 jam ke depan udah harus selesai di tempat ini karena mau ke Prambanan. Lalu dilanjut sama si embak, “Kalau mau yang cepetan, daftar yang di luar saja.”

Langsung cusss ke luar pintu kolam renang Umbul Ponggok ini tanpa fikir panjang. Harga bagaimana? Pasti beda… Lebih mahal. 30 menit 2 orang pakai motor trail, kena 160rb. Manteb kan? πŸ˜€

Pilihan properti banyak. Mulai dari motor trail, motor vespa, kursi, meja dan tv untuk nonton, kursi-meja-laptop, ayunan, sepeda, becak, sampai lingkaran seperti mainan outbond anak.

Pembicaraan panjang karena selain arahan, kita lihat-lihat juga hasilnya dengan properti masing-masing, mana yang keren.

Mbak admin memulai dengan pertanyaan, “bisa berenang?”. Kalau bisa, dipersilahkan pilih properti yang diinginkan. Apapun jadi mudah kalau bisa berenang. Tapi sarannya walaupun bisa, lebih baik motor aja karena akan mudah untuk ambil nafasnya kalau udah keabisan nafas. Ok lah, motor trail pilihan kita.

Hanya tunggu 15 menit. Langsung nyemplung ke dalam kolam. Masuk kaki, langsung angkat kaki lagi. Dingin ciiinnntttt airnya. Sumpah airnya dingin banget. Padahal itu jam 11 siang. Air itu begitu dingin dan bening karena sumbernya dari mata air langsung yang keluar dari dalam tanah ke tempat itu. Dan ga ada bau amis walau ikan seliweran ke sana kemari.

Si bocah sempet tanya, kalau pakai kulot keangkat ga di dalam air? Mmm… maknyak berfikir. Kalau gamis, pasti iya, makanya pakai daleman celana panjang. Kalau kulot, ya kita lihat aja yuk gimana dia di dalam air. Dan ternyata, bisa keangkat juga walau tidak seekstrim gamis/ rok.

Walau kulit mengkeret, mau ga mau tetap paksakan masuk air badan ini. Hati-hati begitu turun ke air, karena sepanjang pinggiran kolam licin akibat lumut yang merajalela di sepanjang tembok.

Motor trail ditaro di tengah kolam. Haiyaaa… ke sana harus berenang. Dan kedalaman kolam itu sekitar 2.5 meter. Ga ada pegangan. Bocah ga mau ke sana. Walaupun bisa berenang tapi nanti di sana bertahannya bagaimana? Alhasil bocah minta pelampung. Sewa pelampung 10rb sebebas-bebasnya asal jangan dibawa pulang.

Mulailah berenang ke tengah. Beuh, bener juga si bocah. Anteng aja dia ngapung di tengah sama si pelampung. Maknya? Minta pegangan sama tukang fotonya. Diarahkanlah maknya ke motor dan alhasil berdiri di atas jok motor. Alhamdulillah bisa… jadi ga ngos-ngosan mengapung ala bebek di air.

Tahap awal, ambil nafas panjang di permukaan air, lalu nyelem ke air. Rada ga mudah men menghentakkan badan kita masuk ke dalam air. Terpengah-pengahlah tangan meraih stang motor. Dapet! Eh, jilbab belakang naik. Ribetlah 1 tangan benerin jilbab belakang dalam air, masukin ke dalam si kerah gamis.

Mas tukang fotonya dah bilangin, hijabnya dimasukin ke dalam baju ya… karena awalan doi kaget ngeliat si emak pake hijab syar’i. Si emak bilang, yoi mas, ini ganti, pake yang segitiga. Nih, dimasukin. Depan belakang dimasukin ke kerah. Tapi, teteup aja pemirsah, di dalam air itu, si jilbab mengembang. Alhasil pada ga betah di dalam kerah. Berontaklah mereka. Yang repot ya si tangan-tangan emak ngeberesin jilbabnya masukin lagi ke kerah. Kalau ga dimasukin, nanti dia nutupin muka. Kalau yang bagian belakang, jadi kayak konde munjul saingin monas.

Begitu kelar 1x siklus nafas, keluarlah emak ke permukaan air. Langsung berdiri di jok motor. Dan langsung kenceng-kencengin si jilbab masuk kerah. Bebet-bebet lah tuh si jilbab depan belakang biar kekunci. Aman…

“Kaaakk… (Mak manggil bocah). Dingiiinnn… Bunda ga bisa ngeliat apa-apa di bawah. Semua ikan yang bunda liat cuma titik-titik burem aja…”. Entahlah itu karena memang ga pakai goggles atau karena mata mak minus plus silinder. Dan mak ga tanya ke masnya, emang begitu ya kalau ga pakai goggles? Sumpah, si mak ga bisa liat kelucuan ikan di dalam air. Semua tampak seperti bokeh. Eh, tau bokeh ya? πŸ˜€

Dan mas fotopun bilang, “Nurunin badannya, pake kaki aja. Kakinya disangkutin di sela-sela motor, terus tarik badannya pakai kaki.” Karena mungkin mas fotonya ngeliat si emak susah turun masuk ke air. “Atau mau pakai pemberat?” tanya si mas fotonya. Pemberat maksudnya iket pinggang yang kita pakai agar badan kita berat dan bisa masuk air dengan mudah. “Ga usah deh Mas. Lama lagi nanti ngambilnya. Udah sangkutin kaki aja di motor,” jawab Maknyak.

“Ok,” kata Mak. Dicoba. 1, 2, 3 teriak mas foto dari kejauhan. Hab… ambil nafas, sangkutin kaki. Sangkutin dimana aja dah pokoknya sedapetnya. Tarik badan. Wow… serius, lebih mudah loh! Amejing banget dah tips si mas fotonya.

Alhasil, cara ini mak lebih banyak dapet jepretan dan bisa banyak gaya di atas motor. Sampe-sampe gaya superman hahahaha… pegang stang trus terbang. Kelar sesi foto, tambah deh 1 sesi video. Ini untuk membuktikan kalau foto itu bukan hoax. Kalau ga percaya, ya kita kasih videonya. Soalnya temen-temen si bocah pada bilang, itu boong. Trus pada nanya, beneran ga tuh? Beneran ga ya? Begitu diaksih videonya, langsung pada teriak, “Mauuuuu…!!!!” Wkwkwkwkwkwk πŸ˜€

This slideshow requires JavaScript.

Kelar 4 siklus, gantian sesinya bocah. Tapi, sebelum si bocah sendirian, Mak minta si mas biar kita berdua dulu. Biar dia ga panik sendirian dalam air tanpa pelampung. Pelampung dibiarkan mengapung di kesendirian 😦 #nobaper.

Mak tarik badan si bocah sambil megangin pinggangnya supaya ga kebawa arus ataupun panik sendirian. Pastinya dah diwejangin macem-macem sebelum nyilem. Terakhir mak berpesan, “Inget untuk senyum ya…” Biar fotonya keliatan syantik πŸ˜€

Alhamdulillah… ga panik karena didampingin maknyak. 4 siklus foto dilewati dengan baik, tetep drama jilbab berontak ada juga… lalu dilanjut dengan video.

Pastinya dah ketebak lah ya. Sesi terakhir, ya si bocah foto sendiri dengan pede dan tanpa panik. Berhasil! πŸ™‚

Nah, untung banget kita milih motor trail. Ambil nafasnya kebantu sama jok motornya. Ga kebayang kalau pilih properti lain macam becak atau meja-tv-kursi atau meja-kursi-laptop. Secara kalau becak atau kursi, tinggi mereka ga setinggi jok motor trail. Jadi bakal rada susah ambil nafas dengan santai di atas kursi atau becak atau meja. Santai dalam arti, kita masih bisa sambil ngobrol sama mas fotografernya. Belum lagi turun ke dalam airnya, gimana sangkutin kaki kita di properti? Yang ada udah terengah-engah, kaki ga nyampe-nyampe juga ke properti buat disangkutin πŸ˜€

Belum lagi propertinya ga seberat motor trail yang bisa nahan sangkutan kaki kita. Itulah makanya si mbak pendaftaran di awal nanya bisa berenang ga? Karena kita bakal ambil nafas berkali-kali keluar dari air. Belum lagi keramnya. Kalau ga biasa olahraga, terus keluar masuk air, kaki goyang-goyang terus biar kita tetep terapung, bisa-bisa kram.

Eh iya, tau ga? Selama kita sibuk dengan foto, kita ga berasa dingin lagi loh, malah merasa hangat di dalam air itu.

Kelar dong…

Keluar air. Beuuuhh… dingin lagi pemirsah! Arrgghhh… emang jangan keluar masuk air dah kalau ga mau kedinginan terus.

Yang kasian sih si tukang fotonya. Doi dah menggigil terus. Gimana ga??? Doi handle banyak customer yang mewajibkan dirinya keluar masuk air, jalan ke depan keluar area untuk tuker gopro dan ambil ini itu. Duuh… dah ah, selipin aja dah di tangannya si biru cerah. Alhamdulillah… wajahnya langsung sumringah.

Penasaran dong mau ikutan juga???

Ayo cusss dah… πŸ˜€

Masjid2 untuk I’tikaf

IMG_20190526_072320.jpg

Berikut detail penjelasan masjid-masjid yang bisa dikunjungin untuk i’tikaf 10 malam terakhir Ramadhan sesuai dengan pengalaman pribadi penulis.

 

1. Masjid Agung At-Tiin

Masjid keluarga Cendana yany bertempat di Jalan Raya TMII, sebelah padepokan silat.

Makan sahur dan buka puasa: Bayar.

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 9-11 malam, Tausiah

~ Jam 11-2 pagi, istirahat

~ Jam 2-3.30 pagi, Qiyamul lail

~ Jam 3.30-4.30, sahur

~ Jam 4.30-5, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-6 pagi, Tadarus Qur’an 1 juz

(+)

  • Tempat yang luas.
  • Banyak tukang makanan dekat parkiran motor dan juga di pelataran masjid.
  • Toilet yang banyak. Ada tambahan mobile toilet jika malam 25, 27, 29.
  • Ada tempat untuk keluarga di lantai bawah.
  • Bacaan imam yang ok, seperti di Madinah, walau ada 1 atau 2 imam yang tidak seperti itu.
  • Karpet yang empuk.
  • Ada petugas dan jamaah yang saling mengingatkan untuk rapatkan barisan.

(-)

  • Kurangnya AC dan kipas angin untuk ukuran ruangan yang begitu luas.
  • Antrian yang begitu panjang di toilet menjelang qiyamul lail.
  • Toilet yang bau karena terlalu banyaknya jamaah dan bekas-bekas pampers yang bertumpuk tidak segera dibersihkan.

2. Masjid Agung Sunda Kelapa

Masjid agung ini begitu teduh di pekarangannya karena banyak pohon besar menaungi.

Makan sahur dan buka puasa: Disediakan (gratis).

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 9-12 malam, istirahat

~ Jam 00-00.30 pagi, Tadarus Al-Qur’an

~ Jam 00.30-1.30 pagi, Tausiah

~ Jam 1.30-2 pagi, Tadarus Al-Qur’an

~ Jam 2-3.30 pagi, Qiyamul lail

~ Jam 3.30-4.30 pagi, sahur

~ Jam 4.30-5 pagi, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-5.30 pagi, Tadarus Al-Qur’an

(+)

  • Ruangan cukup besar untuk menampung jamaah yang banyak.
  • Kamar mandi yang tidak begitu antri ketika menjelang qiyamul lail.
  • Anak2 tidak berisik (agak aneh memang).
  • Security wanita membangunkan jamaah yang terlelap menjelang qiyamul lail.
  • Ruangan yang adem karena cukup pendingin.
  • Bacaan imam yang bisa dibilang cukup baik.
  • Ada beberapa tukang makanan di halaman masjid jika tidak kebagian makanan gratis dari masjid.

(-)

  • Banyak nyamuk di dalam ruangan.
  • Terlalu penuh, sehingga kadang banyak orang yang songong kala melewati jamaah yang lain.
  • Ukuran lebar karpet yang pendek, sehingga jika tidur kita harus benar2 meringkuk.
  • Jika donatur sedang sedikit, suka tidak kebagian nasi. Hanya kelompok2 tertentu yang mendapatkannya.

3. Masjid Raya Al-Ittihaad

Masjid yang berada dalam kawasan komplek perumahaan orang-orang kaya daerah Tebet.

Makan sahur dan buka puasa: Disediakan (gratis).

Air mineral: Disediakan (gratis).

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 9-11 malam, Tausiah

~ Jam 11-2 pagi, istirahat

~ Jam 2-3.30 pagi, Qiyamul lail

~ Jam 3.30-4.30 pagi, Sahur bersama

(+)

  • Homieeeeee (gw sukak banged)
  • Air mineral disediakan gratis, tinggal ambil dari kulkas bening air gelasnya.
  • Ruangan adem banget. AC dan kipas angin on terus.
  • Karpet lumayan empuk.
  • Lingkungan tenang.
  • Parkir mobil dan motor tertib dan ok.
  • Imam untuk selain sholat Taraweh ok.
  • Akhwat punya kesadaran penuh untuk merapatkan shaftnya.
  • Toilet enak dan bersih.
  • Disediakan mesin cuci baju.

(-)

  • Bacaan imam pas sholat taraweh ngebut. Sayang sekali… Apa mungkin karena kejar tayang 1 malam taraweh kelarin 1 juz? #myownopinion
  • Tidak ada tukang jajanan di sekitaran masjid.

4. Masjid Al-Hikmah

Masjid yang berada di daerah Mampang ini tidak terlalu besar dibanding yang 3 di atas, tapi tidak terlalu kecil juga.

Makan buka puasa & sahur: Disediakan (gratis).

Air mineral: Disediakan (gratis).

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 7.30-8 malam, Tausiah

~ Jam 11-2 pagi, istirahat

~ Jam 1.30-3.30 pagi, Qiyamul lail

~ Jam 3.30-4.30, sahur

~ Jam 4.30-5, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-6 pagi, Tausiah

(+)

  • Jamaah yang ramah.
  • Lumayan adem.
  • Ada beberapa tukang jajanan.

(-)

  • Toilet yang sedikit.
  • Karpet yang tipis karena tergerus umur kali ya.
  • Pintu belakang jamaah akhwat yang sangat tidak strategis. Jika jamaah penuh sedang sholat, maka orang-orang yang lalu lalang keluar masuk ruangan akan sangat mengganggu jamaah barisan paling belakang yang sedang sholat.

5. Masjid Agung Al-Azhar

Masjid Agung yang berada di daerah bisnis Jakarta, antara Sudirman dan Blok M.

Makan buka puasa & sahur: Bayar.

Air mineral: Disediakan (gratis).

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 9-10 malam, Tausiah

~ Jam 11-3 pagi, istirahat

~ Jam 2-4 pagi, Qiyamul lail masing-masing

~ Jam 3.30-4.30, sahur

~ Jam 4.30-5, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-6 pagi, Tausiah

(+)

  • Lokasi yang strategis.
  • Lumayan adem.
  • Karpet lantai atas tebal, lantai bawah menipis.
  • Banyak tukang jajanan.
  • Bacaan imam yang enak didengar.
  • Sangat Muhammadiyah/ Salafi.
  • Ada toilet khusus lansia (tapi kadang ada jamaah muda tidak perduli dan main masuk saja ke toilet tsb).
  • Security super ketat mengawasi para jamaah.
  • Dibangunkannya semua jamaah oleh security di pukul 3 pagi untuk sahur.

(-)

  • Toilet sedikit.
  • Qiyamul lail yang masing-masing, jadi kurang semangat untuk memaksakan diri bangun (pendapat pribadi nih).
  • Masih adanya akhwat yang tidak berpakaian sesuai tuntutan agama (tidak memakai hijab, aurat kemana-mana). Sangat disayangkan.

6. Masjid Raya Pondok Indah

Masjid yang berada di daerah kawasan elit Pondok Indah, terletak di pinggir jalan raya Pondok Indah.

Makan buka puasa & sahur: Disediakan (gratis).

Air mineral: Disediakan (gratis) dan ada tambahan teh gelas.

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 11-1.30 pagi, istirahat

~ Jam 1.30-3.30 pagi, Qiyamul lail

~ Jam 3.30-4.30, sahur

~ Jam 4.30-5, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-6 pagi, Tausiah

(+)

  • Ruangan yang adem banget.
  • Banyak tukang jajanan.

(-)

  • Toilet sedikit, jadi antriannya panjang.
  • Tidak sepenuhnya lantai bawah diberikan karpet. Yang ada bila tidak kebagian tempat di atas dan tidak bawa karpet sendiri/ cover bed, alhasil akan sangat nelangsa karena ruangan yang adem banget (dingin) langsung bersentuhan dengan kulit.
  • Pembagian kupon makan tidak terorganisir dengan baik, tidak tersistematis. Alhasil, ibu-ibu saling berebut untuk mendapatkan kupon makan.
  • Terlalu banyaknya pengemis di depan jalan masuk dan di area tempat makan.
  • Adanya penitipan sendal “ilegal” yang membuat jamaah baru, yang belum tau seluk beluk masjid ini, akan mengikuti saja arahan penjaga penitipan sandal “ilegal” untuk menitipkan alas kakinya ke mereka.
  • Masih adanya akhwat yang tidak berpakaian sesuai tuntutan agama (tidak memakai hijab, aurat kemana-mana). Sangat disayangkan.

7. Masjid Jami As-Salafiyah

Masjid yang berada di pinggir jalan Warung Jati Barat.

Makan buka puasa & sahur: Disediakan (gratis).

Air mineral: Disediakan (gratis).

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 9-3 pagi, istirahat

~ Jam 2-3.30 pagi, Qiyamul lail masing-masing

~ Jam 3.30-4.30, sahur

~ Jam 4.30-5, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-6 pagi, Zikir

(+)

  • Ruangan yang adem.
  • Jamaah yang sangat sedikit, jadi bisa lebih khusyu dalam beribadah.

(-)

  • Toilet hanya 1 untuk akhwat.
  • Tidak ada tukang jajanan di sekitar masjid,
  • Pembagian makan tidak sesuai dengan pendaftaran. Malam sudah didaftarkan untuk diberikan makan sahur, tapi kenyataannya makan sahurnya tidak diberikan karena ketidaktelitian pengurus. Alhasil, cari makan di luar masjid, berjalan agak jauh dan dapetnya hanya warteg. Alhamdulillah bisa dapet makan di injury time. Kalau Anda orangnya yang SANGAT menuntut keadilan, Anda akan bertanya dan menegor langsung ke pengurusnya supaya tidak kelaparan di waktu sahur πŸ™‚
  • Tuntunan sholatnya tidak sesuai dengan nama masjidnya.

8. Masjid Jami Al-Falah

Masjid ini berada di pinggir jalan raya Bambu Apus, dekat dengan sekolah internasional Korea.

Makan buka puasa & sahur: Berbayar dan Disediakan (gratis).

Air mineral: Disediakan (gratis).

Kegiatan ba’da Isya:

~ Jam 7.30-8.30 malam, Tausiah/ Kajian

~ Jam 11-1.30 pagi, istirahat

~ Jam 1.30-3.30 pagi, Qiyamul lail

~ Jam 3.30-4.30, sahur

~ Jam 4.30-5, Sholat Subuh berjamaah

~ Jam 5-6 pagi, Tausiah

(+)

  • Bacaan imamnya enak.
  • Ruangan yang adem banget.
  • Karpet yang empuk.
  • Lingkungan yang bersahabat.
  • Ustad-ustad kajian ahlussunah waljamaah yang salafi.
  • Pengurus yang terorganisir dengan baik.
  • Sangat mengikuti syariat yang diajarkan Baginda Nabi dalam hal sholat.
  • Love to be here…
  • Oia, ada praktek dan tuntunan rukhyah sepekan sekali di masjid ini, untuk membantu jamaah yang ingin lepas dari kesyirikan.

(-)

  • Sedikit tukang jajanan.

 

Untuk i’tikaf di luar Ramadhan bagaimana?

Penulis juga sedang mencari tau nih… πŸ™‚

Kalau ada info2nya, boleh ya dishare.

Indahnya berbagi…

Semoga bermanfaat.

 

 

 

J-Sky AEON

015 jsky

#j-sky #aeon #aeoncakung #giantwheel #bianglala #bianglalaterbesar #skyferryswheel

Sekilas Informasi

Bianglala ini dinamakan oleh pendirinya dengan nama J-Sky Ferry Wheel.Β Bangganya punya bianglala tertinggi di negri ini yang kerennya seperti Singapore Flyer. Sama kokohnya, sama bentuknya. Hanya beda di ukuran saja. Bisa intip Singapore Flyer di sini: https://travel-jalan2.com/2016/01/06/setengah-jalan-jalan-di-singapore/

01 jsky

What’s inside

Apa yang di dalam gerbong/ gondola bisa memuat maksimal 6 orang dewasa. Kalau gondola yang di SG bisa 20 orang (kebayang dong ya besarnya seperti apa). Setiap gondola ada ACnya, AC split yang seperti di rumah-rumah. Adem. Jadi ga usah khawatir panas kalau naik bianglala ini di waktu siang hari. Paling hanya silau aja πŸ™‚

017 jsky

Harga

Di bawah 90cm, Gratis. Seneng ya dengernya. Gratis. Tapi, untuk yang di atas itu tingginya bayar 50rb/ orang. Couple 160rb. Apa bedanya? Padahal kan lebih menguntungkan yang bayar masing-masing, hanya 100 rb untuk 2 orang. Perbedaannya di penggunaan gondola. Kalau cuma mau berdua aja, ga mau diganggu sama orang lain, bayar yang harga couple itu. Tapi, kalau yang 50 rb ya harus ikhlas dicampur dengan orang lain. Trus untuk yang punya genk kalau mau genknya dalam 1 gondola, cukup bayar 350rb aja, dijamin gondola milik sendiri πŸ™‚

Tips untuk bisa berdua dengan tiket harga normal: lihat kondisi dan situasi. Kalau sepi, beli saja tiket normal. Toh, nanti juga bakal berdua aja dalam 1 gondola πŸ™‚ πŸ™‚

016 jsky

Perjalanan

Perjalanan mengelilingi bianglala dengan diameter 50 meter dan tinggi 69 meter ini memakan waktu sekitar 10 menit. Kita bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Opini pribadi, pemandangannya kurang asik karena kota yang terlihat flat semua, tidak ada bangunan yang mencolok, seperti bangunan tinggi yang menjulang atau bangunan yang berkelir yang jadi spotlight.

Kalau malam, pemandangan di luar seperti kita melihat pemandangan dari dalam pesawat terbang. Sejauh mata memandang titik-titik lampu dari gedung-gedung dan rumah-rumah. Hanya pas berada di posisi menjelang ke bawah, baru bisa terlihat bagusnya open air AEON, terlebih malam, pencahayaan mengikuti cahaya lampu yang dikeluarkan si bianglala ini.

Keren ya?

Lingkungan

Lingkungan sekitar bianglala bisa dibilang cozy. Adem. Entah ya kalau siang, mungkin panas karena open air.

Banyak spot untuk foto yang bisa instagramable. Para penggila selfie pasti seneng banget ke sini πŸ™‚

Yuk, rasakan titik ketinggian di dalam kapsul adem sambil menikmati kota Jakarta πŸ™‚

Kalau masih anteng di web sini, bisa mampir baca petualangan hunting Aurora di lingkar kutub utara yang dilakukan oleh solo woman traveler:

https://travel-jalan2.com/2015/12/25/sweden-part-2-antara-vaten-hallen-abisko-aurora-ice-hotel-dan-stockholm/

Atau mau tau seluk beluk printilan Umroh? Bisa langsung klik link ini:

https://travel-jalan2.com/2018/02/09/umroh-mandiri/

Yang domestik aja deh…

Banyak kok. Cek di sini ya…

https://travel-jalan2.com/2018/10/16/blood-moon-in-lombok-yang-indah-sebelum-gempa/

https://travel-jalan2.com/2018/05/21/goa-pawon-dan-stone-garden/

https://travel-jalan2.com/2018/05/21/malang-part-2/ (ada part-1 nya loh…)

https://travel-jalan2.com/2019/01/11/m-o-j-a/ (yang suka narsis abis)

https://travel-jalan2.com/2016/02/23/kafe-kucing-kemang-k3-cutie-cats-cafe-c3/ (buat pecinta kucing)